Abay: Simbol Kemanusiaan di Tengah Kerusuhan di Makassar
Sumber Foto: SINDOmakassar
Uji Nalar

Abay: Simbol Kemanusiaan di Tengah Kerusuhan di Makassar

Tragedi kerusuhan yang terjadi di Kota Makassar pada Jumat malam, 29 Agustus 2025, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Kebakaran yang melanda gedung DPRD Kota Makassar tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik, tetapi juga merenggut nyawa empat orang, termasuk Muhammad Akbar Basri, yang lebih dikenal dengan sebutan Abay.

Abay bukan hanya seorang staf Humas DPRD Kota Makassar, melainkan juga seorang sahabat, anak muda yang penuh semangat, dan suporter setia tim sepak bola PSM Makassar. Di saat situasi darurat berlangsung, Abay menunjukkan karakter yang luar biasa dengan memilih untuk menolong orang lain daripada menyelamatkan dirinya sendiri. Beberapa saksi melaporkan bahwa aksi heroiknya terakhir terlihat saat ia berusaha mencari rekannya yang terjebak di dalam gedung yang terbakar. Sayangnya, setelah itu, Abay tidak pernah kembali.

Kehilangan Abay menjadi sebuah kehilangan besar bagi masyarakat. Di usia yang seharusnya produktif, ia telah menunjukkan makna kemanusiaan sejati dengan berkorban demi keselamatan orang lain, bahkan hingga mengorbankan nyawanya sendiri.

Namun, di balik kepahlawanan Abay, tersimpan pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: sampai kapan Kota Makassar harus menjadi saksi kekerasan? Mengapa perbedaan pendapat harus berujung pada anarki, penjarahan, dan hilangnya nyawa? Provokasi telah berhasil membutakan massa, dan harga yang harus dibayar adalah kehilangan sosok baik seperti Abay.

Tragedi ini memberikan pelajaran berharga bahwa demokrasi seharusnya memperjuangkan martabat dan kemanusiaan, bukan menghancurkan. Perlawanan harus dilakukan dengan cara yang menjaga nilai-nilai kemanusiaan, bukan merenggutnya.

Meskipun Abay telah tiada, semangatnya harus terus hidup. Ia seharusnya dikenang bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai simbol kemanusiaan yang tegar di tengah kekacauan. Kota Makassar perlu belajar dari tragedi ini agar tidak ada lagi Abay-Abay lain yang menjadi korban kebrutalan yang tidak bermoral.

Selamat jalan, Abay. Engkau telah mengajarkan kami arti perjuangan yang sesungguhnya.