Inovasi Kultur Jaringan Tingkatkan Produksi Ubi Cilembu di Sumedang
Sumber Foto: Koran Jakarta ®
Teknologi

Inovasi Kultur Jaringan Tingkatkan Produksi Ubi Cilembu di Sumedang

Nalar Media - Sumedang - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumedang terus mengembangkan Ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan daerah melalui inovasi kultur jaringan guna memperluas produksi dan meningkatkan daya saing pasar.

Kepala DKPP Sumedang, Tono Suhartono, mengatakan pengembangan Ubi Cilembu dilakukan secara terintegrasi mulai dari sektor hulu hingga hilir.

“Pengembangan Ubi Cilembu ini terus kita dorong di hulu melalui kultur jaringan dan juga hilirisasi agar bisa memperluas produksi sekaligus meningkatkan daya saing pasar,” kata Tono di Sumedang, Senin (18/5).

Ia menjelaskan Ubi Cilembu memiliki ciri khas rasa manis menyerupai madu setelah dipanggang. Karakteristik tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan ubi jalar jenis lainnya dan dinilai memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.

Menurut Tono, pengembangan kini dilakukan melalui teknologi kultur jaringan agar budidaya Ubi Cilembu dapat diperluas tanpa sepenuhnya bergantung pada kondisi tanah asli Desa Cilembu.

Sudah Diuji di 26 Titik

Pemerintah daerah bersama kelompok tani dan aparat kewilayahan telah melakukan uji coba penanaman sekitar 5.000 bibit di 26 titik kerja sama.

Sentra produksi Ubi Cilembu di Kabupaten Sumedang tersebar di empat kecamatan utama, yakni Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari dengan total luas lahan lebih dari 462 hektare.

Sementara itu, Desa Cilembu sebagai daerah asal memiliki sekitar 229 hektare lahan budidaya dengan produksi rata-rata mencapai 1.600 hingga 1.900 ton per tahun.

Tono menyebut produktivitas Ubi Cilembu di Sumedang berkisar 15 hingga 20 ton per hektare dan dapat mencapai 40 ton per hektare dalam kondisi optimal.

Permintaan Ekspor Meningkat

Meski memiliki potensi besar, pengembangan komoditas ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketergantungan terhadap kondisi tanah tertentu hingga fluktuasi produksi akibat faktor cuaca.

“Selain itu, tantangan kita adalah menjaga kontinuitas produksi karena permintaan pasar terus meningkat,” ujar Tono.

Ia mengungkapkan kebutuhan Ubi Cilembu untuk produk olahan dan ekspor saat ini mencapai 12 hingga 40 ton per bulan sehingga stabilitas produksi menjadi hal penting.

Selain penguatan budidaya, Pemkab Sumedang juga mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk UMKM berbahan dasar Ubi Cilembu, salah satunya bakpia ubi yang memanfaatkan rasa manis alami tanpa tambahan gula.

“Ubi Cilembu ini bisa diolah menjadi berbagai produk, termasuk bakpia tanpa gula tambahan karena sudah manis alami,” katanya.