Orangtua Gen Z Beralih dari Gentle Parenting ke Pendekatan Hybrid
KOMPAS.com – Pola asuh selalu berubah dari generasi ke generasi. Jika generasi milenial identik dengan gentle parenting, studi terbaru menunjukkan orangtua Gen Z mulai bergerak ke arah berbeda.
Survei yang dilakukan oleh Kiddie Academy terhadap 2.000 orangtua dengan anak usia 0 hingga 6 tahun menemukan, bahwa orangtua Gen Z tidak lagi terpaku pada satu pendekatan pengasuhan.
Mereka cenderung menggabungkan beberapa gaya sekaligus, menyesuaikannya dengan situasi dan kebutuhan anak.
Gentle parenting tak lagi jadi pilihan utama orangtua Gen Z
Selama beberapa tahun terakhir, gentle parenting dikenal luas sebagai pendekatan yang mengedepankan empati dan komunikasi tanpa hukuman keras.
Namun, hanya sekitar 38 persen orangtua Gen Z yang mengaku menggunakan pendekatan ini secara dominan.
“Sebagian besar atau 4 dari 5, orangtua yang disurvei sepakat bahwa tidak ada pendekatan tunggal yang cocok untuk semua dalam mengasuh anak,” kata CEO Kiddie Academy, Casey Miller, disadur dari Parents, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, sebagian besar orangtua Gen Z memilih pendekatan hybrid yang memadukan rata-rata tiga gaya pengasuhan berbeda.
“Secara umum, orangtua yang lebih muda percaya bahwa gaya pengasuhan harus dipadukan dan digunakan tergantung pada keadaan,” ujarnya.
Pendekatan ini mencerminkan fleksibilitas serta kesadaran bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda.
Fokus menyiapkan anak hadapi dunia nyata
Hasil survei juga menunjukkan perbedaan prioritas antara Gen Z dan milenial. Sebanyak 54 persen orangtua Gen Z menempatkan persiapan menghadapi dunia nyata sebagai tujuan utama pengasuhan.
Sebaliknya, orangtua milenial lebih menitikberatkan dukungan mental dan emosional.
Perbedaan ini menandakan adanya pergeseran nilai, sebab Gen Z ingin anak-anak mereka memahami konsekuensi nyata sejak dini.
Sebanyak 31 persen responden Gen Z menerapkan pendekatan cause-and-effect atau sebab-akibat, yang menekankan konsekuensi logis atas perilaku anak.
Sementara itu, 37 persen mengadopsi pola cycle-breaking, yaitu upaya menyembuhkan trauma pengasuhan lintas generasi. Ada pula 33 persen yang menggunakan attachment parenting dan 20 persen memilih child-led parenting.
Dalam situasi nyata, misalnya ketika anak tantrum di mobil, 42 persen orangtua memilih menepi hingga anak tenang, 40 persen menunggu sampai di rumah untuk memberikan konsekuensi, dan 34 persen menyita mainan selama perjalanan.




