Mengembangkan Potensi Anak Sejak Dini untuk Indonesia Emas 2045
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Mengembangkan Potensi Anak Sejak Dini untuk Indonesia Emas 2045

Nalar Media - KOMPAS.com - Visi Indonesia Emas 2045 kerap dipahami sebagai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Namun, lebih dari sekadar angka, visi tersebut sesungguhnya merupakan mandat besar untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berdaya saing global, serta berkeadilan sosial. Lalu, di manakah titik mula pembangunan SDM unggul tersebut?

Anggota ECED Council Indonesia sekaligus Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (BAN PDM) periode 2023–2028, Gutama, mengatakan bahwa fondasi itu justru dimulai jauh sebelum seseorang memasuki perguruan tinggi atau sekolah menengah, yakni sejak masa anak usia dini.

“Pembangunan SDM unggul tidak dimulai di bangku perguruan tinggi atau sekolah menengah, tetapi pada fase awal kehidupan manusia, yaitu sejak usia dini,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (11/3/2026).

Pada fase tersebut, anak-anak memiliki modalitas alami berupa rasa ingin tahu yang tinggi, kreativitas tanpa batas, serta kemampuan berpikir kritis yang tumbuh secara organik.

“Jika potensi alami anak ini kita kelola dengan baik, kita sedang menyiapkan generasi yang kelak mampu membawa Indonesia memimpin di kancah global,” tegas Gutama.

Anak sebagai peneliti kecil

Bagi banyak orang dewasa, pertanyaan anak-anak seperti “Mengapa langit biru?” atau “Kenapa air bisa tumpah?” sering kali terasa melelahkan.

Namun, menurut Gutama, pertanyaan-pertanyaan tersebut sesungguhnya adalah bagian dari proses berpikir ilmiah.

“Anak-anak sebenarnya adalah peneliti kecil. Mereka mengamati fenomena, membangun dugaan, melakukan percobaan, lalu belajar dari hasilnya. Inilah siklus berpikir ilmiah yang menjadi fondasi inovasi di masa depan,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran tokoh pendidikan Jean Piaget. Dalam bukunya berjudul The Origins of Intelligence in Children (1952), Piaget menolak anggapan bahwa anak adalah “gelas kosong” yang hanya menerima pengetahuan secara pasif. Sebaliknya, anak membangun pemahaman melalui pengalaman langsung.

Misalnya, saat seorang anak menyusun balok lalu menjatuhkannya, mereka tidak sekadar bermain, melainkan sedang menguji hipotesis tentang gravitasi, keseimbangan, serta hubungan sebab akibat.

Pemikiran itu juga diperkuat oleh teori Lev Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif anak.

“Ketika orangtua atau guru tidak langsung memberikan jawaban, tetapi justru memancing dengan pertanyaan seperti ‘Menurutmu, mengapa itu terjadi?’, mereka sebenarnya sedang membantu anak membangun struktur berpikir yang lebih kompleks,” jelas Gutama.

Pendekatan tersebut yang kini mulai diadopsi dalam kurikulum pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia dengan menempatkan anak sebagai subjek aktif dalam proses belajar.

Didukung bukti ilmiah

Gagasan tentang anak sebagai peneliti kecil juga didukung berbagai penelitian ilmiah. Dalam bukunya The Scientist in the Crib (1999), psikolog perkembangan Alison Gopnik menjelaskan bahwa otak anak secara alami dirancang untuk membangun teori tentang dunia di sekitarnya.