ASN BPK Bogor Dituduh Aniaya ART, Sembunyi di Balik Ibunya
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.
TRIBUN-VIDEO.COM - Olfit Ariani Purba (37) rupanya tak berani keluar rumah saat didatangi oleh sepuluh orang dari marga Hutagalung.
Ia malah meminta ibunya yang sudah tua untuk menemui para pria berbadan besar itu.
Tak mempersilakan masuk ke dalam, wanita itu itu hanya menyambut dari dalam pagar.
Olfit merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menganiaya asisten rumah tangga (ART) berinisial F (22).
Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, Olfit tampaknya masih belum ditahan oleh Polres Bogor.
Hal itu membuat Youtuber Laurend Hutagalung kesal dan mendatangi rumah ASN BPK RI itu.
Dirinya mengawal kasus penganiayaan itu karena satu marga dengan korban.
Laurend pun bersama beberapa orang lainnya mendatangi rumah Olfit di Perumahan Villa Nusa Indah 3, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor.
Rupanya saat mendatangi rumah itu, tersangka Olfit tidak keluar rumah.
Hanya ibunya yang sudah tua yang menghampiri Laurend dan rekan-rekannya.
Dari balik pagar, Laurend pun mempertanyakan perbuatan Olfit pada ibunya.
"Kenapa harus gitu? kami perkumpulan di Hutagalung, kami tersebar di seluruh Jabodetabek," kata Laurend.
Kemudian wanita itu pun menjawab dengan Bahasa Batak namun tidak terdengar jelas.
Laurend pun menegaskan kalau korban memiliki keluarga meski sudah tidak punya orangtua.
"Mendidih darahku ini, perilaku si Boru Purba seakan-akan kayak nggak ada keluarganya karena anak yatim piatu kan," ucap dia.
Bahkan ia mengingatkan kepada ibunda Olfit bahwa perbuatan anaknya itu harus tetap diproses secara hukum.
"Tidak ada kata damai inang. Manusia itu inang, bukan binatang. Jangan karena anak yatim piatu," katanya lagi.
Ibunda Olfit itu sepertinya berusaha melindungi putrinya dan mengatakan kalau tersangka tak ada di rumah.
"Pokoknya sampaikan ke anakmu itu, itu manusia, proses hukum tetap berjalan. Kami keluarga besar Hutagalung sangat marah," katanya lagi.
Laurend mengatakan kalau maksud kedatangannya itu untuk bertemu Olfit.
Namun karena tidak ada, maka ia menitipkan pesan pada sang ibu.
Ya aku menghargai orangtua, cuma gak ketemu sama orangnya. Tolonglah inang," kata Laurend lagi.
Bahkan ia terlihat sempat bersitegang dengan ibunda tersangka.
"Ya berarti anakmu itu salah perilaku, gak bisa kau didik!," kata dia lagi.
Menurut Laurend, dirinya meyakini kalau Olfit saat itu ada di dalam rumah.
"Padahal aku tahu ada di dalam dia, disembunyikan di dalam," kata Laurend.
Hal itu juga dibenarkan oleh Fitri sang korban.
"Iya di kamar dia, gak keluar," kata Fitri.
Laurend pun menyebut kalau dirinya datang bersama 10 orang lainnya.
"Kita tadi ada sepuluh orang amang, aku tahan. Kalau enggak marah besar itu ribut di perumahannya," ucap dia lagi.
Pada pengakuannya ke Laurend, Fitri mengaku sudah dua tahun bekerja di rumah Olfit.
Namun dirinya baru mengalami penyiksaan pada bulan Desember 2025.
"Saya cuma dianiaya di bulan 12 tahun 2025, pertengahan bulan," kata Fitri.
Menurut Fitri, Olfit saat menganiaya dirinya menggunakan tenaga yang sangat besar.
"Dia sekali mukul kencang. Di punggung dipukul pakai sendok penggorengan, yang besi punya," ucapnya.
Kemudian saat dipukul bagian wajah, Fitri mengaku sempat menghalangi menggunakan tangan.
Namun hal itu berujung pada pemukulan menggunakan benda tumpul.
"Kalau dia mukul, saya kan nangkis supaya gak kena mata, karena gak kena dia bilang mana tangannya, terus dipukul pakai benda tumpul," ucap dia.
Sementara untuk bagian perut, kata dia, dicubit berulang-ulang oleh tersangka
Tak hanya bagian tubuh, mata Fitri juga sempat memar akibat pukulan.
"Muka enggak, tapi di mata dipukul juga. Kan saya halangi pakai tangan, tapi kena juga. Sampai bengkak dua-duanya, tapi saat itu masih nahan, tidak ambil tindakan kabur," ucapnya.
"Terus udah telinga, saya kabur. Saya kabur ke tempat cuci gosok, tempat teman. Baju-baju masih di sana," tandasnya.




