Empat Tahun Invasi, Ekspor Minyak Rusia Tetap Tinggi Meski Pendapatan Turun
Sumber Foto: IDNFinancials
Internasional

Empat Tahun Invasi, Ekspor Minyak Rusia Tetap Tinggi Meski Pendapatan Turun

BRUSSELS – Uang yang diperoleh Rusia dari ekspor minyak dan gas turun selama 12 bulan terakhir, meskipun volume ekspor minyak negara itu justru meningkat, menurut data yang dirilis pada Selasa, bertepatan dengan empat tahun invasi skala penuh Moskow ke Ukraina.

Seperti dikutip Reuter, Selasa (24/2), Rusia sangat bergantung pada pendapatan energi untuk mendukung perangnya di Ukraina, keterkaitan yang mendorong negara-negara Barat menjatuhkan sanksi yang semakin ketat terhadap bahan bakar Rusia, dengan tujuan melemahkan upaya militernya.

Analisis yang diterbitkan oleh lembaga nirlaba Centre for Research on Energy and Clean Air menemukan bahwa pendapatan Rusia dari ekspor minyak, gas, batu bara, dan produk olahan mencapai 193 miliar euro dalam periode 12 bulan yang berakhir pada 24 Februari 2026, turun 27% dibandingkan periode yang sebanding sebelum invasi

Sementara ekspor gas Rusia anjlok sejak 2022, sanksi sejauh ini belum menggerus volume ekspor minyak Rusia—melainkan memaksa Moskow menjual minyak dengan harga lebih rendah.

Pendapatan Rusia dari ekspor minyak mentah dalam 12 bulan terakhir turun 18% secara tahunan (year-on-year), kata CREA. Pada saat yang sama, volume ekspor minyak mentah tetap 6% di atas level pra-invasi, yakni 215 juta ton.

Sebagai respons terhadap sanksi Barat, Moskow mengalihkan sebagian besar ekspor minyak mentah melalui laut ke China, India, dan Turki, sering kali mengandalkan “armada bayangan” kapal tanker tua yang tidak diasuransikan untuk mengakali sanksi Barat.

Namun, pembatasan yang lebih ketat berpotensi menghantam ekspor bahan bakar Rusia lebih keras tahun ini.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadikan diversifikasi menjauh dari minyak mentah Rusia sebagai syarat dalam kesepakatan dagang dengan India.

Uni Eropa tengah membahas larangan menyeluruh atas bisnis apa pun yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui laut, jauh melampaui sanksi sebelumnya. Blok tersebut gagal meloloskan sanksi itu pada Senin, setelah Hungaria memvetonya akibat sengketa terkait pipa minyak Ukraina yang rusak.

Rusia mengekspor lebih dari sepertiga minyaknya menggunakan kapal tanker Barat dengan bantuan layanan pelayaran Barat.

Larangan UE yang direncanakan akan mengakhiri praktik tersebut, yang terutama memasok India dan China, serta membuat batas harga pembelian minyak Rusia yang selama ini coba ditegakkan oleh negara-negara G7 menjadi tidak relevan.

>> Serangan Drone

Sebelumnya, Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke Ukraina dengan puluhan drone dan rudal balistik serta jelajah, menjelang peringatan empat tahun invasi. Serangan terutama menargetkan infrastruktur energi dan menghantam Kyiv, wilayah sekitarnya, pelabuhan Odesa, serta Ukraina bagian tengah.

Dikutip rte, Gubernur Kyiv Mykola Kalashnyk mennjelaskan, di Odesa, serangan drone terhadap fasilitas energi memicu kebakaran yang berhasil dipadamkan, menurut Gubernur Oleh Kiper. "Sedikitnya satu orang terluka. Kerusakan dilaporkan di lima distrik, dengan lebih dari selusin rumah terdampak," kata dia.

Ledakan terdengar di Kyiv sejak sekitar pukul 04.00 waktu setempat setelah peringatan serangan udara dikeluarkan. “Musuh menyerang ibu kota dengan senjata balistik,” kata kepala administrasi militer Kyiv Tymur Tkachenko, sambil mengimbau warga tetap berlindung. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan dua warga, seorang perempuan dan seorang anak, dilarikan ke rumah sakit.

Serangan ini merupakan bagian dari invasi Rusia yang hampir setiap hari menyasar sistem energi Ukraina sejak invasi diluncurkan pada 24 Februari 2022.

Dalam beberapa pekan terakhir, Moskow mengintensifkan serangan musim dingin terhadap infrastruktur energi dan militer.

Pemboman memicu kewaspadaan nasional hingga ke perbatasan barat. Polandia menyatakan mengerahkan jet tempur setelah mendeteksi aktivitas penerbangan jarak jauh Rusia yang menyerang Ukraina.

Insiden ini terjadi beberapa jam setelah ledakan mematikan di Lviv yang menewaskan seorang polisi perempuan dan melukai 15 orang. “Ini jelas merupakan tindakan terorisme,” kata Wali Kota Lviv Andriy Sadovyi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Ukraina “pasti tidak kalah” perang dan menegaskan kemenangan tetap menjadi target. Ia menyebut pasukan Ukraina merebut kembali sekitar 300 kilometer persegi wilayah dalam serangan balasan terbaru, yang jika dikonfirmasi menjadi kemajuan terbesar sejak 2023.

Amerika Serikat terus mendorong upaya diplomatik untuk mengakhiri perang. Zelensky menyatakan akan berkonsultasi dengan para pemimpin Eropa dan mengupayakan keterlibatan lebih luas dari negara-negara Timur Tengah serta Turki. (DH)