Zuckerberg Hadapi Gugatan Terkait Kecanduan Remaja di Instagram
Sumber Foto: Liputan6.com
Hukum

Zuckerberg Hadapi Gugatan Terkait Kecanduan Remaja di Instagram

Liputan6.com, Jakarta - Mark Zuckerberg kembali menjadi sorotan dan harus duduk di “kursi panas” persidangan, di mana CEO Meta itu harus menjawab tudingan Instagram sengaja dirancang membuat pengguna remaja, termasuk anak-anak kecanduan media sosial (medsos).

Persidangan yang digelar di Los Angeles Superior Court pada Rabu, 18 Februari 2026, waktu setempat tersebut disebut sebagai salah satu perkara paling penting yang pernah dihadapi oleh Meta.

Ribuan gugatan serupa masih berjalan di berbagai pengadilan Amerika Serikat. Keluarga korban, jaksa negara bagian, hingga distrik sekolah menuding platform medsos seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan Snapchat membuat anak kecanduan.

Dilansir BBC, Mark Lanier, pengacara penggugat, membeberkan berbagai dokumen internal Meta, mulai dari email, hasil riset, dan presentasi lama perusahaan ditampilkan di hadapan juri.

Salah satu email yang dijadikan barang bukti adalah dari tahun 2015, di mana Mark Zuckerberg menyebut target peningkatan waktu penggunaan sebesar 12 persen serta membalikkan tren penurunan pengguna remaja.

Dokumen lain pada 2017, di mana menyatakan Zuckerberg telah memutuskan remaja sebagai prioritas utama perusahaan.

Lanier juga menyoroti laporan riset eksternal tahun 2019 yang dilakukan untuk Instagram. Laporan tersebut menyebut remaja merasa “terikat meski tahu dampaknya terhadap diri mereka” dan memiliki “narasi layaknya pecandu tentang penggunaan Instagram mereka.”

Menanggapi runutan bukti berisi email hingga laporan riset, Zuckerberg mengatakan, riset tersebut tidak dilakukan langsung oleh Meta. Saat ditekan soal isi dokumen, bos Facebook ini menilai pengacara telah keliru menggambarkan konteks komunikasi internal.

“Anda salah menggambarkan apa yang saya maksud,” kata Zuckerberg di ruang sidang. “Saya tidak heran jika secara internal ada yang mempelajari hal ini.”

CEO Meta Mark Zuckerberg Bela Instagram

Raksasa medsos tersebut selama ini sudah melarang pengguna di bawah usia 13 tahun. Namun, bukti email tahun 2019 dari Nick Clegg, yang saat itu menjabat sebagai kepala urusan global Meta, sempat mengkritis pembatasan usia tidak ditegakkan secara konsisten.

Suami Priscilla Chan tersebut mengaku menyesal tidak bergerak cepat dalam mengidentifikasi pengguna di bawah 13 tahun, dan menyebut perusahaan akhirnya berada di jalur tepat dengan berjalannya waktu.

Persidangan turut mengulas fitur pembatas waktu yang dirilis Instagram pada 2018. Saat diluncurkan, fitur ini memungkinkan pengguna mengatur batas akses harian, menerima pengingat waktu penggunaan, dan bisa mematikan notifikasi saat malam hari.

Namun, dokumen internal mengungkap hanya 1,1 persen pengguna remaja yang mengaktifkan batas penggunaan harian tersebut.

Saat ditanya soal kemungkinan kecanduan, bos Meta ini hanya mengatakan, “Jika sesuatu bernilai, orang akan menggunakannya lebih banyak karena itu bermanfaat bagi mereka.”

Pembelaan Mark ini langsung dibalas oleh pengacara dengan menyebut, “orang yang kecanduan juga cenderung meningkatkan penggunaan.”

“Saya tidak tahu harus menjawab apa,” ujar Zuckerberg. “Mungkin itu benar, tetapi saya tidak tahu apakah itu berlaku dalam konteks ini.” Suasana sidang semakin terasa emosional.

Dihadiri Orang Tua Korban

Perbesar

K.G.M, penggugat utama mulai menggunakan Instagram saat berusia sembilan tahun, duduk tepat di seberang Zuckerberg. Sejumlah orang tua korban pun juga hadir di ruang sidang.

Tak hanya berhenti di dalam ruang sidang, Mark Zuckerberg juga dicecar berbagai pertanyaan berbagai pertanyaan dari pihak keluarga yang minta tanggung jawab perusahaan atas kejadian menimpa mereka.

“Platform ini bisa berubah,” katanya. “Tidak butuh waktu lama untuk mengubah algoritma agar anak-anak tidak sampai mengakhiri hidupnya. Apakah itu sulit dilakukan, Tuan Zuckerberg?”

Sidang ini menjadi ujian besar bagi Meta. Bagi banyak keluarga, perkara ini menyangkut keselamatan anak-anak mereka di ruang digital.