Guru Kunjungi Rumah Siswa Atasi Kendala Pembelajaran Daring
Sumber Foto: Radar Jember
Teknologi

Guru Kunjungi Rumah Siswa Atasi Kendala Pembelajaran Daring

Nalar Media - JEMBER, RADARJEMBER.ID - Keterbatasan teknologi dan akses internet masih menjadi kendala terbesar bagi sejumlah guru dalam melaksanakan pembelajaran daring. Hal ini dialami oleh sebagian guru di tiga wilayah di Kabupaten Jember. Seperti di Kecamatan Silo, Mayang, dan Ledokombo.

Akibat keterbatasan tersebut, sebagian guru yang mengajar di wilayah itu melakukan program guru keliling (guling). Setiap guru mengumpulkan tujuh hingga delapan siswa di musala desa atau rumah salah satu siswa.

Meski dilakukan secara tatap muka, tapi setiap pembelajaran itu tetap menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, durasinya juga lebih singkat dari pembelajaran seperti biasanya. "Kami batasi jumlahnya. Mereka juga harus memakai masker dan membawa handsanitizer," ungkap Sri Puji Rahayu, salah satu guru di SDN Mayang 03.

Pembelajaran dengan sistem guling ini dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu minggu. Lokasinya berpindah-pindah menyesuaikan dengan keputusan orang tua siswa. Pengambilan keputusan tersebut dibahas dengan wali siswa melalui grup WhatsApp kelas masing-masing. "Sekolahnya tidak setiap hari. Kalau Senin masuk berarti Selasa libur. Besoknya masuk lagi," imbuh Sri.

Pembelajaran dengan cara ini telah dilakukan sejak pertengahan Juni lalu. Sebab, pada tiga bulan sebelumnya, banyak tenaga pendidik yang merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan terbatas. "Saya sendiri baru-baru ini aktif pakai grup WA, mengirim dokumen, tugas-tugas, dan link. Itupun masih belajar juga," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Teguh Iman, 28, salah seorang pengajar di Ledokombo juga melakukan hal serupa. Dia mengatakan, pihaknya mulai melakukan program guling sejak awal 2021. Sebagian besar muridnya meminta agar kegiatan tatap muka bisa dilakukan di sekolah. Namun, kepala sekolah tidak menyetujui permintaan tersebut, sebab angka penularan Covid-19 di Jember masih cukup tinggi.

"Anak-anak mungkin jenuh juga lama-lama (belajar daring, Red), khususnya yang kelas 5 dan 6. Tapi keadaan tidak memungkinkan buat ke sekolah. Jadi kepala sekolah menolaknya," papar Teguh yang merupakan guru bahasa Inggris itu. (*)