Menelusuri Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Dari Definisi Teologi hingga Jejak Sejarahnya
Perbincangan tentang Tuhan terus hadir sebagai tema yang dianggap selalu segar dalam kajian keagamaan. Salah satu tokoh yang kerap ditempatkan dalam pusaran diskusi ini adalah Ibn ‘Arabi, yang oleh sebagian pembaca dinilai memiliki pengaruh luas hingga melintasi batas-batas ideologis, termasuk di lingkungan Sunni dan Syi’ah. Dalam catatan Mohammad Fayyad (2012), pengaruh Ibn ‘Arabi bahkan disebut sebagai salah satu yang paling menonjol dalam rentang sepuluh abad terakhir, dengan perbandingan terhadap dominasi pemikiran Al-Ghazali.
Di kalangan pembacanya, Ibn ‘Arabi juga dipahami sebagai pemikir yang melahirkan gagasan ketuhanan bernuansa negasi dan negatifitas. Sejumlah pembacaan akademik menempatkannya sejajar dengan tokoh-tokoh yang kerap dikaitkan dengan tradisi “teologi negatif”, seperti Meister Eckhart dalam telaah Michael A. Sells, atau Jacques Derrida dalam pembacaan Ian Almond. Dari titik ini, teologi negatif kemudian kerap dianggap identik dengan corak pemikiran Ibn ‘Arabi.
Menurut Fayyad (2012), pengaitan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Salah satu latar yang disebut adalah pengalaman personal Ibn ‘Arabi dalam menempuh jalan spiritual yang digambarkan terjal, tidak linear, dan berliku. Dalam pencarian rasa kehambaan kepada Tuhan, ia disebut sampai pada pilihan “diam”. Momen-momen yang dibaca sebagai “negatif” inilah yang oleh sebagian pembacanya dipandang sebagai pijakan awal menuju teologi negatif yang dini dan orisinal.
Mendefinisikan teologi
Pembahasan teologi menjadi penting untuk memahami konteks teologi negatif. Dalam uraian yang dirujuk dari Fayyad (2012), teologi dapat dibagi ke dalam dua pengertian.
Teologi sebagai rumusan sistem keyakinan, yang bersifat historis dan kontekstual. Historis karena lahir dalam ruang kesejarahan tertentu, misalnya peristiwa tahkim dalam Islam yang kemudian memunculkan diskursus kalam. Kontekstual karena disituasikan oleh peristiwa tertentu yang berwatak historis. Dalam pengertian ini, teologi dipahami sebagai seperangkat doktrin yang diyakini dan dijalankan pemeluk agama.
Teologi sebagai kajian, yakni diskursus filosofis tentang konsep ketuhanan. Teologi dipandang sebagai kumpulan wacana yang berkembang melalui studi, telaah, serta pendekatan konseptual tentang Tuhan.
Dari dua model tersebut, teologi sebagai rumusan keyakinan disebut lebih sering dijumpai, meski dinilai kurang kritis dalam memaknai teologi. Karena itu, teologi didorong untuk dibawa ke ranah kajian—memahami teologi melalui telaah dan nalar kritis.
Dalam kerangka pertanyaan mendasar tentang “apa itu teologi pada dirinya sendiri”, Fayyad (2012) merumuskan beberapa substansi yang dapat ditarik dari esensi teologi.
Pertama, teologi berbicara tentang Tuhan. Meski tema teologi dapat mencakup iman, dosa, kenabian, surga, dan neraka, inti pembicaraan tersebut tetap bermuara pada konteks ketuhanan.
Kedua, karena Tuhan menjadi subjek paling fundamental, maka pengetahuan dan wacana menjadi medium yang memungkinkan manusia menelaah Tuhan secara rinci dalam disiplin keilmuan.
Ketiga, teologi berurusan dengan transendentalitas objeknya. Tuhan dipandang sebagai yang maha gaib, sehingga membicarakan-Nya berarti membahas sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia—misterius sekaligus “maha tampak”. Pada titik ini, teologi memiliki pola yang mirip dengan filsafat karena sama-sama membahas yang transenden, meski tujuan teologi disebut mengarah pada puncak keimanan, sementara filsafat mengejar pengetahuan itu sendiri.
Dari rangkaian itu, Fayyad (2012) menarik definisi yang ringkas: teologi adalah “wacana tentang Tuhan sebagai yang-Transenden”.
Teologi negatif dalam kesejarahan
Dalam pembacaan Fayyad (2012), embrio teologi negatif disebut telah ada sejak zaman para nabi. Setiap nabi yang membawa agama wahyu baru, meski secara tersirat, dinilai memiliki corak yang sejalan dengan teologi negatif. Jalan yang ditempuh digambarkan tidak mudah, sering berhadapan dengan kejanggalan dan momen-momen negatif, namun berujung pada perjumpaan dengan Dzat Yang Maha Agung.
Salah satu contoh yang diangkat adalah kisah Ibrahim. Dalam narasi yang termaktub dalam Al-Qur’an, Ibrahim digambarkan mencari Tuhan melalui pengamatan bintang dan seterusnya, tetapi yang ditemui justru kejanggalan-kejanggalan. Ibrahim tidak dapat menerima apa yang ditemukannya sebagai Tuhan. Sementara dalam kisah dalam Perjanjian Lama, diceritakan bahwa ia dapat bertemu Tuhan secara vis a vis, namun realitas Tuhan itu sendiri tidak dapat ditangkap oleh mata, sehingga Ibrahim hanya bersujud di hadapan Dzat Yang Maha Agung.
Dari kisah Ibrahim tersebut, Fayyad (2012) menyimpulkan dua gagasan yang dikaitkan dengan teologi negatif.
Pertama, ketidaktahuan tentang Tuhan dipandang sebagai dasar keimanan sejati. Ibrahim disebut tidak berangkat dari pengetahuan tentang Tuhan, melainkan dari “ketidaktahuan” yang menghantarkannya pada perjumpaan dengan Tuhan.
Kedua, Tuhan dipahami sebagai realitas yang ghaib dari pandangan mata. Karena itu, Tuhan merupakan realitas yang “negatif” untuk dipersepsikan; beriman kepada-Nya berarti beriman dalam “kebutaan” tentang-Nya.
Dengan menilik akar kesejarahan tersebut, teologi negatif dipandang telah lama hadir dalam tradisi religius. Memunculkannya kembali disebut sebagai upaya afirmasi pentingnya melestarikan wacana ini, yang dinilai memperkaya dinamika khazanah keislaman.




