Peziarah Berjuang Temukan Makam Keluarga Pasca Banjir Bandang
PADANG, KOMPAS.com — Galodo atau banjir bandang tak hanya merenggut rumah dan harta benda warga yang masih hidup. Banjir ini juga mengusik mereka yang telah tiada.
Menjelang bulan suci Ramadhan, Kompleks Makam Papcy RW 09 Ampang, Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, biasanya ramai didatangi peziarah.
Tradisi ziarah kubur sebelum puasa menjadi momen penting bagi warga setempat untuk membersihkan makam dan memanjatkan doa bagi orangtua, saudara, serta kerabat yang telah berpulang.
Namun tahun ini, pemandangan itu berbeda.
Alih-alih langsung menemukan pusara keluarga, para peziarah justru harus berjuang mencari kembali di mana persisnya makam orang yang mereka cintai berada.
Pasca-diterjang banjir bandang pada November 2025, area pemakaman itu nyaris rata dengan tanah. Yang tersisa hanyalah hamparan material yang terbawa arus Sungai Batang Kuranji dari hulu.
Lumpur pun mengendap setinggi betis orang dewasa.
Di hari-hari awal bencana, kayu-kayu gelondongan bahkan menutupi hampir seluruh area makam.
“Kuburan ini sudah tertutup material banjir,” kata Dewi (47), warga yang tinggal di samping pemakaman dan tetap bertahan pasca- galodo, saat ditemui Jumat (20/2/2026).
Menerka Letak Pusara
Menurut Dewi, menjelang Ramadhan lalu, ratusan keluarga datang ke kompleks makam tersebut.
Mereka berharap bisa berziarah seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, semua nisan dan batu mejan telah hilang tersapu arus. Tak ada lagi penanda yang jelas.
“Keluarga dari orang yang dikubur di sini terpaksa menerka-nerka di mana lokasi persis keluarganya berada,” ujarnya.
Baik makam ayah, ibu, anak, maupun sanak saudara, sebagian besar tertutup lumpur dan material.
Mereka yang masih mengingat posisi relatif kubur keluarga berusaha menggali kembali dan memasang tanda baru.
Ada yang menggunakan batu sungai, kayu, bahkan sekadar tali untuk menandai batas makam.




