Masjid Tjia Khang Hoo: Simbol Toleransi Keluarga Tionghoa Muslim di Pasar Rebo
Sumber Foto: wartakota.tribunnews.com
Sosial

Masjid Tjia Khang Hoo: Simbol Toleransi Keluarga Tionghoa Muslim di Pasar Rebo

Nalar Media - Ringkasan Berita:

Masjid Tjia Khang Hoo jejak perjalanan spiritual keluarga Tionghoa Muslim yang diwariskan lintas generasi.

Arsitektur bernuansa Tionghoa menjadi simbol penerimaan identitas budaya tanpa meninggalkan keyakinan.

Keharmonisan dengan gereja dan vihara di sekitarnya menjadi potret nyata toleransi yang tumbuh alami.

WARTAKOTALIVE.COM, PASAR REBO - Sebuah bangunan masjid sekilas mirip dengan klenteng atau tempat ibadah umat Tionghoa di Jalan Soleh, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Dari pantauan Warta Kota di lokasi, bangunan ini didomimasi oleh warna merah dan kuning emas.

Gapura depan masjid sangat mirip dengan klenteng dan seperti kepakan sayap burung.

Kaligrafi dan kubah, menjadi pembeda bahwa bangunan itu adalah masjid yang diberi nama Tjia Khang Hoo.

Di dalam, temboknya ada ukiran tulisan arab dan pintu serta jendelanya dibuat mirip seperti bangunan Tionghoa.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Muhammad Wildan Hakiki, menjelaskan, gaya arsitektur masjid terinspirasi dari bangunan Tionghoa.

Pemilihan warna merah dan kuning emas, bukan karena makna filosofis tertentu, melainkan lebih pada keserasian visual yang dianggap cocok oleh keluarga.

Semua material bangunan, dipesan langsung oleh keluarga Wildan dari pengrajin di Boyolali, Jawa Tengah.

Wildan menegaskan, tidak ada ornamen maupun pernak pernik bangunan masjid itu yang didatangkan dari China.

"Kami melihat perpaduan dua warna itu paling pas untuk bentuk bangunannya. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi menyimpan sejarah keluarga kami," katanya, Sabtu (21/2/2026).

Bekas Rumah Kakek

Menurut Wildan, sebelum diperuntukan sebagai masjid, bangunan tersebut merupakan rumah tinggal almarhum kakeknya Tjia Khang Hoo.

Kakeknya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dan memeluk agama Islam hingga akhirnya berganti nama menjadi Abdul Sholeh.

Kakeknya menikahi seorang wanita bersuku Betawi bernama Rodiah yang terpandang di lingkungan masjid saat itu.

Keduanya kemudian beribadah haji bersama semasa hidupnya.

"Nah setelah kakek nenek saya wafat, ayah saya mungkin berpikiran lah untuk kalau rumahnya ini apa kita bangun masjid saja. Nah mungkin ayah saya bermusyawarah dengan kakak-kakak dan adiknya, dan alhamdulillah setuju kalau rumahnya itu mau dipugar, mau dibangun jadi masjid," ucapnya.