Properti Sebagai Aset Stabil di Tengah Ketidakpastian Global
Sumber Foto: Kompas.com
Berita Pilihan

Properti Sebagai Aset Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

Nalar Media - JAKARTA, KOMPAS.com - Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memicu volatilitas di pasar global, termasuk pada instrumen investasi.

Di tengah ketidakpastian tersebut, properti kerap disebut sebagai salah satu aset yang relatif stabil dibandingkan saham. Namun, apakah benar properti dapat menjadi "safe haven domestic"?

Dalam konteks domestik, properti memang sering dianggap sebagai aset riil yang lebih stabil, terutama saat volatilitas pasar keuangan meningkat.

Meski demikian, properti tidak dapat disamakan dengan aset safe haven yang likuid seperti emas atau dollar.

“Tapi perlu dibedakan juga. Properti ini bukan safe haven liquid seperti emas atau dolar. Jadi memang belum tentu dia mudah dilepas saat dijual,” jelas Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menjawab Kompas.com, Senin (2/3/2026).

Menurut Ferry, properti lebih tepat diposisikan sebagai instrumen hedging (lindung nilai) terhadap inflasi dalam jangka menengah hingga panjang.

Artinya, ketika terjadi tekanan inflasi yang berlangsung cukup lama, aset properti cenderung dapat dipertahankan tanpa harus dilepas secara terburu-buru.

“Properti bisa menjadi hedging atau lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka menengah panjang. Jadi, artinya kalau ada terjadi inflasi yang menengah panjang, properti kita tahan saja dulu. Tidak usah kita buru-buru lepas,” katanya.

Mana Segmen Properti yang Tangguh?

Namun, Ferry mengingatkan bahwa tidak semua segmen properti otomatis mengalami kenaikan nilai saat terjadi krisis.

Aset yang dinilai lebih tangguh biasanya adalah tanah di lokasi strategis atau rumah tapak di kawasan yang sudah matang.

“Biasanya yang lebih resilient atau lebih kuat itu adalah aset-aset seperti tanah di lokasi yang strategis atau rumah tapak di kawasan yang matang,” ujar Ferry.

Sebaliknya, properti yang bergantung pada leverage (manfaat) tinggi dan spekulasi tetap memiliki kerentanan terhadap tekanan ekonomi.

Dia pun menyimpulkan bahwa konflik yang terjadi saat ini memang berpotensi berdampak terhadap industri properti Indonesia, terutama jika memicu inflasi akibat kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, kenaikan suku bunga, serta memburuknya sentimen investor.

“Memang dampaknya cenderung tidak langsung dan bertahap, tergantung dari durasi konflik yang sekarang terjadi. Selama tidak terjadi eskalasi besar yang bisa mengganggu ekonomi global secara sistemik, sektor properti Indonesia relatif stabil dan penyesuaiannya lebih moderat,” tutup Ferry.