Buku ‘Ketika Santri Membaca Sang Proklamator’ Menawarkan Cara Baca Baru atas Nalar Soekarno
Sumber Foto: BincangSyariah
Telaah Nalar

Buku ‘Ketika Santri Membaca Sang Proklamator’ Menawarkan Cara Baca Baru atas Nalar Soekarno

Penulisan tentang Soekarno terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, banyaknya buku, artikel, dan karya mengenai sang proklamator dinilai belum selalu diikuti upaya untuk menelusuri poros gagasan, ide, dan nalar Soekarno secara lebih mendalam. Akibatnya, di tengah melimpahnya literatur, pertanyaan tentang karya mana yang paling representatif untuk memahami Soekarno kerap tetap mengemuka.

Dalam pandangan ini, historiografi Soekarno masih sering tampil sebagai rangkaian data parsial dan kronologis, serta kerap dibingkai oleh asumsi dikotomistik atau kontroversi yang dianggap “laku” dibicarakan—mulai dari politik hingga aspek kehidupan personal. Model pembacaan yang dominan pun dinilai masih konvensional: menempatkan Soekarno dalam peta sejarah yang berurutan dan diperlakukan terutama sebagai sejarah ide-ide.

Upaya melepas cara baca lama

Melalui buku yang ditulis Hilmy Firdausy, penulis berupaya melepaskan diri dari cara baca yang disebutnya telah menjadi “zona nyaman”. Sasaran utamanya adalah “organ-organ utama” dalam anatomi nalar Soekarno—yang dipahami sebagai dinamo bagi ide, gagasan, dan aksi Soekarno.

Hilmy menyebut cara kerja nalar itu mirip dengan cara kerja mimpi, yang melampaui sekat ruang dan waktu. Dari asumsi tersebut, ia menawarkan model pembacaan baru untuk menelusuri persinggungan diakronik dalam nalar Soekarno.

Naskah yang dijadikan sampel

Untuk membaca nalar Soekarno, Hilmy memilih beberapa naskah sebagai sampel utama, yakni Mentjapai Indonesia Merdeka, Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme, serta Surat-Surat Islam dari Endeh. Ia juga menggunakan naskah lain sebagai data interteks untuk memperkuat temuan, serta memanfaatkan pidato, cerita, dan anekdot sebagai bahan sekunder.

Islamisme sebagai problem besar

Setelah membaca naskah-naskah tersebut secara struktural—cara baca yang disebutnya dipelajari dari tradisi pesantren di desa-desa—Hilmy mengaku menemukan fenomena yang membantu menjelaskan banyak hal tentang Soekarno. Dalam upaya mengintegrasikan tiga ideologi, ia menilai Islamisme menjadi pekerjaan rumah terbesar dan problem utama bagi Soekarno dibanding dua ideologi lainnya. Hal itu, menurutnya, terus diupayakan untuk “ditambal dan disempurnakan” sepanjang hidup Soekarno.

Hilmy juga menilai sikap membaca Soekarno terhadap Islamisme berbeda jauh dari kritisisme yang biasa diperlihatkan Soekarno ketika membaca Marxisme dan Nasionalisme.

Kedekatan dengan pesantren

Dari celah pembacaan tersebut, Hilmy menyimpulkan hubungan Soekarno dengan kalangan pesantren bukan semata strategi politik, melainkan juga bersifat ideologis, subyektif, dan personal. Kedekatan itu, menurutnya, membuat Soekarno perlahan mengisi diri, mengambil inspirasi, sekaligus memperkental gagasannya tentang bangsa.

Dalam sejarah, hal itu dipandang dapat terlihat dari intensitas hubungan Soekarno dengan kaum pergerakan yang berasal dari pesantren.

Naskah Soekarno dibaca seperti kitab

Pada bagian akhir, Hilmy menyatakan dirinya memahami mengapa naskah Soekarno dibaca layaknya kitab kuning di desa-desa, khususnya di kalangan santri dan kaum pergerakan Islam. Ia berpendapat naskah Soekarno semestinya tetap dibaca oleh kaum santri dan diperlakukan seperti kitab-kitab rujukan lain, karena dari sana “api revolusi Marhaenisme” dinilai dapat terus terpercik.

  • Artikel ini merangkum pokok gagasan dalam resensi buku Soekarno Studies: Ketika Santri Membaca Sang Proklamator.