Shinnosuke Murata: Meninggalkan Jepang untuk Membangun Game Blockchain di Eropa
Daftar Isi
Rangkuman: ChatGPT Perplexity
Ada orang yang pindah negara karena ikut arus. Ada juga yang pindah karena sedang mengejar sesuatu yang lebih sunyi: ruang gerak. Shinnosuke Murata masuk kategori kedua. Namanya mungkin tidak sering berseliweran di linimasa, tapi jejak keputusannya menarik untuk dibaca karena ia memilih jalur yang jarang diambil eksekutif Jepang: meninggalkan pusat industri yang mapan, lalu membangun perusahaan game berbasis blockchain dari Eropa.
Kalau kamu mengikuti perkembangan game Web3, kamu akan paham kenapa keputusan seperti ini bukan sekadar urusan alamat kantor. Ini adalah strategi hidup, strategi bisnis, dan strategi menghadapi ekosistem yang terus berubah. Dan dari cerita Murata, kamu bisa melihat satu hal yang jarang dibahas dengan jernih: inovasi sering bukan soal ide paling baru, tapi soal memilih tempat yang membuat ide itu bisa tumbuh tanpa tersedak.
Siapa Shinnosuke Murata?
Di permukaan, Murata tampak seperti profesional yang rapi. Latar pendidikannya internasional, kariernya pernah bersinggungan dengan lingkungan korporasi besar, dan ia sempat memegang peran kepemimpinan di ranah sport dan entertainment. Jalur seperti ini biasanya mengarah ke karier yang stabil: jabatan naik perlahan, jaringan makin luas, dan hidup yang serba terukur.
Namun ada belokan yang membuat profilnya menarik. Murata tidak memposisikan dirinya sebagai figur yang sedang mengejar popularitas, melainkan sebagai operator yang fokus pada satu masalah: bagaimana membuat game yang bisa membangun ekonomi digital baru tanpa berhenti menjadi game yang menyenangkan.
Di sini, kamu perlu menangkap perbedaannya. Banyak orang bicara Web3 dengan nada “revolusi”, tapi sedikit yang mau menanggung kerja kotor yang menyertainya: merancang sistem ekonomi in-game, menjaga komunitas, menyeimbangkan spekulasi, dan memastikan game tidak mati setelah hype lewat. Murata memilih masuk ke wilayah yang rumit itu.
Kalau bagian ini terasa masih “umum”, itu wajar. Baru setelah kamu melihat lintasan kariernya, kamu akan paham kenapa ia lebih condong pada keputusan yang dingin dan terukur dibanding retorika.
Dari korporasi Jepang ke ruang kerja startup
Korporasi Jepang terkenal disiplin, terstruktur, dan penuh standar. Nilainya jelas: stabilitas, reputasi, dan proses. Startup, terutama di ranah Web3, sering kebalikannya: serba cepat, penuh eksperimen, dan kadang berisik oleh tren yang datang dan pergi.
Perpindahan dari satu budaya kerja ke budaya lain bukan hanya soal ritme. Ini soal identitas profesional. Di korporasi, kamu sering dinilai dari kepatuhan pada sistem. Di startup, kamu dinilai dari kemampuan membuat sistem baru ketika sistem lama tidak cocok.
Murata pernah merasakan dua kutub itu. Dan ketika ia akhirnya memilih mendirikan Murasaki, langkah itu bisa dibaca sebagai pernyataan: ia ingin membangun, bukan sekadar menjalankan. Ia ingin menjadi orang yang menentukan bentuk permainan, bukan hanya mengisi peran di permainan orang lain.
Yang menarik, ia tidak menjual cerita “lompat karier” sebagai drama. Keputusan ini terasa seperti keputusan orang yang sudah menghitung biaya sosial, biaya ekonomi, dan risiko reputasi—lalu tetap jalan.
Dari sini, cerita bergerak ke pertanyaan yang lebih tajam: kenapa harus meninggalkan Jepang?
Mengapa Jepang ditinggalkan?
Jepang punya dua hal yang membuatnya terasa seperti rumah alami bagi industri game: kekuatan IP dan kultur kreatif yang sudah mengakar. Banyak studio dan kreator lahir dari sana, dan pengaruhnya terhadap industri game modern sulit disangkal.
Tapi ada sisi lain yang juga nyata: ketika teknologi baru masuk, terutama yang bersinggungan dengan aset digital dan spekulasi, ruang eksperimennya bisa mengecil. Bukan karena orangnya tidak kreatif, melainkan karena ekosistemnya mengutamakan kehati-hatian, reputasi, dan kepastian. Di ranah seperti blockchain gaming, kehati-hatian itu sering berbenturan dengan kebutuhan iterasi cepat.
Murata mengambil pilihan yang bagi sebagian orang tampak ekstrem: ia tidak memaksa ekosistem menyesuaikan diri dengannya, ia yang menyesuaikan diri dengan ekosistem yang dianggap lebih memberi ruang. Ini bukan sikap anti-Jepang. Ini sikap pragmatis.
Kamu bisa melihatnya seperti ini. Jika kamu ingin membangun game yang melibatkan ekonomi token, kepemilikan aset digital, dan model komunitas yang aktif, kamu butuh lingkungan yang membuat uji coba seperti itu mungkin dilakukan tanpa berhenti di tahap wacana. Murata tampaknya melihat bahwa “mungkin” itu lebih besar jika ia beroperasi dari luar Jepang.
Dan begitu keputusan meninggalkan Jepang diambil, pertanyaan berikutnya muncul secara alami: kenapa Eropa, dan kenapa Belanda?
Kenapa Belanda dipilih sebagai basis Murasaki?
Memilih basis operasi bukan hanya soal pajak, visa, atau biaya kantor. Ini tentang jaringan, akses talenta, kemudahan bekerja lintas negara, dan cara sebuah perusahaan dibaca oleh mitra serta investor.
Belanda sering dipilih startup internasional karena posisinya yang relatif strategis di Eropa dan kultur kerja yang cenderung terbuka untuk kolaborasi lintas kewarganegaraan. Untuk perusahaan yang ingin merekrut orang dari banyak negara, itu bukan detail kecil. Game Web3 jarang bisa dibangun oleh satu tipe tim. Kamu butuh kombinasi: orang produk yang mengerti retensi pemain, engineer yang paham infrastruktur, kreator yang mengerti narasi dan visual, serta orang komunitas yang bisa membangun kepercayaan.
Murata membangun Murasaki dari Eropa dengan pendekatan yang terasa global sejak awal. Basis Eropa memberi sinyal: ini bukan proyek lokal yang ingin cepat viral, tapi perusahaan yang ingin bermain panjang.
Dan ketika basisnya sudah ditetapkan, Murasaki perlu menjawab tantangan yang jauh lebih berat daripada “bikin token”: bagaimana membuat game blockchain yang tetap terasa sebagai game.
Murasaki dan pendekatan game blockchain berbasis komunitas
Dalam game tradisional, kamu bermain, kamu menang atau kalah, kadang kamu beli item, dan selesai. Kepemilikan item itu biasanya tetap berada dalam sistem tertutup. Di game blockchain, narasinya berubah: aset digital bisa dianggap milik pemain, ekonomi bisa terjadi di luar game, dan komunitas bisa memiliki pengaruh terhadap arah permainan.
Masalahnya, ide bagus di atas kertas sering gagal saat menyentuh kenyataan. Banyak game Web3 tumbang karena satu penyakit klasik: ekonomi lebih menarik daripada gameplay. Orang datang bukan untuk bermain, tapi untuk menghitung. Ketika hitungan tidak lagi menarik, mereka pergi.
Murasaki mencoba mengambil posisi yang lebih seimbang. Alih-alih menjadikan spekulasi sebagai mesin utama, fokusnya condong pada komunitas dan keberlanjutan. Ini bukan berarti tanpa token atau tanpa aset digital, melainkan menempatkan elemen itu sebagai bagian dari ekosistem, bukan satu-satunya alasan orang bertahan.
Jika kamu menganggap komunitas sebagai “marketing gratis”, game akan cepat kehilangan nyawa. Namun jika komunitas diperlakukan sebagai sistem sosial yang butuh aturan, rasa adil, dan identitas bersama, maka komunitas bisa menjadi fondasi yang sulit ditiru.
Di titik ini, Murata tampak tidak sedang mengejar jalan cepat. Ia memilih jalur yang lebih menuntut: membangun relasi pemain dengan game, bukan relasi pemain dengan harga aset.
Itu membawa kita ke bagian yang biasanya dihindari banyak artikel: daftar masalah besar yang membuat GameFi sulit bertahan.
Tantangan industri GameFi yang sering membuat game cepat mati
Biar artikelnya tidak menjadi romantis, kita perlu menaruh masalahnya di meja.
Pertama, volatilitas. Ketika ekonomi game bersentuhan dengan aset kripto, ia ikut terpapar perubahan sentimen pasar. Harga bisa naik dan turun tanpa peduli seberapa bagus gamenya. Ini membuat desain ekonomi menjadi pekerjaan yang melelahkan, karena kamu tidak hanya mendesain untuk pemain, tapi juga untuk realitas pasar.
Kedua, retensi pemain. Gamer tradisional bertahan karena tantangan, cerita, kompetisi, atau pertemanan. Di banyak game Web3, retensi bertumpu pada insentif. Insentif bisa menarik orang datang, tapi jarang membuat orang betah. Setelah hadiah terasa kecil atau ribet, pemain akan mencari tempat lain.
Ketiga, kepercayaan komunitas. Web3 punya sejarah yang membuat banyak orang waspada: rug pull, skema yang tidak transparan, atau roadmap yang berubah-ubah. Sekali kepercayaan pecah, sulit disambung lagi.
Keempat, keseimbangan antara “pemain” dan “pemburu insentif”. Jika game kebanjiran akun yang hanya mengejar keuntungan, kualitas pengalaman bermain bisa turun. Ini bukan isu moral, ini isu desain sistem.
Keputusan Murata membangun dari Eropa dan menekankan komunitas bisa dibaca sebagai respons terhadap masalah-masalah ini. Ia seperti sedang mengatakan: kalau mau bertahan, kamu tidak bisa mengandalkan hype. Kamu harus punya struktur.
Dan dari struktur itu, kita sampai pada cara memposisikan Murata tanpa membuatnya tampak seperti tokoh yang “dibesarkan” secara paksa.
Posisi Shinnosuke Murata di ekosistem Web3 global
Murata bukan figur yang muncul karena ketenaran massal. Ia lebih cocok diposisikan sebagai pengambil keputusan strategis yang berdiri di pertemuan tiga hal: budaya korporasi Jepang, dinamika kreatif industri game, dan realitas teknis-ekonomi Web3.
Keunggulan model seperti ini bukan pada sorotan kamera, melainkan pada kemampuan membaca peta. Ia mengerti bagaimana cara kerja organisasi besar, tapi juga mau menanggung risiko startup. Ia mengerti bahwa game adalah produk emosi, tapi juga sadar ekonomi digital tidak bisa dibiarkan liar.
Kalau kamu mencari “tokoh terkenal”, kamu mungkin tidak akan puas. Namun kalau kamu mencari contoh bagaimana seseorang memindahkan proyek ke tempat yang lebih memungkinkan, lalu membangun sistem yang tidak bergantung pada noise, cerita Murata justru relevan.
Pada akhirnya, yang membuat ceritanya menarik bukan “siapa dia” dalam arti popularitas, melainkan “apa yang ia pilih” dalam arti strategi.
Kesimpulan
Pilihan meninggalkan Jepang membuat Shinnosuke Murata terlihat seperti orang yang sedang melawan arus, padahal lebih tepat disebut sedang memilih medan. Ia tidak sedang mengejar perhatian, ia sedang mengejar probabilitas: peluang ide bisa dijalankan dengan lebih leluasa, peluang tim global bisa dibangun, dan peluang produk bisa diuji tanpa terseret tarik-menarik yang terlalu sempit.
Kamu bisa membaca kisah ini sebagai kisah tentang Web3, tapi kamu juga bisa membacanya sebagai kisah tentang keputusan karier dan keputusan organisasi. Saat banyak orang terpaku pada “apa yang sedang tren”, Murata menaruh perhatian pada “di mana sesuatu bisa dibangun dengan masuk akal”.
Dan jika ada pelajaran yang bisa kamu bawa pulang, ini bukan tentang pindah negara. Ini tentang keberanian memilih ruang kerja yang membuat keputusanmu punya napas panjang.
Itulah informasi menarik tentang Shinnosuke Murata yang bisa kamu eksplorasi lebih dalam di artikel populer Akademi crypto di INDODAX. Selain memperluas wawasan investasi, kamu juga bisa terus update dengan berita crypto terkini dan pantau langsung pergerakan harga aset digital di INDODAX Market.
Untuk pengalaman trading yang lebih personal, jelajahi juga layanan OTC trading kami di INDODAX. Jangan lupa aktifkan notifikasi agar kamu selalu mendapatkan informasi terkini seputar aset digital, teknologi blockchain, dan berbagai peluang trading lainnya hanya di INDODAX Academy.
Kamu juga dapat mengikuti berita terbaru kami melalui Google News untuk akses informasi yang lebih cepat dan terpercaya. Untuk pengalaman trading yang mudah dan aman, download aplikasi crypto terbaik dari INDODAX di App Store atau Google Play Store.
Maksimalkan juga aset kripto kamu dengan fitur I NDODAX Staking/Earn, cara praktis untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset yang kamu simpan. Segera register di INDODAX dan lakukan KYC dengan mudah untuk mulai trading crypto lebih aman, nyaman, dan terpercaya!
Dalam praktekknya, transparansi aset kini diadopsi oleh sejumlah platform kripto, salah satunya melalui publikasi data Proof of Reserves (PoR) dari pihak ketiga seperti CoinMarketCap. Di Indonesia, Indodax termasuk platform yang secara rutin memperbarui informasi tersebut agar dapat diakses publik.
Kontak Resmi Indodax
Nomor Layanan Pelanggan: (021) 5065 8888 | Email Bantuan: [email protected]
Ikuti juga sosial media kami di sini: Instagram, X, Youtube & Telegram
FAQ
1. Siapa Shinnosuke Murata dan apa perannya di Murasaki?
Shinnosuke Murata adalah pendiri dan pemimpin Murasaki, sebuah perusahaan yang bergerak di ranah game berbasis blockchain. Perannya mencakup arah strategi produk, pembentukan tim, serta posisi perusahaan dalam ekosistem Web3 gaming yang bergerak cepat dan penuh risiko.
2. Kenapa Shinnosuke Murata meninggalkan Jepang?
Pilihan itu bisa dipahami sebagai keputusan strategis. Industri kreatif Jepang kuat, tetapi ruang eksperimen untuk model bisnis yang bersentuhan dengan aset digital bisa lebih terbatas. Dengan beroperasi dari luar Jepang, Murata mendapat ruang yang lebih luas untuk membangun, merekrut tim internasional, dan menguji model game blockchain secara lebih fleksibel.
3. Apa itu Murasaki dan apa fokus utamanya?
Murasaki adalah perusahaan yang membangun game berbasis blockchain dengan penekanan pada komunitas. Fokusnya bukan hanya membuat aset digital, tetapi merancang pengalaman bermain dan struktur ekonomi yang bisa bertahan lebih lama daripada sekadar tren sesaat.
4. Apa tantangan terbesar di industri GameFi sampai 2026?
Tantangannya biasanya berkisar pada volatilitas pasar, retensi pemain yang sering bergantung pada insentif, isu kepercayaan komunitas, dan desain ekonomi in-game yang rawan timpang. Game yang tidak punya gameplay kuat sering cepat kehilangan pemain ketika insentif melemah.
5. Apa pelajaran bisnis dari keputusan Murata membangun dari Eropa?
Pelajaran utamanya adalah pentingnya memilih lingkungan yang mendukung eksekusi. Ide yang bagus bisa gagal jika ekosistemnya tidak memberi ruang. Dengan memilih basis yang lebih cocok untuk tim global dan uji coba cepat, kamu memperbesar peluang sebuah produk berkembang secara lebih stabil.
Author : RB
DISCLAIMER: Segala bentuk transaksi aset kripto memiliki risiko dan berpeluang untuk mengalami kerugian. Tetap berinvestasi sesuai riset mandiri sehingga bisa meminimalisir tingkat kehilangan aset kripto yang ditransaksikan (Do Your Own Research/ DYOR). Informasi yang terkandung dalam publikasi ini diberikan secara umum tanpa kewajiban dan hanya untuk tujuan informasi saja. Publikasi ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh dianggap sebagai, suatu penawaran, rekomendasi, ajakan atau nasihat untuk membeli atau menjual produk investasi apa pun dan tidak boleh dikirimkan, diungkapkan, disalin, atau diandalkan oleh siapa pun untuk tujuan apa pun.
✕




