Survei LSI: 11 Isu Unggulkan Jokowi-Ma'ruf di Pilpres
Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei selama dua bulan masa kampanye Pilpres 2019. Survei kali ini menyangkut pertarungan program dan isu selama masa kampanye.
Survei tersebut dilakukan dari 10 hingga 19 November 2018 dengan metode multistage random sampling. Survei dilakukan dengan responden sebanyak 1.200 orang dengan margin of error sebesar 2,9 persen.
Survei tersebut mencatat 14 isu populer yang memberikan pengaruh elektoral secara signifikan kepada kedua pasangan capres-cawapres. Ke-14 isu tersebut yakni:
1. Penyelenggaraan Asian Games
2. Kunjungan Jokowi ke korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah
3. Kunjungan Jokowi ke korban gempa Lombok
4. Hoaks Ratna Sarumpaet
5. Dolar AS Rp 15 ribu
6. Pembakaran bendera HTI
7. Tampang Boyolali
8. Kunjungan Prabowo ke korban gempa Lombok
9. Rapat tahunan IMF
10. Prabowo tidak akan impor
11. The New Prabowo
12. Dana bantuan Rp 2 miliar dari IMF untuk korban bencana
13. Politik Sontoloyo
14. Yusril Ihza Mahendra tim kuasa hukum Jokowi-Ma’ruf
“Dari 14 isu itu, sebanyak 11 isu memberikan surplus elektoral untuk pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin,” kata Peneliti Senior LSI Denny JA Rully Akbar saat memaparkan hasil survei, di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Pusat, Kamis (6/12).
“Sedangkan terdapat 3 isu populer yang memberikan surplus elektoral kepada pasangan Prabowo-Sandi,” imbuhnya.
Rully melanjutkan, isu yang paling signifikan memberikan surplus elektoral kepada pasangan nomor urut 01 itu adalah kunjungan Jokowi ke korban gempa dan tsunami Palu. Dampak dari kunjungan Jokowi itu memberikan surplus elektoral 33,3 persen.
“Kemudian disusul oleh isu penyelenggaraan Asian Games 2018 dengan surplus 12,4 persen serta kunjungan Jokowi ke korban gempa Lombok 13,6 persen dan hoaks Ratna Sarumpaet 13,4 persen,” ujar Rully.
Sedangkan, 3 isu yang memberikan tambahan elektoral kepada Prabowo-Sandi yaitu terkait kunjungan Prabowo ke korban gempa Lombok dengan surplus 15,2 persen.
“Kemudian pembakaran bendera HTI dengan surplus 2,8 persen dan isu Dolar AS Rp 15 ribu sebesar 2,2 persen,” ucapnya.
Sementara khusus penyelenggaran Asian Games, kata Rully, isu tersebut diketahui oleh 85.1% pemilih, namun memiliki efek yang berbeda terhadap kedua capres.
"Penyelenggaran Asian Games membuat 36.4 persen pemilih yang tahu program tersebut akhirnya lebih mendukung Jokowi‐Ma'ruf. Sementara 24 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo-‐Sandi. Artinya untuk isu ini, Jokowi-Ma'ruf surplus 12.4 persen dari Prabowo‐Sandi," jelas Rully.
Adapun untuk isu kunjungan Jokowi ke korban gempa dan tsunami Palu juga membuat adanya surplus sentimen positif terhadap Jokowi. Sehingga pemilih yang mengetahui isu ini sebesar 49.4 persen menyatakan lebih mendukung Jokowi-Ma'ruf. Sementara sebesar 16,1 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo-Sandi, artinya Jokowi‐Ma'ruf memiliki surplus 33,3 persen dari isu ini.
Sedangkan isu dolar AS Rp 15.000 juga mempunyai efek yang berbeda kepada kedua capres. Dari pemilih yang mengetahui isu ini, sebesar 16,3 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo‐Sandi. Dan sebesar 14,1% menyatakan mendukung Jokowi‐Ma'ruf.
"Dalam isu ini Prabowo‐Sandi mengalami surplus sebesar 2.2 persen," ucap Rully.
Isu terakhir yang menarik bagi pemilih yakni pembakaran bendera berlafal tauhid. Isu pembakaran tersebut diketahui oleh 53,7 persen pemilih. Dari isu ini sebesar 10 persen menyatakan mendukung Jokowi‐Ma'ruf dan sebesar 12,8 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo‐Sandi.
"Artinya Prabowo‐Sandi mengalami surplus positif di isu ini sebesar 2,8 persen. Kasus pembakaran bendera berlafal tauhid/HTI ini paling banyak memberikan surplus isu positif terhadap Prabowo‐Sandi di media sosial," pungkasnya.



