Pentingnya Literasi Keberagamaan dalam Melawan Radikalisme di Indonesia
Sumber Foto: ANTARA News Lampung
Telaah Nalar

Pentingnya Literasi Keberagamaan dalam Melawan Radikalisme di Indonesia

Ponorogo, Jawa Timur - Aktivis literasi dan Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Dr. Sutejo MHum, menekankan pentingnya literasi keberagamaan sebagai langkah strategis untuk melawan gerakan fundamentalisme, radikalisme, dan intoleransi beragama di Indonesia. Dalam peluncuran dua buku yang berjudul "Nalar Kritis Keberagamaan: Menguatkan Ruh dan Hakikat Beragama" serta "Berislam dengan Kemanusiaan: Telaah Teologis, Filosofis, dan Sosiologis Indonesia" di Ponorogo pada hari Minggu, Sutejo menyatakan harapannya agar gerakan literasi dapat menciptakan kebudayaan yang berkeadaban.

Dr. Sutejo, yang juga merupakan penggagas Sekolah Literasi Gratis (SLG) di STKIP PGRI Ponorogo dan mantan Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ponorogo, menjelaskan bahwa literasi merupakan kunci untuk memahami berbagai aspek kehidupan. "Literasi adalah jalan pemecahan atas persoalan hidup. Jika seseorang memiliki literasi keagamaan yang baik, mereka akan cenderung menjadi moderat. Sebaliknya, mereka yang radikal biasanya disebabkan oleh kurangnya literasi dan pemahaman yang sempit," ujarnya.

Dalam acara tersebut, Direktur Institut for Javanese Islam Research (IJIR), Akhol Firdaus, berperan sebagai pembedah buku dan menegaskan bahwa gerakan literasi memiliki misi profetik untuk membebaskan masyarakat dari kesadaran palsu yang sering muncul di era modern ini.

Ketua PC ISNU Ponorogo, Dr. Abid Rahmanu, mengungkapkan rasa syukurnya atas terbitnya dua buku tersebut, yang ia anggap sebagai simbol kemajuan intelektual generasi muda NU. "Inspirasi dari senior-senior seperti Sutejo dan Aksin Wijaya menjadi dinamo bagi gerakan ISNU. Karya-karya ini sebelumnya telah dipublikasikan di media online ISNU, Nyabtu.com, dan diharapkan dapat membumikan pesan Islam rahmatan lil 'alamin," katanya.