Tradisi 10 Muharram di Sulawesi Selatan: Belanja Pecah Belah dan Makna Spiritualnya
Setiap tanggal 10 Muharram, pasar-pasar tradisional di Sulawesi Selatan, baik di kota maupun desa, dipenuhi dengan aktivitas masyarakat yang berbelanja pecah belah. Piring keramik, sendok, ember, dan baskom plastik terlihat berjejer di lapak-lapak, dengan para ibu yang ramai memborong perabot dapur. Tanpa pengumuman resmi atau imbauan, tradisi ini seolah hidup dengan sendirinya, menyambut hari yang sarat makna keagamaan dengan cara yang lebih sederhana dan membumi.
Tradisi ini, meskipun tampak sederhana, mengandung makna budaya dan spiritual yang dalam — sebuah perpaduan antara keyakinan Islam, warisan lokal, dan tafsir simbolik atas kehidupan sehari-hari. Banyak umat Islam yang merayakan 10 Muharram dengan puasa sunah dan mengenang tragedi Karbala, di mana cucu Nabi, Imam Husain, gugur demi kebenaran. Namun, di Sulawesi Selatan, hari ini lebih diwarnai dengan suara sendok dan piring baru yang siap menggantikan perabot lama.
Makna di Balik Belanja Perabot Dapur
Pembelian perabot dapur baru pada hari ini tidak sekadar ritual belanja biasa. Masyarakat menyadari bahwa waktu yang suci perlu disambut dengan cara yang layak. Mengganti perabot lama di rumah dianggap sebagai simbol pelepasan masa lalu dan menyambut masa depan dengan harapan baru. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat mengaitkan tindakan sehari-hari dengan makna yang lebih dalam, baik secara spiritual maupun emosional.
10 Muharram: Hari Para Nabi
Dalam tradisi Islam, 10 Muharram dipandang sebagai hari yang penuh rahmat. Di hari ini, Nabi Nuh keluar dari bahtera, Nabi Musa menyeberangi laut, dan Nabi Yunus keluar dari perut ikan. Namun, bagi sebagian umat Islam, hari ini juga menjadi hari duka memperingati gugurnya Imam Husain di Karbala. Darahnya menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, dan kepergiannya menggoreskan luka abadi dalam sejarah spiritual umat Islam. Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya memulai kembali, memperbaiki, dan membersihkan hidup.
Dapur sebagai Ruang Spiritual
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, dapur tidak hanya sekadar tempat memasak, melainkan juga pusat kehidupan keluarga. Di sinilah makanan dibagi, doa dilafalkan, dan berbagai interaksi sosial terjadi. Mengganti perabot dapur menjadi tindakan simbolis yang menunjukkan harapan akan rezeki yang berkelanjutan. Dalam tradisi ini, dapur berfungsi sebagai ruang spiritual, tempat di mana cinta dan syukur dipelihara setiap hari.
Kalender Lokal dan Ritual Tradisional
Jauh sebelum kedatangan Islam, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki sistem kalender sendiri yang dikenal sebagai Kalender Kutika. Di dalam kalender ini terdapat bulan yang dianggap sakral, dan kedatangan Muharram pun disambut dengan tradisi yang telah ada sebelumnya. Masyarakat tidak mengganti satu tradisi dengan yang lain, melainkan mengintegrasikannya dalam kesadaran waktu yang lebih luas.
Peca’ Sura: Simbol Kebersamaan dan Syukur
Sebagai tambahan, beberapa keluarga juga menyiapkan peca’ Sura, yaitu bubur khas Muharram yang terbuat dari nasi yang dimasak lembut dan dihias dengan berbagai lauk. Bubur ini bukan sekadar hidangan, tetapi juga simbol berbagi berkah dan kebersamaan. Angka tujuh dalam peca’ Sura melambangkan kesempurnaan dan perlindungan, menjadikannya sebagai kuliner spiritual yang memperkuat ikatan antaranggota komunitas.
Kesimpulan: Merawat Tradisi Melalui Tindakan
Di zaman modern ini, sering kali kita mencari pembenaran dalam teks atau dalil. Namun, banyak tradisi yang tidak tertulis tetapi hadir dalam ingatan kolektif. Belanja pecah belah pada 10 Muharram dan peca’ Sura yang dibagikan secara bersama menekankan bahwa kesakralan bisa hadir dalam tindakan sehari-hari. Dari peristiwa-peristiwa besar yang dikenang, yang paling menyentuh mungkin adalah tindakan sederhana seperti merapikan meja makan, yang menandakan harapan baru dan kesempatan untuk memulai kembali.




