Menelusuri Pemahaman Manifestasi Tuhan dalam Pemikiran Rumi
Jakarta - Jalaluddin Rumi, seorang mistikus Islam yang terkenal, memiliki pandangan mendalam mengenai keesaan Tuhan atau tauhid. Menurut Rumi, semua yang ada di alam semesta adalah manifestasi atau pengejawantahan dari Tuhan. Dalam karya sastranya yang berjudul "Fihi ma Fihi", Rumi menyatakan bahwa Allah tidak terwujud dalam bentuk yang dapat dipahami manusia, tetapi meliputi seluruh wujud yang ada.
Konsep ini sejalan dengan pandangan masyarakat Jawa yang mengatakan, "Gusti Allah ora maujud, nanging nglimputi sakehing wujud," yang berarti Tuhan tidak dapat dilihat, tetapi ada di dalam segala sesuatu. Rumi menekankan bahwa gambaran manusia tentang Tuhan tidaklah tepat. "Apa pun bayangan Anda tentang Tuhan, Ia berbeda dengan itu," ujar Rumi, menegaskan bahwa Tuhan berada di luar pemahaman akal manusia.
Dalam konteks ini, Ki Narto Sabdo, seorang dalang asal Klaten, Jawa Tengah, menggambarkan kerumitan memahami manifestasi Tuhan melalui guyonan antara punakawan Petruk dan cantrik Begawan Abiyasa. Melalui cangkriman tersebut, ia menegaskan bahwa bayangan bukanlah eksistensi yang sebenarnya.
Rumi juga berpendapat bahwa segala pemahaman manusia tentang Tuhan adalah bagian dari penciptaan-Nya. "Apa pun pemahaman Anda tentang Tuhan, Dia mesti seperti itu, karena Tuhan adalah pencipta semua pemahaman itu," ujarnya. Ia percaya bahwa makhluk Allah meskipun berbeda dengan-Nya, tetap merupakan bagian dari-Nya.
Dalam pandangan Rumi, orang beriman harus memanifestasikan iman dan memberikan kesaksian positif tentang eksistensi Tuhan. Bahkan, penolakan oleh kaum atheis terhadap Tuhan juga dapat dianggap sebagai manifestasi dari keberadaan Tuhan itu sendiri. Rumi menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia adalah bagian dari sunnatullah atau hukum Allah, yang menciptakan keseimbangan antara baik dan buruk.
Rumi percaya bahwa kehadiran keburukan, seperti korupsi, justru memberi kesempatan pada individu untuk berbuat baik dan memperbaiki keadaan. Dalam konteks ini, Rumi mengaitkan ajaran Islam tentang puasa sebagai cara untuk melatih pengendalian hawa nafsu. Menurutnya, puasa mengajarkan manusia untuk mengendalikan nafsu pada waktu tertentu, dan hal-hal yang sebelumnya diperbolehkan menjadi terlarang untuk sementara waktu.
Rumi juga merujuk pada Al Quran, Surat Yunus, ayat 99, yang menjelaskan bahwa kepercayaan seseorang adalah atas kehendak Allah. Dalam hal ini, upaya untuk mengubah keyakinan seseorang tidak akan berhasil jika Allah tidak menghendaki. Sebaliknya, jika Allah telah menentukan, segalanya akan menjadi lebih mudah.
Beberapa guru agama memberikan nasihat agar tidak terlalu bingung dengan pemahaman yang rumit tentang Tuhan. Mereka menyarankan untuk mematuhi Rukun Iman dan Rukun Islam, yang menjadi dasar ajaran agama. Rukun Iman meliputi keyakinan terhadap Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab, qadar, dan hari kiamat, sedangkan Rukun Islam mencakup syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji.
Kaum sufi, dengan cara mereka sendiri, meyakini bahwa Allah adalah "Perbendaharaan Tersembunyi" yang menciptakan makhluk agar mereka mengenal-Nya. Ini merujuk pada Surat Adz Dzariyaat yang menyatakan bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk menyembah-Nya. Pemikiran Rumi tentang manifestasi Tuhan merupakan ajakan untuk merenungkan dan memahami esensi keberadaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.




