Menteri PPPA: Koperasi Merah Putih Kunci Ketahanan Keluarga dan Pendidikan
Sumber Foto: kabarpublik
Sosial

Menteri PPPA: Koperasi Merah Putih Kunci Ketahanan Keluarga dan Pendidikan

Dengarkan dgn suara Siap

23.8K pembaca

PADANG (kabarpublik.id) – Arifah Fauzi menegaskan Koperasi Kelurahan Merah Putih bukan sekadar lembaga ekonomi, tetapi instrumen strategis negara untuk memperkuat ketahanan keluarga, memperluas akses pendidikan, dan menghadirkan layanan perlindungan yang dekat dengan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan saat dialog bersama warga di Koperasi Kelurahan Merah Putih Balai Gadang, Kota Padang, Kamis (19/2/2026).

Koperasi Jadi Ekosistem Ekonomi Keluarga

Menteri PPPA mendorong keluarga memanfaatkan peluang ekonomi, mulai dari menanam komoditas pangan di pekarangan hingga mengembangkan usaha ternak kecil. Hasil produksi warga diharapkan diserap koperasi agar tercipta ekosistem ekonomi berkelanjutan di tingkat kelurahan.

Baca Berita Lainnya

Bupati dan DPRD Tanah Datar Setujui Lagi Tiga Ranperda menjadi Perda

Berkah Ramadan, Kongsi Covid Antarkan Pemko Padang Terima Penghargaan

Gubernur Mahyeldi Bantu LPHN untuk Gerakan Perekonomian Masyarakat Kawasan Hutan

Menurutnya, penguatan ekonomi desa menjadi fondasi ketahanan sosial keluarga.

Pendidikan dan Kesehatan Jadi Prioritas

Di sektor pendidikan, Arifah menekankan tidak boleh ada anak Indonesia putus sekolah karena faktor ekonomi. Program Sekolah Rakyat disebut sebagai solusi bagi anak dari keluarga kurang mampu agar tetap memperoleh pendidikan layak, termasuk dukungan fasilitas belajar dan pemenuhan gizi.

“Pendidikan adalah hak konstitusional. Pemerintah desa harus proaktif mendata anak yang belum sekolah dan memastikan mereka terhubung dengan program yang tersedia,” ujarnya.

Di bidang kesehatan, masyarakat diajak memanfaatkan program cek kesehatan gratis untuk deteksi dini penyakit sebagai langkah preventif.

Respons Tantangan Pengasuhan di Era Digital

Menteri PPPA juga menyoroti tantangan pengasuhan anak di era digital. Berdasarkan aspirasi Forum Anak, masih ada anak yang mengalami tekanan emosional namun kesulitan menyampaikannya kepada orang tua.

Sebagai solusi, gerai apotek di koperasi direncanakan berkembang menjadi ruang konsultasi dengan dukungan psikolog bekerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait.

“Keluarga harus menjadi ruang aman pertama bagi anak. Negara wajib hadir melalui layanan yang mudah dijangkau,” kata Arifah.

Ia menambahkan, penguatan nilai agama, budi pekerti, norma budaya, pengawasan penggunaan gawai, serta komunikasi terbuka dalam keluarga menjadi strategi membangun ketahanan mental anak.

Tinjau Klinik UMKM Minang Bangkit

Dalam kunjungan kerjanya, Menteri PPPA juga meninjau Klinik UMKM Minang Bangkit yang diinisiasi pemerintah bersama Kementerian UMKM untuk mempercepat pemulihan usaha pascabencana di Sumatera Barat.

Klinik tersebut menyediakan pendampingan usaha, akses pembiayaan, konsultasi manajemen, serta fasilitasi pemasaran dan produksi.

Arifah menegaskan mayoritas pelaku UMKM desa adalah perempuan yang menopang ekonomi keluarga. Karena itu, penguatan UMKM berkaitan langsung dengan agenda pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Ia juga mengarahkan agar Klinik UMKM Minang Bangkit menjadi simpul informasi perlindungan perempuan dan anak dengan menyosialisasikan Call Center SAPA129 bagi korban kekerasan atau persoalan hukum.

Ditag #MENTERI PPPA #PERLINDUNGAN ANAK Arifah Fauzi Kementerian UMKM ketahanan keluarga Koperasi Kelurahan Merah Putih Kota Padang Pemberdayaan Perempuan SAPA129 Sekolah Rakyat Sumatera Barat UMKM Minang Bangkit

Posting Terkait

DPRD Jabar Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

DWP Kemenpora Raih Penghargaan DWP Mengajar pada Halalbihalal dan Peringatan Hari Kartini

Mentan Amran Salurkan Bantuan Rp1 Miliar untuk Warga Terdampak di Padang Pariaman

Kemenag Perkuat Perlindungan Anak Lewat Bimbingan Pascaperkawinan

Kemkomdigi Selidiki Ketidaksesuaian Rating Usia Game di Steam

oleh Eky

Ikuti Kami Pada

Navigasi pos

Pos sebelumnya Pemerintah dan IGC Siapkan Buku Tumpeng Indonesia untuk Go Global

Pos berikutnya Bukan Lagi Soal Anggaran, Kemdiktisaintek Dorong Riset Berbasis Masalah Nyata