Anjani: Siswa Penjaga Warung dan Tulang Punggung Keluarga
SURABAYA, KOMPAS.com - Umumnya, usia 13 sampai 15 tahun menjadi masa yang paling menyenangkan untuk bermain dan belajar.
Namun berbeda halnya dengan Anjani Fenny Aru Selvia (16) atau akrab dipanggil Anjani.
Berawal dari sebuah video viral di media sosial, masyarakat dibuat tersentuh oleh kisahnya yang masih di bangku kelas IX MTs Plus Himmatun Ayat, tapi sudah harus menjadi tulang punggung keluarga.
Ia merupakan anak tunggal, ayahnya sudah meninggal pada 2022, sementara ibunya harus menjalani pemulihan pasca-operasi bertahun-tahun dan tidak bisa lagi bekerja.
Pada usianya yang baru menginjak 16 tahun itu, ia harus menanggung beban yang sangat besar.
Anjani menceritakan, biasanya ia akan memulai hari pukul 07.00 sampai 14.00 WIB untuk sekolah.
Kemudian, dilanjutkan dengan bekerja menjaga warung mulai pukul 16.30 WIB sampai 23.00 WIB.
Rutinitas itu ia jalani sejak kelas III SD. Kala itu, ia bekerja menjaga warung penyetan milik tetangganya.
“Saya bilang ke tetangga saya ‘bu boleh gak saya bantu jualan? gak apa saya dibayar berapa aja’,” kenang Anjani kepada Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Sejak ia bersekolah kelas I SD, ayahnya sudah menederita keretakan tulang dan penyempitan pinggul karena dampak bekerja sebagai kuli bangunan.
“Tapi, waktu saya kelas III SD, sakitnya ayah itu semakin parah, ibu juga gak bisa kerja sendirian jadi biasanya saya bantu ngejualin juga,” jelasnya.
Keterbatasan biaya dan minimnya bantuan serta akses kesehatan gratis, membuat ayah Anjani hanya bisa dirawat apa adanya di rumah.
Namun, nasib berkata lain ketika Anjani harus berpisah untuk selamanya dengan ayahanda saat dirinya di kelas V SD.
Ditambah lagi, sebulan setelahnya ia mendapat kabar bahwa ibunya harus segera melakukan operasi pengerukan di usus besar karena adanya endapan jamu.
Pemulihan pasca-operasi yang berlangsung sangat lama menjadikan ibunya tidak bisa lagi bekerja seperti sedia kala dan hanya mengandalkan Anjani sebagai pencari nafkah utama.




