Membaca Ulang Kritik Saut Situmorang atas Sastra dan Film
Buku Sastra dan Film: Sebuah Esai memuat kumpulan tulisan Saut Situmorang yang berupaya menawarkan pemahaman mendalam sekaligus pemaknaan komprehensif atas isu-isu sastra dan film. Sebagai penulis yang kerap melontarkan kritik, Saut menyoroti berbagai karut-marut yang ia lihat dalam dua ranah tersebut, dengan gaya bahasa yang lugas dan terang-terangan.
Kekuatan esai-esai dalam buku ini disebut terletak pada analisis yang mendalam. Melalui pembacaan yang mereduksi konteks sastra yang kerap disalahpahami, tulisan-tulisan Saut diposisikan sebagai bahan renungan yang dapat ditelaah kembali dalam cakupan yang lebih luas.
Dua bagian: kritik sastra dan telaah film
Kumpulan esai ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berfokus pada kritik sastra, sementara bagian kedua membahas film dengan sudut pandang yang disebut berbeda dari kebanyakan orang. Secara keseluruhan, esai-esai tersebut digambarkan seperti peta penunjuk jalan yang dilengkapi instrumen pelengkap agar pembaca memperoleh pemahaman lebih utuh tentang dunia sastra dan film.
Penolakan terhadap “puisi esai” dan polemik kanon
Di bagian kritik sastra, salah satu tulisan yang disorot adalah esai berjudul “Angkatan Puisi Esai Pra-Bayar Denny JA” (halaman 27–39). Dalam esai itu, Saut menyatakan penolakan tegas terhadap angkatan puisi esai yang digagas Denny JA dan kawan-kawan. Ia menilai Denny JA awam terhadap sastra dan mengkritik pemahaman yang ia sebut “setengah-setengah” atas teori genre David Fishelov serta pemahaman manipulatif terhadap teori Thomas Kuhn. Saut juga menyebut angkatan puisi esai tidak lebih dari sekumpulan orang yang menulis karena mendapat uang pra-bayar.
Selain itu, Saut menyampaikan kritik melalui sejumlah esai lain, di antaranya “Kanon Sastra dan Politik Pembentukannya: Sebuah Tanggapan Atas Esha Tegar Putra”, “Max Havelaar: Buku Yang Membunuh Kolonialisme”, “Avant-Garde”, dan “Sejarah Sastra Selayang Pandang”. Esai-esai tersebut dipaparkan sebagai representasi literer atas isu dan dinamika dunia sastra yang kerap menjadi polemik.
Ambiguitas istilah “sejarah sastra”
Buku ini juga diposisikan sebagai ruang diskusi publik antara pembaca dan Saut untuk menyoroti iklim “salah pemahaman” atas beberapa konteks sastra. Salah satu contoh yang diangkat adalah istilah “sejarah sastra” yang disebut mengandung ambiguitas makna.
Menurut pemahaman Saut, di satu sisi “sejarah sastra” merujuk pada sejarah imanen atau intrinsik sastra. Namun di sisi lain, istilah tersebut juga merujuk pada praktik kritis yang tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas sejarah sastra, melainkan berhubungan dengan sastra sebagai kumpulan tulisan atau karangan sejarah—sebuah jalinan peristiwa (halaman 14).
Max Havelaar dan tanggapan atas Pramoedya
Dalam esai mengenai Max Havelaar, Saut mengulas apa yang ia sebut sebagai kontradiksi tulisan Pramoedya Ananta Toer yang merepresentasikan Max Havelaar sebagai buku yang “membunuh kolonialisme”. Saut berpendapat Max Havelaar bukan protes terhadap pemerintahan kolonial yang bertindak kelewat batas, melainkan protes terhadap pemerintah kolonial yang dianggap kurang keras dalam menerapkan kebijakan-kebijakannya (halaman 86).
Subjektivitas dalam polemik kanon
Dalam tanggapannya atas Esha Tegar Putra, Saut mengambil sudut pandang subjektif, termasuk menyinggung absennya penyebutan nama Saut Situmorang dan esainya tentang politik kanon sastra di Indonesia. Ia menilai esai Esha Tegar Putra sebagai contoh politik kanon sastra yang, disadari atau tidak, justru dilakukan dengan ironi. Meski demikian, premis yang disampaikan Saut disebut tetap menghadirkan logika yang dapat mengajak pembaca mengikuti cara pandangnya.
Bagian film: kritik atas sinema Indonesia dan “Bumi Manusia”
Di bagian kedua, Saut mengulas film—sebagian besar tentang film Indonesia. Ia menyebut sinema Indonesia sebagai produk khayalan yang murni hayalan. Dalam pandangannya, film yang semestinya membuat penonton sadar akan keberadaan kamera justru membuat lupa, sehingga menonton film tidak ada bedanya dengan mendengar radio.
Saut juga melontarkan kritik keras terhadap film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo. Ia menyebut ada tiga hal yang membuat film tersebut mengecewakan:
- tokoh Minke dipanggil Tirto oleh tokoh lain,
- adegan penting dalam novel Bumi Manusia justru dilewatkan,
- ketidakpedulian pada akurasi historis dari setting filmnya.
Merawat nalar kritis
Secara umum, buku ini membicarakan sastra dan film sebagai bidang yang dapat kehilangan nalar kritis apabila dimaknai secara “telanjang”. Melalui esai-esainya, Saut menawarkan pemahaman komprehensif yang memadukan sisi objektif sekaligus subjektif, seraya menyoroti berbagai persoalan yang dinilai luput dari telaah kritis.
Esai-esai dalam buku ini juga disebut diperkuat oleh rujukan dan pendapat pemikir sastra dunia, sehingga tidak berdiri sendiri. Pada akhirnya, kumpulan tulisan tersebut dipresentasikan sebagai upaya Saut Situmorang menegaskan sikapnya sekaligus mengingatkan pembaca agar tidak mudah salah tafsir, baik dalam membaca realitas sastra maupun film.




