Idulfitri: Momentum Memperkuat Demokrasi di Masa Sunyi
Idulfitri selalu dirayakan sebagai momen kembali ke fitrah, simbolisasi dari kejujuran, kebersihan, dan kesadaran moral. Namun, di balik suasana saling memaafkan ini, terdapat satu hal yang sering terabaikan, yaitu arah masa depan kita yang sedang dibentuk di masa-masa sunyi seperti sekarang.
Kita tidak berada dalam hiruk-pikuk pemilu; tidak ada kampanye, mobilisasi massa, atau euforia kontestasi. Justru dalam kesunyian inilah fondasi demokrasi dibangun, atau dibiarkan rapuh tanpa disadari.
Pendidikan di Bulan Ramadan
Ramadan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan yang membentuk kejujuran, melatih pengendalian diri, dan menanamkan empati. Seharusnya bulan ini melahirkan individu yang tidak hanya taat beribadah, tetapi juga berintegritas dalam kehidupan sosial. Pertanyaannya, apakah nilai-nilai tersebut benar-benar kita bawa keluar dari Ramadan?
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada momen besar, tetapi juga dari kesadaran yang dibangun secara bertahap, bahkan di waktu-waktu sunyi. Oleh karena itu, masa depan demokrasi tidak ditentukan saat hari pencoblosan, tetapi dibentuk hari ini melalui sikap dan pilihan kita.
Realitas Demokrasi Saat Ini
Namun, realitas yang dihadapi masih menunjukkan ironi. Praktik politik uang masih menjadi masalah dalam kesadaran kolektif. Netralitas sering kali teruji oleh kepentingan, sedangkan manipulasi dan penyalahgunaan kewenangan tetap menghantui proses demokrasi kita. Persoalan demokrasi sebenarnya bukan hanya mengenai sistem, tetapi juga amanah.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)
Kekuasaan dalam demokrasi merupakan amanah, bukan alat untuk kepentingan sesaat. Ketika amanah ini diselewengkan, baik melalui politik uang, penyalahgunaan jabatan, atau manipulasi, maka yang rusak bukan hanya proses, tetapi juga kepercayaan publik.
Kerusakan ini tidak selalu berasal dari pelanggaran besar, namun sering kali dimulai dari pembiaran terhadap hal-hal kecil. Oleh karena itu, konsistensi dalam menjalankan amanah sangatlah penting.
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan…” (QS. Hud: 112)
Peran Pengawasan dalam Demokrasi
Istiqamah sering kali hilang. Kita kuat dalam ibadah selama Ramadan, tetapi goyah dalam integritas setelahnya. Disiplin dalam aspek spiritual sering tidak sejalan dengan kepatuhan dalam urusan publik.
Di sinilah peran pengawasan, termasuk oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), menjadi sangat penting. Namun, pengawasan tidak cukup hanya hadir saat pemilu. Di masa sunyi seperti sekarang, kerja-kerja pencegahan, pendidikan politik, dan pembangunan kesadaran menjadi penentu arah ke depan.
Bawaslu dapat melakukan pengawasan, namun tidak bisa menggantikan kesadaran masyarakat. Mereka dapat menindak, tetapi tidak bisa menanamkan nilai-nilai tersebut sendirian. Artinya, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh lembaga, melainkan juga oleh sejauh mana kita menjaga nilai-nilai yang telah diajarkan, terutama melalui proses tarbiyah Ramadan.
Idulfitri sebagai Titik Balik
Idulfitri seharusnya menjadi titik awal. Kembali fitri berarti membawa hasil pendidikan tersebut ke dalam kehidupan nyata, termasuk dalam cara kita berpolitik, bersikap, dan menjaga amanah publik.
Jika pelanggaran masih dianggap biasa, maka kita bukan hanya membiarkan kesalahan, tetapi juga sedang mewariskannya. Ketika itu terjadi, kita mewariskan bukan hanya sistem yang lemah, tetapi juga budaya politik yang kehilangan arah.
Oleh karena itu, Idulfitri seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar kembali ke fitrah secara personal, tetapi juga keberanian untuk tidak lagi mewariskan kesalahan yang sama dalam kehidupan demokrasi kita.




