Peran Keluarga Dalam Pendidikan: Parenting di MTsN 3 Bantul
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Peran Keluarga Dalam Pendidikan: Parenting di MTsN 3 Bantul

BANTUL --- Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Bantul menggelar Pertemuan Orang Tua (POT) wali murid kelas VII dan VIII pada awal semester genap Tahun Ajaran 2025/2026, Jumat (13/02). Kegiatan parenting yang berlangsung di halaman madrasah mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB ini diikuti oleh ratusan wali murid dalam suasana penuh kekeluargaan dan semangat kolaborasi pendidikan.

Acara diawali dengan pembukaan oleh MC Siti Rofingah, M.Pd., dilanjutkan sambutan Kepala MTsN 3 Bantul, Surini, serta dzikir dan tahlil yang dipimpin Ketua Komite Madrasah, H. Turmudzi. Dalam sambutannya, Surini menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh wali murid yang hadir, sekaligus permohonan maaf atas perubahan lokasi kegiatan yang semula direncanakan di GOR Wukirsari. "Kami mohon maaf karena tempat kegiatan harus dipindahkan ke halaman madrasah, sebab GOR Wukirsari bersamaan dengan kegiatan manasik haji. Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu wali murid yang tetap antusias hadir," ujar Kamad Surini.

Kamad Surini menjelaskan bahwa tema parenting "Tumbuh Bersama Rumah sebagai Madrasah Pertama" dipilih berdasarkan refleksi bahwa waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah dibandingkan di madrasah. Oleh karena itu, peran orang tua menjadi kunci utama dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. "Anak-anak kita membawa karakter masing-masing dari rumah. Mereka memasuki usia remaja, generasi Z yang tumbuh di masa pandemi. Banyak yang menyebut generasi strawberry, mudah tersinggung dan mudah marah jika dinasihati. Maka rumah harus menjadi madrasah pertama yang menanamkan keteladanan," ungkap Kamad Surini.

Kegiatan parenting menghadirkan narasumber Santi Dwi Kristina, S.K.M., M.K.M., praktisi Psikologi Anak. Dalam pemaparannya, Santi mengaitkan tema parenting dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dicanangkan melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025 oleh Kementerian Agama.

Menurut Santi, KBC menekankan konsep Pancacinta, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta sesama, cinta lingkungan, dan cinta tanah air. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan di madrasah, tetapi harus ditanamkan sejak dini melalui keteladanan orang tua di rumah.

Santi menjelaskan bahwa cinta kepada Allah dan Rasul dapat ditumbuhkan melalui pembiasaan ibadah tepat waktu, bershalawat, serta meneladani akhlak Rasulullah. Sementara cinta sesama dapat diajarkan melalui sikap saling membantu, kasih sayang antaranggota keluarga, dan perlakuan adil orang tua terhadap anak. "Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Bagaimana ayah memperlakukan ibu dan bagaimana ibu menarasikan ayah kepada anak, semuanya menjadi contoh yang akan ditiru," jelas Santi.

Santi juga menyampaikan bahwa dalam keluarga yang kurang harmonis, orang tua dapat memulai perbaikan melalui tiga langkah, yakni memohon ampun kepada Allah, meminta maaf kepada pasangan, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan. Dalam aspek cinta lingkungan, orang tua diharapkan menanamkan kepedulian menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar. Sedangkan cinta tanah air dapat ditumbuhkan melalui sikap disiplin dan semangat belajar sebagai pelajar.

Santi menegaskan bahwa penerapan nilai Pancacinta secara konsisten akan membentuk anak yang memiliki iman kuat, akhlak mulia, dan tanggung jawab hidup. "Masalah mendidik anak jangan hanya pasrah kepada madrasah. Semua kembali ke rumah. Madrasah nomor dua, hanya membantu mewujudkannya. Rumah adalah kunci atau teladan pertama dan utama," tegas Santi.

Santi juga mengingatkan bahwa pendidikan anak membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan pendampingan yang berkelanjutan. Tidak ada hasil instan dalam pendidikan karakter. "Jangan berharap semua langsung berhasil. Semua butuh proses. Bersabarlah, pahami anak, dan dampingi mereka dengan penuh perhatian," imbuhnya.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif wali murid. Panitia juga membagikan doorprize sebagai bentuk apresiasi kepada wali murid yang bertanya dan berbagi pengalaman. Kegiatan semakin semarak dengan yel-yel "Tepuk Cinta, Tepuk Ikhlas, Tepuk Cinta, Ikhlas, dan Semangat" yang menggugah motivasi peserta.

Di akhir kegiatan, Kamad Surini memberikan pengarahan terkait agenda siswa selama libur awal Ramadan dan selama bulan Ramadan. Beliau menghimbau orang tua untuk memperhatikan dan mendampingi kegiatan ibadah putra-putrinya agar Ramadan menjadi momentum pembentukan karakter spiritual dan akhlak mulia. "Kami berharap orang tua ikut mengawal kegiatan anak-anak selama Ramadan, baik shalat, mengaji, maupun kegiatan keagamaan lainnya, agar pembinaan karakter berjalan seimbang antara rumah dan madrasah," tutup Kamad Surini.