Diskusi Buku 'Islam & Teologi Pembebasan' di Blitar: Menggugat Ketidakadilan Sosial
Blitar, serayunusantara.com — Suasana santai di Kedai Kopi Satu Rasa berubah menjadi forum diskusi yang mendalam pada Rabu malam, 4 Maret 2026. Komunitas literasi Lapak Baca Ceria mengadakan kajian buku berjudul 'Islam & Teologi Pembebasan', yang membahas peran agama dalam perlawanan terhadap penindasan sosial.
Diskusi tersebut dipimpin oleh Zainal Arifin sebagai pemantik, dengan Bima bertindak sebagai moderator. Dalam sesi ini, Zainal Arifin menjelaskan bagaimana nilai-nilai spiritual dalam Islam dapat berfungsi sebagai pendorong untuk membebaskan kelompok-kelompok yang terpinggirkan, atau yang sering disebut mustad'afin.
Menurut Zainal, teologi seharusnya tidak hanya terikat pada ritual dan aspek spiritual semata. Ia menekankan pentingnya tindakan nyata dalam melawan ketidakadilan struktural. "Teologi tidak boleh berhenti di langit; ia harus membumi dan berkontribusi dalam aksi melawan ketidakadilan," ujarnya.
Zainal, yang juga merupakan anggota aktif Lapak Baca Ceria, menekankan bahwa agama seharusnya tidak digunakan untuk membenarkan kekuasaan yang zalim. Ia mengajak peserta untuk mempertanyakan makna pembelajaran agama yang tidak mengangkat isu kemiskinan dan pelanggaran hak. "Islam hadir bukan untuk melegitimasi kekuasaan yang zalim, melainkan untuk meruntuhkannya," tegasnya.
Reyda Hafis, koordinator Lapak Baca Ceria, menjelaskan bahwa tema diskusi ini diangkat sebagai respon terhadap kondisi sosial saat ini yang semakin jauh dari prinsip-prinsip kemanusiaan. "Kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak apatis. Diskusi ini adalah upaya kita untuk merawat nalar kritis di tengah gempuran pragmatisme zaman," ujarnya.
Acara diskusi yang berlangsung hingga larut malam tersebut tidak hanya diisi dengan pemaparan materi, tetapi juga sesi tanya jawab yang kritis mengenai relevansi teologi pembebasan dalam konteks lokal Blitar. Kegiatan ini diakhiri dengan sesi baca bersama serta penegasan posisi Lapak Baca Ceria sebagai ruang alternatif untuk gerakan intelektual di daerah tersebut.




