Tantangan Komunikasi Publik di Era Digital: Meningkatnya Kepercayaan terhadap Influencer
Sumber Foto: InfoPublik
Hiburan

Tantangan Komunikasi Publik di Era Digital: Meningkatnya Kepercayaan terhadap Influencer

Batam, InfoPublik — Pergeseran pola konsumsi informasi di era digital bukan hanya memengaruhi cara publik menerima informasi atau berita, tetapi juga menuntut strategi komunikasi yang lebih adaptif dan responsif.

Hal tersebut disampaikan Praktisi Komunikasi sekaligus CEO & Founder Brightminds Communications, Dody Rochadi, dalam sesi pemaparan pada kegiatan CommuniAction yang digelar Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Ditjen KPM Kemkomdigi), di Batam, Kamis (27/11/2025).

Menurut Dody, derasnya arus informasi membuat publik tidak lagi melihat sumber kredensial secara mendalam. Fenomena meningkatnya kepercayaan publik terhadap influencer ketimbang pakar profesional menjadi tantangan baru dalam ekosistem informasi.

“Orang tidak lagi melihat latar belakang. Misalnya, banyak yang tidak tahu bahwa ada seorang dokter umum dalam media sosial, tetapi publik memposisikan apa pun yang ia sampaikan sebagai kebenaran. Fenomena ini membuat persepsi publik bergeser sangat cepat,” ujar Dody.

Ia juga menegaskan bahwa pola konsumsi informasi kini lebih banyak bergeser ke platform video dan media sosial. Generasi Z, khususnya mahasiswa, mayoritas mencari informasi melalui TikTok, Instagram, dan YouTube, bukan lagi media konvensional.

Lebih lanjut, Dody menyinggung maraknya clickbait, yakni judul sensasional yang tidak sesuai dengan isi berita. Hal itu, menurutnya, terjadi karena media berkompetisi merebut perhatian publik di tengah banjir konten.

“Judul dibuat sensasional karena media ingin dibaca. Persaingan sangat ketat ketika semua orang bisa menjadi sumber informasi,” ucapnya.

Terkait itulah Dody menjelaskan pentingnya media monitoring dan social media monitoring bagi lembaga pemerintah maupun perusahaan, terlebih ketika opini publik dapat berubah hanya dalam hitungan detik.

“Media monitoring adalah proses memantau informasi di media maupun media sosial, lalu dilaporkan dan dianalisis untuk menentukan langkah strategis. Fungsinya bukan sekadar mengumpulkan berita, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan,” terangnya.

Ia menyebut media monitoring berperan sebagai early warning system, terutama ketika isu negatif mulai berkembang dan berpotensi menjadi krisis reputasi.

“Jika sudah muncul sentimen negatif, perusahaan atau kementerian harus segera memitigasi sebelum isu membesar dan menjadi viral,” ujarnya..

Dody menegaskan bahwa analisis dalam media monitoring jauh lebih penting daripada hanya mengumpulkan data pemberitaan. “Informasi tidak akan bernilai kalau hanya dilaporkan apa adanya. Yang krusial adalah analisis: kenapa isu muncul, apa dampaknya, dan bagaimana strategi komunikasi harus disusun untuk respons yang tepat dan relevan,” pungkasnya.