Warisan Parenting Jenderal Try Sutrisno: Keteladanan dalam Keluarga
Warta Bulukumba - Kertasnya ringan, mudah dibalik, tetapi isinya terasa berat—penuh nilai, disiplin, dan kesederhanaan. Di halaman awal, terpatri kisah tentang seorang ayah yang lebih memilih memberi contoh ketimbang memerintah. Inilah salah satu warisan seorang jenderal: " Filosofi Parenting Try Sutrisno" di antara bendera setengah tiang.
Tak ada gemerlap kekuasaan dalam narasi itu. Yang ada justru potret ruang keluarga: tatapan tegas namun hangat, suara nasihat yang disampaikan tanpa bentakan, dan prinsip hidup yang ditanamkan perlahan, hari demi hari.
Beberapa bulan setelah buku itu terbit, kabar duka datang. Nama yang tertera di sampulnya—Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno —kini dikenang bukan hanya sebagai tokoh bangsa, tetapi sebagai ayah yang telah menyelesaikan pengabdiannya di dunia.
“ Filosofi Parenting Try Sutrisno ”: Keteladanan dalam 336 halaman
Dirilis pada November 2025 bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-90, buku “ Filosofi Parenting Try Sutrisno ” menjadi refleksi perjalanan hidup Wakil Presiden ke-6 RI tersebut dalam ranah yang paling personal: keluarga.
Disusun oleh Adhyaksa Dault, Luqman Hakim Arifin, Maria Dominique, dan Mujib Rahman, buku ini tidak berhenti pada biografi formal. Ia menggali nilai-nilai pola asuh yang diterapkan Try Sutrisno bersama istrinya, Tuti Sutrisno, kepada tujuh anak mereka.
IdeJualan
Tema utamanya jelas: keteladanan nyata. Kesederhanaan bukan sekadar slogan. Dalam berbagai kisah yang dituturkan, pasangan ini menolak privilese berlebihan, memilih hidup bersahaja, serta menanamkan kejujuran dan disiplin sejak dini. Anak-anaknya tidak dibesarkan dalam bayang-bayang jabatan, melainkan dalam tanggung jawab dan kerja keras.
Kesaksian ketujuh putra-putrinya memperkuat narasi tersebut. Mereka menceritakan bagaimana ayah mereka tegas, tetapi tidak otoriter; disiplin, tetapi tidak kaku. Spiritualitas dan nilai kebangsaan menjadi fondasi, sejalan dengan falsafah yang berulang kali ditegaskan: “Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang kuat.”
Dikemas dalam format soft cover dengan kertas ringan, buku ini memang tidak dirancang untuk dipamerkan. Ia dibuat untuk dibaca, dibawa, dan—jika mungkin—diamalkan.




