Langkah Pertolongan Pertama untuk Anak dengan Cemas dan Depresi
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Langkah Pertolongan Pertama untuk Anak dengan Cemas dan Depresi

Nalar Media - KOMPAS.com - Dari sekitar 7 juta anak yang diperiksa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder).

Tak hanya itu, 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak mengalami gejala depresi (depression disorder).

Kondisi ini membuat orangtua dan lingkungan sekitar perlu memahami langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan ketika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan emosional.

Penanganan awal yang tepat dinilai penting sebelum anak mendapatkan bantuan profesional. Berikut langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan.

Pertolongan pertama pada luka psikologis

1. Perhatikan kondisi anak dan pastikan aman

Psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi., menekankan, langkah pertama adalah memperhatikan kondisi anak secara menyeluruh.

“Pastikan mereka aman dan tempatkan di tempat aman. Apakah ada luka atau kondisi sesak yang perlu ditangani medis dan penuhi kebutuhan dasarnya apakah misalnya makanan, minuman, atau pakaian dan lainnya,” jelas dia saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).

Orangtua atau orang dewasa di sekitar anak perlu mengamati lingkungan serta kondisi fisik anak sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada risiko yang membahayakan keselamatan anak.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan gejala lain yang mungkin muncul pada anak sebagai bagian dari respons emosional yang mereka alami.

Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi., menambahkan, langkah awal ini dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menyadari adanya perubahan pada anak.

“Pertolongan pertama secara cepat itu sesederhana mendeteksi bahwa ada sesuatu yang berubah dari anak didik misalnya kalau di sekolah, atau anaknya sendiri di rumah,” tuturnya.

2. Dengarkan dengan empati dan hadir sepenuhnya

Setelah memastikan kondisi anak aman, langkah berikutnya adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya.

“Prinsip utamanya adalah mendengarkan dengan aktif, suportif, dan penuh empati. Hadir sepenuhnya mendengarkan, arahkan seluruh perhatian kepadanya seolah dia adalah orang paling penting saat ini,” ujar Lydia.

Mendengarkan secara aktif berarti tidak hanya mendengar kata-kata anak, tetapi juga memahami perasaan yang mereka sampaikan.

Kehadiran orangtua atau pendamping yang penuh empati dapat membuat anak merasa lebih aman dan dihargai.