Refleksi Nalar Kebangsaan Melalui Karya Mochtar Lubis
Sumber Foto: ANTARA News
Telaah Nalar

Refleksi Nalar Kebangsaan Melalui Karya Mochtar Lubis

Surabaya - Pada tahun 1977, Mochtar Lubis, seorang sastrawan dan wartawan dari Lembaga Kantor Berita Negara (LKBN) ANTARA, menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pidato tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Manusia Indonesia", yang mencerminkan kompleksitas identitas bangsa Indonesia yang saat itu baru berusia 32 tahun.

Dalam karyanya, Mochtar Lubis menekankan bahwa meskipun mayoritas masyarakat Indonesia memiliki sifat-sifat yang beradab dan santun, ada sejumlah karakteristik yang perlu diperbaiki. Ia mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah mobil yang memerlukan pemeliharaan, mengingat beberapa bagian mungkin telah mengalami kerusakan.

Mochtar mencatat 12 sifat dasar manusia Indonesia yang perlu diperbaiki, antara lain: hipokritis, enggan bertanggung jawab, bersikap feodal, percaya pada takhayul, artistik, lemah watak, boros, cenderung malas bekerja keras, sering menggerutu, dengki, dan mudah meniru.

Pandangan Mochtar Lubis ini tetap relevan hingga kini, meskipun sudah hampir 48 tahun berlalu. Sifat-sifat yang ia sebutkan masih terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di media sosial yang sering memunculkan hujatan antar individu.

Konsep-konsep seperti "Revolusi Mental" dan "Bangsa Besar" sering kali muncul kembali dalam upaya membangkitkan semangat kebangsaan, namun belum mampu menyentuh akar permasalahan yang mendasar. Menurut Mochtar, penyelesaian akar persoalan kebangsaan dapat dilakukan melalui pemerataan pendidikan, yang juga ia tekankan dalam bukunya.

Mochtar Lubis berpendapat bahwa pendidikan, sistem sosial politik, dan struktur sosial merupakan latar belakang yang menyebabkan munculnya 12 sifat negatif tersebut. Oleh karena itu, solusi harus dicari di area tersebut, dengan fokus pada pendidikan yang menjunjung sikap reflektif dan kritis, serta struktur politik yang mengedepankan demokrasi dan terhindar dari praktik politik yang tidak sehat.