Optimasi Aset Lahan TPA Tamangapa: Tantangan dan Risiko dalam Proyek PSEL Makassar
Pemerintah Kota Makassar berencana mengoptimalkan aset lahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa sebagai lokasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Meskipun langkah ini patut diapresiasi sebagai usaha untuk efisiensi penggunaan kekayaan daerah, ada beberapa aspek teknis dan lingkungan yang perlu dipertimbangkan secara serius.
Realitas Lahan yang Dihadapi
Membangun infrastruktur energi di lahan TPA aktif bukanlah hal yang mudah. Lahan seluas minimal 4 hektar yang dibutuhkan untuk proyek PSEL di Tamangapa saat ini terhalang oleh tumpukan sampah yang ada. Untuk membangun di lokasi ini, diperlukan proses landfill mining dan stabilisasi tanah, yang bisa menjadi sangat mahal untuk mencapai daya dukung yang diperlukan untuk turbin berat. Sebagai alternatif, lahan di koridor Ir. Sutami yang sudah dibebaskan pengembang menawarkan karakteristik tanah yang lebih stabil dan lebih siap untuk pembangunan.
Masalah Transportasi dan Kemacetan
Proyek ini juga menghadapi tantangan dalam hal logistik. Dengan volume sampah mencapai 1.000 ton per hari, armada pemkot harus melakukan 256 ritase truk sampah setiap hari. Beban ini akan meningkat selama fase konstruksi, dengan kebutuhan tambahan 33.333 ritase truk tanah untuk pematangan lahan. Jika dirata-rata selama 300 hari kerja, jalan Tamangapa Raya akan mengalami tambahan 111 ritase truk tanah per hari. Hal ini berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah, terutama jika arus kendaraan dari Gowa dan Maros juga dipertimbangkan.
Risiko Lingkungan dan Keselamatan Penerbangan
Lokasi Tamangapa juga menghadapi risiko dari segi keselamatan penerbangan. Proyek ini berada di bawah lintasan pendaratan pesawat menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, yang membatasi tinggi bangunan. PSEL modern biasanya membutuhkan cerobong asap setinggi 60-80 meter untuk mengeluarkan emisi secara aman, namun pembatasan ini dapat memaksa cerobong menjadi lebih rendah, yang akan meningkatkan risiko paparan polusi bagi warga sekitar.
Persoalan Ketersediaan Air dan Efisiensi Utilitas
PSEL juga merupakan pabrik energi yang membutuhkan banyak air. Di koridor Ir. Sutami, ketersediaan air dari Sungai Tallo cukup melimpah, sedangkan di Tamangapa, kelangkaan air bisa menjadi kendala operasional. Selain itu, biaya interkoneksi listrik di Sutami lebih murah dibandingkan dengan di Tamangapa, yang berpotensi menciptakan pemborosan investasi.
Kesimpulan
Pemilihan lokasi untuk proyek PSEL seharusnya mempertimbangkan bukan hanya kepemilikan lahan, tetapi juga risiko sistemik yang lebih rendah. Mempertahankan lokasi di Ir. Sutami yang sudah matang dapat membantu mencegah masalah infrastruktur, menjaga keamanan penerbangan, dan meningkatkan kelayakan proyek secara keseluruhan. Keputusan yang tepat akan berdampak pada kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di masa depan.




