Mengenal Rocky Gerung dan Kontroversinya sebagai Pengkritik Pemerintah
Rocky Gerung dikenal luas sebagai akademisi yang kerap tampil di ruang publik dan layar kaca. Sosoknya menuai respons beragam: memiliki penggemar sekaligus pihak yang tidak menyukainya. Sejumlah orang juga menilai Rocky kerap hadir dalam kontroversi, terutama saat mengkritik pemerintah.
Latar belakang dan kiprah di ruang publik
Dalam tulisan ini, Rocky Gerung disebut lahir di Manado pada 20 Januari 1959. Ia memiliki latar belakang pendidikan di Universitas Indonesia (UI), pernah menjadi mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, dan lulus sebagai Sarjana Filsafat. Ia juga disebut pernah menjadi dosen filsafat di UI.
Dengan latar tersebut, Rocky kerap tampil di media sebagai intelektual yang mengambil posisi berseberangan dengan pemerintah, khususnya pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Penulis menggambarkan Rocky sebagai figur oposisi yang sering memberi penilaian negatif terhadap kebijakan pemerintah.
Gaya berdebat dan benturan perspektif
Penulis menilai kontroversi Rocky antara lain dipicu oleh cara pandangnya yang berangkat dari perspektif filsafat dan penggunaan istilah atau semiotika yang tidak selalu dipahami secara umum. Dalam sejumlah forum dialektik seperti Indonesian Lawyers Club (ILC) dan Mata Najwa, Rocky digambarkan kerap dipertemukan dengan pihak-pihak yang, menurut penulis, terikat oleh struktur kekuasaan, prosedur, dan aspek konstitusional.
Situasi itu, menurut penulis, mempertemukan dua cara pandang yang sering sulit mencapai kesimpulan bersama. Akibatnya, perdebatan dinilai berujung pada perbedaan tafsir tentang kebenaran yang dianggap relatif, serta memengaruhi cara publik memandang legitimasi kebijakan dan pemerintahan.
Pernyataan di ranah teologis dan respons publik
Dalam tulisan tersebut, Rocky juga disebut pernah menyampaikan pandangan bahwa kitab suci bersifat “fiksi”. Penulis menjelaskan bahwa istilah “fiksi” yang dimaksud Rocky dipahami sebagai sesuatu yang secara epistemik membangun imajinasi dan menuntun seseorang pada kepercayaan yang bersifat mistik. Namun, penulis menilai penggunaan istilah itu berpotensi dipahami negatif karena dalam pemahaman umum “fiksi” kerap dimaknai sebagai sesuatu yang dibuat-buat atau omong kosong, sehingga dianggap tidak dapat ditoleransi ketika dilekatkan pada kitab keagamaan.
Penulis kemudian membandingkan kontroversi tersebut dengan kisah Syekh Siti Jenar dan konsep “Manunggaling Kawula Gusti”, yang dalam tulisan ini disebut berujung pada eksekusi mati melalui keputusan Wali Songo karena dianggap sesat-menyesatkan. Penulis menilai persoalan muncul pada penafsiran semiotika “menyatu dengan tuhan” yang dianggap bermasalah.
Pandangan tentang kebebasan dan kritik terhadap regulasi
Penulis juga mengulas pandangan Rocky mengenai kebebasan. Rocky digambarkan memandang kebebasan sebagai sesuatu yang absolut dan melekat pada manusia, tanpa bayang-bayang kewajiban atau larangan. Dalam kerangka itu, regulasi yang membatasi kebebasan—termasuk konsep “bebas yang bertanggung jawab”—dinilai tidak mengubah pendiriannya.
Contoh yang disebut adalah isu mural “Jokowi 404 Not Found”. Penulis menilai Rocky memandang kebebasan berekspresi tidak semestinya dijerat undang-undang, sekalipun ekspresi tersebut berbentuk kritik melalui karya seni.
Kritik keras terhadap pemerintah dan dampaknya
Tulisan tersebut juga menyebut Rocky pernah melontarkan kritik keras, antara lain menyebut pemerintah “dungu” atau tidak paham Pancasila. Penulis menilai kritik Rocky terhadap pemerintahan cenderung bersifat parsial dan dipengaruhi posisi oposisi yang kuat.
Penulis menggambarkan keberadaan Rocky sebagai sesuatu yang “memedihkan” bagi pemerintah dan bahkan menyamakannya dengan Sokrates di Athena yang dihukum mati karena menentang rezim penguasa. Dalam pandangan penulis, Rocky berpotensi menjadi ancaman bagi legitimasi pemerintah karena kritiknya dapat memengaruhi kepercayaan publik. Penulis berpendapat bahwa kebijakan dan regulasi tanpa kepercayaan publik berisiko gagal sejak awal.
Usulan respons pemerintah menurut penulis
Di bagian akhir, penulis menyatakan pemerintah perlu memberi respons khusus terhadap Rocky. Penulis bahkan mengusulkan perlunya “eksekusi” dalam arti tidak serupa, serta menyebut opsi “mengalienasi” peran oposisi Rocky, misalnya dengan menjanjikan jabatan di parlemen. Penulis menekankan bahwa usulan itu disebut bukan untuk membungkam demokrasi, melainkan untuk menguji nalar Rocky ketika berada dalam posisi yang melekat dengan kekuasaan, sebagai pembanding antara dua peran.
- Rocky Gerung digambarkan sebagai akademisi yang aktif di ruang publik dan dikenal sebagai pengkritik pemerintah.
- Kontroversi disebut muncul dari gaya berdebat, penggunaan istilah, serta pandangan tentang kebebasan dan kritik terhadap regulasi.
- Penulis menilai kritik Rocky dapat memengaruhi kepercayaan publik dan legitimasi pemerintah, serta mengusulkan pemerintah merespons secara khusus.




