Transformasi Transmigrasi: Dari Keterpaksaan Menjadi Pilihan Berbasis Ilmu
Sumber Foto: TVRI News
Berita Pilihan

Transformasi Transmigrasi: Dari Keterpaksaan Menjadi Pilihan Berbasis Ilmu

TVRINews, Jakarta

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa konsep transmigrasi Indonesia harus ditransformasi secara mendasar, dari sekadar perpindahan penduduk karena keterbatasan menjadi pilihan sadar menuju masa depan yang lebih menjanjikan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Pertanyaannya adalah bagaimana transmigrasi tidak lagi dipahami sebagai kebutuhan karena terpaksa, tetapi sebagai tindakan yang memberi dampak baik. Apa yang membuat orang ingin berpindah bukan karena harus, tetapi karena mereka percaya ada masa depan di sana," kata Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 6 Februari 2026.

Menurut Iftitah, salah satu persoalan mendasar pembangunan Indonesia adalah terlalu terpusatnya penduduk dan aktivitas ekonomi di kota-kota besar, sementara banyak kawasan potensial di luar Jawa belum berkembang optimal. Kondisi ini, kata dia, tidak sehat bagi masa depan pembangunan nasional.

Karena itu, Iftitah menegaskan bahwa transformasi kawasan transmigrasi harus bertumpu pada keterhubungan antara riset, ilmu pengetahuan, dan teknologi terapan.

Kawasan transmigrasi ke depan tidak cukup hanya dibangun dengan pendekatan fisik dan sosial, tetapi juga harus memiliki fondasi sains agar mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

"Kawasan-kawasan baru harus bisa mengembangkan energinya sendiri dan membangun masa depannya sendiri. Di sinilah peran sains dan teknologi menjadi sangat penting," tegasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Transmigrasi, kata Iftitah, aktif melibatkan perguruan tinggi melalui Program Tim Ekspedisi Patriot.

Melalui program ini, mahasiswa dan dosen diterjunkan langsung ke kawasan transmigrasi untuk mengembangkan solusi berbasis riset, mulai dari teknologi energi, pengelolaan lingkungan, hingga penguatan ekonomi lokal.

"Ini adalah bentuk nyata bagaimana ilmu pengetahuan tidak berhenti di kampus, tetapi hadir langsung di tengah pembangunan wilayah," ujarnya.