Menguatkan Nalar Kritis: IMM FKIP Unismuh Gelar Diskusi Tentang Literasi Digital
Sumber Foto: Kumparan.com
Telaah Nalar

Menguatkan Nalar Kritis: IMM FKIP Unismuh Gelar Diskusi Tentang Literasi Digital

Organisasi mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) mengadakan sebuah dialog tentang literasi digital. Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Dr. Hadisaputra, dan Pengurus DPD IMM Sulsel, Aqram Pamungkas Abadi. Diskusi ini dipandu oleh Pengurus IMM FKIP Unismuh, Nurul Faradilah.

Menurut Aidil Akbar Iskam, Ketua Pikom FKIP Unismuh, acara ini bertujuan untuk memperkuat fondasi intelektual dan nalar kritis kader melalui telaah filosofis terhadap literasi. Hal ini dianggap penting untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional serta menjadi benteng dalam menghadapi era pasca-kebenaran (post-truth).

Dialog ini merupakan langkah konkret dari organisasi mahasiswa dalam mencetak kader-kader terpelajar yang mampu berpikir kritis dan berpartisipasi aktif dalam transformasi sosial.

Konsep Literasi dari Perspektif Filsafat

Pemateri pertama, Aqram Pamungkas Abadi, memulai pembahasan dengan menjelaskan konsep literasi melalui tiga kerangka filsafat: Ontologi (hakikat), Epistemologi (cara mengetahui), dan Aksiologi (nilai). Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang literasi, yang tidak hanya terbatas pada aktivitas dasar membaca dan menulis.

Dari sisi ontologi, Aqram menjelaskan bahwa hakikat literasi, menurut kacamata teologis, merupakan fondasi kesadaran ilahiyah dan bagian dari ibadah intelektual. Ia merujuk pada ayat pertama Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu” (Iqra bismirabbik). Aqram menegaskan bahwa membaca tidak hanya merujuk pada teks, tetapi juga pada tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam peristiwa dan fenomena alam.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa setiap individu telah diberi potensi oleh Allah untuk meliterasi, melalui panca indera seperti penglihatan dan pendengaran. Jika potensi ini tidak digunakan untuk memahami kebesaran-Nya, maka Aqram mengingatkan bahwa manusia akan kehilangan makna.

Di sisi aksiologi, Aqram menyoroti pentingnya literasi bagi kader IMM agar dapat menjadi individu terpelajar yang berpikir kritis dan memiliki nilai-nilai profetis. Ia menyimpulkan bahwa literasi adalah fondasi bagi gerakan intelektual dan menjadi syarat mutlak untuk kader yang berkualitas.

Ancaman Nalar Kritis di Era Post-Truth

Pemateri kedua, Dr. Hadisaputra, melanjutkan diskusi dengan membahas ancaman kontemporer terhadap nalar kritis. Ia mengatakan bahwa di era post-truth, masyarakat cenderung lebih percaya pada emosi daripada fakta objektif, sehingga kebohongan sering kali dianggap sebagai “kebenaran alternatif.”

Dr. Hadisaputra menjelaskan mengapa informasi yang salah mudah menyebar. Penyebar hoax seringkali menyampaikan informasi yang sesuai dengan harapan atau keinginan emosional audiens. Hal ini diperparah dengan algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema, di mana pengguna hanya disajikan dengan konten yang mereka sukai.

Untuk melawan hoax, ia menekankan pentingnya peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi, atau High Order Thinking Skill (HOTS), yang mencakup analisis, evaluasi, dan kreasi. Ini kontras dengan kemampuan berpikir tingkat rendah seperti mengingat dan mengetahui.

Dr. Hadisaputra juga membahas teknik-teknik yang sering digunakan dalam era post-truth, seperti Argumentum ad Hominem dan Argumentum ad Infinitum, serta strategi Weaponization of Information, yang memanfaatkan informasi sebagai senjata.

Moderator dialog, Nurul Faradilah, menyimpulkan bahwa peran generasi muda, khususnya kader IMM, adalah sebagai penafsir yang dapat menginterpretasikan dunia dan mengoptimalkan akal mereka. Literasi yang matang menjadi motor penggerak bagi misi intelektual profetik IMM yang meliputi gerakan humanisasi, liberasi, dan transendensi.