Pentingnya Komunikasi Hangat untuk Kesehatan Emosional Anak
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Pentingnya Komunikasi Hangat untuk Kesehatan Emosional Anak

RRI.CO.ID, Jakarta - Anak yang merasa aman berbicara dengan orang tuanya cenderung lebih kuat menghadapi tekanan sosial di lingkungan pergaulan. Rasa aman itu lahir bukan dari sikap menghakimi, melainkan dari komunikasi yang hangat dan konsisten sejak dini.

Hal tersebut disampaikan H.M. Faried Saenong, Wakil Direktur Voice of Istiqlal, dalam program Syiar Ramadan di 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta. Ia menekankan pentingnya orang tua menyiapkan diri sebagai tempat curhat yang nyaman bagi anak.

Menurut Faried, anak pada dasarnya membutuhkan sosok untuk diajak berbicara. Ketika sejak awal orang tua terbiasa menanyakan hal-hal sederhana seperti kegiatan hari itu atau teman bermainnya, maka ikatan emosional akan terbangun secara alami. Kebiasaan kecil ini menjadi fondasi agar anak tidak canggung bercerita ketika menghadapi persoalan yang lebih serius.

Dalam perbincangan bertema “Pendidikan Cinta dalam Keluarga, Parenting Islami” itu, Faried menjelaskan bahwa pendidikan cinta salah satunya terwujud melalui komunikasi. Orang tua tidak bisa tiba-tiba berharap anak terbuka jika sejak awal tidak membangun kebiasaan dialog.

“Yang repot kalau anak tidak mau bicara sama kita. Bahkan saat ditanya pun tidak menjawab. Itu harus jadi tanda tanya besar bagi orang tua,” ujarnya.

Ia menambahkan, anak-anak umumnya sangat ekspresif. Jika mereka mendadak tertutup di hadapan orang tua, bisa jadi ada persoalan yang belum terurai. Karena itu, orang tua perlu peka terhadap perubahan sikap tersebut.

Lebih jauh, Faried mengingatkan bahwa menerima curhatan anak juga memerlukan keterampilan tersendiri. Respons yang bernada menyalahkan dapat membuat anak enggan bercerita lagi di kemudian hari. Menjelaskan mana yang benar dan salah tetap penting, tetapi harus dilakukan dengan cara yang bijak dan tidak menghakimi.

Menurutnya, tidak semua orang tua memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman yang memadai dalam hal pengasuhan. Namun, setiap orang tua tetap bisa belajar membangun kedekatan dengan anak. Kedekatan inilah yang menjadi kunci agar anak tidak mencari pelarian di luar rumah ketika menghadapi tekanan sosial.

“Walaupun ada jarak fisik, sekarang sarana komunikasi sudah banyak. Yang penting anak merasa kita selalu ada dan siap mendengarkan,” katanya.

Melalui pendidikan cinta yang dimulai dari rumah, keluarga diharapkan menjadi ruang pertama yang aman bagi anak untuk tumbuh, berbagi, dan menguatkan diri menghadapi dinamika pergaulan.