Tingginya Standar Pengasuhan Picu Kecemasan Calon Orangtua
KOMPAS.com - Meningkatnya standar pengasuhan anak membuat banyak pasangan di Indonesia ragu untuk memiliki anak.
Psikolog menilai tekanan untuk menjadi orangtua yang “sempurna” memicu rasa takut gagal dan kecemasan yang tidak kecil. Kondisi ini menjadi salah satu faktor psikologis di balik keputusan menunda kehadiran anak.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan pola pikir orangtua masa kini telah berubah signifikan dibanding generasi sebelumnya.
Hal itu ia sampaikan saat dihubungi Kompas.com pada Senin (2/3/2026). Menurut dia, tekanan untuk memenuhi standar ideal dalam pengasuhan kini terasa semakin kuat.
Dari sekadar cukup menjadi serba ideal
Pada masa lalu, standar pengasuhan cenderung sederhana. Selama kebutuhan dasar anak terpenuhi, orangtua merasa sudah menjalankan perannya dengan baik.
Kini, ekspektasi terhadap pengasuhan meningkat tajam. Anak diharapkan tumbuh optimal secara akademik, emosional, sosial, hingga mental.
Danti menyebut kondisi ini sebagai kecenderungan intensive parenting. Orangtua merasa harus memberikan gizi terbaik, pendidikan terbaik, serta perhatian penuh terhadap perkembangan anak.
Perubahan standar tersebut membuat proses menjadi orangtua tidak lagi dipandang sebagai fase alami, melainkan proyek besar yang menuntut kesiapan menyeluruh.
Beban kognitif dan tekanan mental
Ilustrasi orangtua sedih. Meningkatnya standar pengasuhan membuat banyak pasangan merasa cemas dan takut gagal sebelum memutuskan memiliki anak.
Meningkatnya standar ini menimbulkan beban kognitif bagi calon orangtua. Mereka merasa harus merencanakan segala hal secara detail sebelum memutuskan memiliki anak.
“Calon orang tua merasa harus menjamin gizi terbaik, pendidikan terbaik, hingga kesehatan mental anak,” ujar Danti.
Perasaan tersebut tidak jarang memicu kecemasan. Kekhawatiran muncul ketika mereka merasa belum mampu memenuhi standar ideal yang dibayangkan.
Tekanan mental ini membuat keputusan memiliki anak terasa lebih berat dibanding generasi sebelumnya.
Takut gagal menjadi orangtua
Rasa takut gagal menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan tersebut. Danti menjelaskan bahwa sebagian pasangan memilih menunda karena khawatir tidak bisa menjadi orangtua yang baik.
“Jika mereka merasa tidak mampu memberikan standar ideal tersebut, mereka memilih untuk menunda atau tidak memiliki anak sama sekali karena takut gagal menjadi orang tua yang baik,” jelasnya.




