Menggali Pemikiran Destruktif Ibn Warraq dalam Kritik Islam
Sumber Foto: Republika Online
Telaah Nalar

Menggali Pemikiran Destruktif Ibn Warraq dalam Kritik Islam

Fenomena kritik terhadap Islam yang menyebut agama ini sebagai destruktif telah muncul sejak awal sejarah Islam. Seiring berjalannya waktu, kritik ini semakin meningkat dan meluas, tidak hanya berasal dari kalangan non-Muslim, tetapi juga dari umat Islam sendiri.

Fahruddin Faiz, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyampaikan hal ini saat mempertahankan disertasinya yang berjudul "Konstruksi Nalar Destructive-Criticism tentang Islam: Studi Terhadap Pemikiran Ibn Warraq". Ia menjelaskan bahwa kritik Islam tidak hanya berasal dari modernis ateis dan orientalis, tetapi juga dari individu-individu Muslim yang merasa tidak puas dengan tafsir Alquran dan praktik keberagamaan.

Dalam disertasinya, Faiz mengidentifikasi Ibn Warraq sebagai salah satu pelopor pemikiran destructive-criticism. Ibn Warraq, yang telah meninggalkan Islam dan menjadi agnostis, dikenal melalui karya-karyanya yang tajam, salah satunya buku berjudul Why I Am Not A Muslim, yang berisi kritik-kritik terhadap Islam.

Faiz mengungkapkan dua fokus utama dalam penelitiannya. Pertama, ia menelusuri latar belakang historis munculnya pemikiran destructive-criticism melalui pendekatan hermeneutika. Kedua, ia menganalisis konstruksi pemikiran tersebut dengan pendekatan filsafat.

Hasil analisis Faiz menunjukkan bahwa pemikiran destructive-criticism yang dikembangkan oleh Ibn Warraq, pada dasarnya, merupakan bentuk neo-orientalisme. Ini adalah pengulangan ide-ide destruktif dari orientalis awal yang diperkuat dengan fakta dan argumen baru. Ibn Warraq membagi Islam ke dalam tiga kluster: (1) Islam pertama mengenai Alquran dan isinya, (2) Islam kedua mengenai Nabi Muhammad dan sunahnya, dan (3) Islam ketiga yang berkaitan dengan praktik keberagamaan umat Islam.

Masing-masing kluster ini mendapat kritik tajam dari Ibn Warraq. Ia mempertanyakan kebahasaan Alquran yang dianggap terpengaruh dari luar Islam, moralitas Nabi Muhammad, serta praktik keberagamaan yang dianggap destruktif oleh sebagian umat Islam.

Faiz juga menjelaskan bahwa pengalaman pribadi Ibn Warraq, seperti konflik antarmazhab di Pakistan, perbedaan pandangan antara keluarganya, serta pendidikan yang dogmatis, berkontribusi pada pandangannya yang kritis terhadap Islam. Pengalaman hidupnya di Barat, yang berbeda dengan latar belakangnya, semakin mendorongnya untuk membandingkan kedua dunia tersebut.

Peristiwa-peristiwa seperti fatwa mati untuk Salman Rushdie dan publikasi karikatur Nabi Muhammad di media, turut mempengaruhi opini Ibn Warraq tentang Islam. Selain itu, interaksinya dengan mantan Muslim lainnya yang mengkritisi Islam serta dukungannya terhadap kajian orientalis memperkuat aktivitas kritik yang dilakukannya.

Melalui disertasinya, Fahruddin Faiz berupaya memberikan pemahaman mendalam mengenai konstruksi nalar destruktif dalam kritik terhadap Islam yang dipelopori oleh Ibn Warraq.