Orangtua Didorong Amati Perkembangan Bakat Anak Tanpa Memaksakan
Nalar Media - SURABAYA, KOMPAS.com - Menentukan arah masa depan anak sering menjadi dilema bagi banyak orang tua. Di satu sisi, orang tua tentu berharap anak dapat meraih masa depan yang cerah. Namun di sisi lain, harapan dan ambisi tersebut kadang tanpa disadari justru membatasi ruang anak untuk mengenali dan mengembangkan potensi dirinya sendiri.
Padahal, proses menemukan bakat dan minat merupakan perjalanan yang tidak selalu bisa dipastikan sejak dini.
Psikolog Dra Astrid Regina Sapiie MPsiT menilai, bakat anak tidak bisa dipastikan sejak usia dini karena perkembangan psikologisnya terus berubah seiring waktu.
“Seperti contohnya dulu saat saya masih kecil ditanya mau jadi apa saya jawab ingin menjadi seperti kakek saya,” kata psikolog yang biasa disapa Astrid itu kepada jurnalis termasuk Kompas.com.
Menurutnya, jawaban anak mengenai cita-cita sering kali dipengaruhi oleh lingkungan terdekat. Seiring bertambah usia, pengalaman dan pengetahuan baru dapat mengubah minat mereka.
Karena itu, menentukan masa depan anak sejak terlalu dini justru berpotensi membatasi perkembangannya.
Tes Bakat Sebaiknya Saat Anak Lebih Matang
Dalam praktik psikologi, tes minat dan bakat memang sering digunakan untuk membantu melihat kecenderungan potensi seseorang. Namun ia menilai tes tersebut sebaiknya tidak dilakukan terlalu dini.
Ia menyarankan tes minat dan bakat dilakukan saat anak sudah berada di jenjang SMP atau SMA, ketika mereka mulai memahami pilihan pendidikan dan karier.
“Jadi saat usia masih anak-anak sampai SD lebih baik diperhatikan dan diobservasi polanya sambil kita beri rangsangan,” imbuhnya.
Dimana pada masa itu orang tua dapat melihat bagaimana anak bermain, berinteraksi dengan teman, hingga kegiatan apa yang paling membuatnya antusias.
Untuk itu Astrid mengingatkan bahwa hasil tes minat bakat tidak seharusnya menjadi keputusan mutlak bagi masa depan anak. Sebab ia pernah menemukan kasus di mana orang tua terlalu kaku memegang hasil tes tersebut.
Ia mencontohkan seorang anak pernah mengikuti tes minat bakat saat masih sekolah dasar dan hasilnya menunjukkan potensi menjadi dokter. Namun dalam perjalanan waktu, minat anak tersebut berubah.
Sayangnya, orang tua tetap memaksakan profesi tersebut karena berpegang pada hasil tes. Padahal minat dan potensi anak dapat berkembang atau berubah seiring pengalaman hidup.
“Seolah-olah itu menjadi palu godam yang dicapkan ke anak dan seumur hidup harus jadi dokter,” ujar psikolog yang praktek di Siloam Hospital Surabaya itu.
Lihat Foto
Anak Perlu Mencoba Banyak Hal
Kecerdasan anak tidak hanya dilihat dari kemampuan akademik. Ada berbagai jenis kecerdasan yang bisa dimiliki seseorang.




