Dialog Pendidikan IMM FKIP Unismuh: Penguatan Literasi Digital dan Nalar Kritis di Era Post-Truth
Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi tuan rumah bagi dialog pendidikan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Pikom IMM FKIP). Acara yang mengusung tema ‘Penguatan Literasi Intelektual: Menumbuhkan Nalar Kritis Menuju IMM FKIP Inklusif’ ini berlangsung pada Kamis, 27 November 2025, di Mini Hall FKIP Unismuh.
Dialog ini menghadirkan berbagai narasumber, termasuk Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Dr. Hadisaputra, dan Pengurus DPD IMM Sulsel, Aqram Pamungkas Abadi. Acara ini dipandu oleh Nurul Faradilah dari IMM FKIP Unismuh.
Aidil Akbar Iskam, Ketua Pikom FKIP Unismuh, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat fondasi intelektual dan mendorong nalar kritis kader IMM. Ia menekankan pentingnya telaah filosofis terhadap literasi sebagai dasar peningkatan mutu pendidikan nasional serta sebagai benteng menghadapi era pasca-kebenaran.
Pemaparan Konsep Literasi oleh Aqram Pamungkas Abadi
Pemateri pertama, Aqram Pamungkas Abadi, mempresentasikan konsep literasi melalui tiga kerangka filsafat: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Menurutnya, pemahaman literasi tidak seharusnya terbatas pada aktivitas membaca dan menulis saja.
- Ontologi: Aqram menjelaskan bahwa hakikat literasi dalam perspektif teologis adalah fondasi bagi kesadaran ilahiyah. Ia mengutip ayat pertama Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk membaca dalam nama Tuhan, menyatakan bahwa aktivitas literasi harus dilandasi dengan niat ibadah.
- Aksiologi: Ia menekankan bahwa kader IMM perlu menjadi individu terpelajar yang mampu berpikir kritis dan memiliki nilai profetis, dengan literasi sebagai dasar gerakan intelektual mereka.
Aqram memperingatkan bahwa jika tradisi literasi dalam IMM FKIP tidak dijaga, organisasi tersebut berisiko mengalami kemunduran.
Ancaman terhadap Nalar Kritis oleh Dr. Hadisaputra
Pemateri kedua, Dr. Hadisaputra, mengangkat isu kontemporer yang mengancam nalar kritis, terutama di Era Post-Truth. Ia menyebutkan bahwa pada masa ini, banyak orang lebih mempercayai emosi daripada fakta objektif, dengan kebohongan yang dianggap sebagai “kebenaran alternatif.”
Dr. Hadisaputra menjelaskan bahwa penyebaran hoax dipicu oleh informasi yang sesuai dengan harapan atau keinginan emosional audiens. Ia juga menyoroti bagaimana algoritma media sosial menciptakan echo chambers yang memperparah situasi ini.
Untuk melawan hoax, ia menekankan pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills/HOTS), yang mencakup analisis, evaluasi, dan kreasi, sebagai lawan dari sekadar mengingat dan menerapkan informasi.
Kesimpulan Moderator
Moderator dialog ini menekankan bahwa generasi muda, khususnya kader IMM, memiliki peran penting sebagai penafsir yang mampu menginterpretasikan dunia. Literasi yang matang diharapkan menjadi motor penggerak bagi misi intelektual profetik IMM, yang mencakup gerakan humanisasi, liberasi, dan transendensi.




