PSI Tantang Dominasi PDI-P di Jawa Tengah dan Bali
JAKARTA, KOMPAS.com - Istilah “kandang” kembali ramai dibicarakan setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara terbuka menantang dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Jawa Tengah dan Bali.
Dua provinsi ini bertahun-tahun dikenal sebagai basis elektoral kuat partai berlambang banteng moncong putih.
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep bahkan menyerukan perubahan wilayah yang selama ini dikenal dengan “ Kandang Banteng ” menjadi “ Kandang Gajah ” dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PSI Jawa Tengah, di Solo, Kamis (8/1/2026).
Seruan serupa disampaikan Ketua Harian PSI Ahmad Ali kepada kader PSI Bali supaya menjadikan Pulau Dewata sebagai “kandang” gajah dengan memperkuat dan merawat budaya lokal.
Namun, seberapa jauh istilah “kandang” memiliki makna dalam politik elektoral?
PSI Berambisi Goyang ”Kandang Banteng”, Ini Jawaban PDI-P...
Artikel Kompas.id
Kandang sebagai basis elektoral
Direktur Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menjelaskan, istilah “kandang” dalam terminologi politik merujuk pada wilayah atau kelompok masyarakat yang telah dikuasai dan didominasi oleh partai politik tertentu.
“Secara elektoral, wilayah tersebut relatif loyal dan mudah dikendalikan dalam setiap event politik seperti pemilu,” ujar Iwan, kepada Kompas.com, Senin (26/1/2026).
Menurut dia, loyalitas itu lahir dari proses panjang, bukan sekadar hasil kerja politik jangka pendek.
Oleh karena itu, “kandang” juga dapat dimaknai sebagai basis elektoral yang tidak mudah tergoyahkan.
“Wilayah itu memiliki ikatan ideologis dan historis yang cukup panjang dengan partai tertentu,” kata Iwan.
Ukuran sebuah daerah disebut “kandang”
Iwan menyebut, suatu daerah bisa disebut sebagai “kandang” ketika secara historis dan sosiologis selalu dimenangkan oleh partai politik yang sama.
Bahkan, perolehan suara partai tersebut relatif aman dan cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
“Contohnya Jawa Tengah dan Bali yang selama ini sering disebut sebagai kandang PDI Perjuangan,” ujar dia.
Dalam konteks itu, istilah “kandang” bukan sekadar simbol atau jargon politik, melainkan cerminan relasi kuasa yang sudah mengakar antara partai dan masyarakat di suatu wilayah.
Tantangan terbuka PSI terhadap PDI-P
Iwan menilai, upaya PSI menjadikan Jawa Tengah dan Bali sebagai “kandang gajah” merupakan bentuk tantangan terbuka terhadap PDI-P.
“PSI ingin menantang PDI-P untuk perang terbuka dalam hal merebut suara di daerah tersebut,” kata Iwan.
Namun, tantangan tersebut dinilai tidak ringan.
Menurut Iwan, PSI terlalu percaya diri jika ingin langsung menandingi PDI-P di wilayah yang telah lama menjadi basis kekuatan politiknya.
Soal struktur dan kerja politik jangka panjang
Menurut Iwan, untuk bisa menggoyang “kandang” PDI-P, PSI minimal harus membangun sistem dan struktur politik yang setara.
“PDI-P di Jawa Tengah dan Bali sudah sangat mengakar dan benar-benar menjadi kandangnya,” ujar dia.
Sementara itu, posisi PSI masih tergolong rapuh.
Partai ini berdiri pada 2014 dan hingga kini belum berhasil menembus ambang batas parlemen nasional.
“PSI masih partai baru dan sampai sekarang masih berjuang masuk parlemen. Artinya, harus bekerja jauh lebih keras untuk mewujudkan kata-katanya itu,” kata Iwan.
Konflik Jokowi–PDI-P dan arah baru PSI
Iwan juga menyinggung perubahan orientasi politik PSI setelah konflik antara Presiden Joko Widodo dan PDI Perjuangan mencuat ke ruang publik.
“Sejak konflik Jokowi versus PDI-P pecah, arah perjuangan PSI berubah. Fokusnya ingin melawan PDI-P, ingin head to head,” ujar dia.
Perubahan arah itu tecermin dari langkah-langkah simbolis PSI, mulai dari konsep partai terbuka (TBK) hingga perubahan logo partai.
“Pergantian logo menjadi gajah itu secara simbolis ingin menunjukkan perlawanan terhadap Partai Banteng yang dipimpin Megawati Soekarnoputri,” kata Iwan.
Meski PSI terus menggaungkan narasi “Kandang Gajah”, Iwan menilai upaya tersebut akan sangat berat secara politik.
“Bagi saya, sangat berat ketika PSI ingin mengambil alih kandang banteng lalu menjadikannya kandang gajah. Prediksi saya, PSI akan gagal melakukan itu,” ujar dia.
Perbandingan suara
Lantas seperti apa perbedaan suara antara kedua partai tersebut pada 2024?
Hasil suara tersebut tertuang dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah Nomor 41 Tahun 2024.
Untuk perolehan suara Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, PDI-P mengungguli jauh para pesaingnya dengan memperoleh 33 kursi.
Sedangkan jumlah suara yang diperoleh secara keseluruhan mencapai 5,2 juta suara, menjadi yang tertinggi dari semua partai politik yang berkontestasi di wilayah tersebut.
Tempat kedua diduduki Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 3,03 juta suara, kemudian ada Gerindra 2,59 juta suara, dan Partai Golkar 2,2 juta suara.
Kemudian disusul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 1,6 juta suara, Partai Demokrat 1,1 juta suara, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1 juta suara, Partai Amanat Nasional (PAN) 840.817 suara, dan Partai Nasdem 775.889 suara.
Barulah PSI di urutan ke-8, dengan perolehan 478.063 suara.
Sementara untuk di Provinsi Bali, PDI-P paling banyak meraih suara dengan perolehan 1.446.583.
Sementara PSI hanya memperoleh suara sebanyak 52.517.




