Rusia dan Ukraina Sepakati Pertukaran Ratusan Tawanan di UEA
PUTARAN kedua perundingan yang dimediasi Amerika Serikat antara Rusia dan Ukraina berakhir di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Kamis, dengan Moskow dan Kyiv bertukar ratusan tawanan perang. Sementara AS serta Rusia sepakat untuk "membangun kembali dialog militer tingkat tinggi."
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada Rabu bahwa Kyiv mengharapkan pertukaran tawanan perang dengan Rusia "dalam waktu dekat," setelah putaran pertama pembicaraan di Abu Dhabi.
Utusan perdamaian Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, memposting di X pada Kamis pagi seperti dilansir ABC News dengan rincian lebih lanjut tentang pertukaran tersebut, yang menurutnya akan melibatkan 314 tawanan dan akan menjadi pertukaran pertama dalam lima bulan terakhir.
Pada saat itu, masing-masing pihak memulangkan 157 orang yang ditawan. Menurut Zelensky, mereka yang dibebaskan mencakup personel militer dan warga sipil.
"Hasil ini dicapai dari perundingan perdamaian yang rinci dan produktif," tulis Witkoff.
"Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, langkah-langkah seperti ini menunjukkan bahwa keterlibatan diplomatik yang berkelanjutan memberikan hasil nyata dan memajukan upaya untuk mengakhiri perang di Ukraina."
Komando Eropa Amerika Serikat kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa, setelah perundingan di UEA, para negosiator AS dan Rusia juga sepakat "untuk membangun kembali dialog militer tingkat tinggi," yang telah ditangguhkan sejak akhir tahun 2021.
"Menjaga dialog antar militer merupakan faktor penting dalam stabilitas dan perdamaian global, yang hanya dapat dicapai melalui kekuatan, dan menyediakan sarana untuk meningkatkan transparansi dan de-eskalasi," kata EUCOM. "Saluran ini akan menyediakan kontak militer-ke-militer yang konsisten seiring pihak-pihak terkait terus berupaya menuju perdamaian abadi."
Isu Substantif
Kendati demikian, Kyiv dan Moskow gagal mencapai terobosan substantif pada isu-isu inti seperti pengaturan teritorial dan gencatan senjata.
Menurut pihak Ukraina, perundingan awalnya dilakukan dalam format trilateral sebelum dilanjutkan dengan konsultasi kelompok.
Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Rustem Umerov mengatakan delegasi Ukraina mengupayakan "perdamaian yang bermartabat dan langgeng," tanpa mengungkapkan hasil spesifik dari pertemuan tersebut.
Perundingan berakhir tanpa pernyataan politik atau keamanan bersama, yang menegaskan masih adanya perbedaan antara Rusia dan Ukraina dalam sejumlah persoalan utama, termasuk sengketa wilayah, pengaturan gencatan senjata, dan jaminan keamanan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) menyambut baik kerja sama antara Rusia dan Ukraina dalam pertukaran tawanan tersebut, seraya menyatakan hal itu menunjukkan peran UEA sebagai mediator yang dapat diandalkan dalam meredakan krisis dan mendorong dialog yang konstruktif.
Tidak ada pengumuman mengenai jadwal maupun pengaturan untuk putaran perundingan berikutnya, menyoroti ketidakpastian yang masih berlanjut dalam proses penyelesaian politik.
Zelensky mengatakan perundingan damai berikutnya dengan delegasi AS dan Rusia akan segera digelar. "Pertemuan selanjutnya direncanakan dalam waktu dekat, kemungkinan di AS," ujar Zelensky dalam pidato Kamis malam.




