Lailah Qiro’atil Kutub: Ujian Pemahaman Santri Non-Takhosus di Mahad Darul Hikmah
Mahad Darul Hikmah MAN 1 Kota Malang mengadakan ujian membaca dan menafsirkan kitab kuning melalui acara Lailah Qiro’atil Kutub Batch 4. Kegiatan ini ditujukan untuk santri kelas 12 dari jalur reguler non-takhosus dan non-MAPK, memberikan kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan pemahaman terhadap literatur klasik Islam.
Sebanyak 11 santri berpartisipasi dalam ujian yang berlangsung di Masjid Darul Hikmah. Dalam acara tersebut, para santri diminta untuk membaca bagian kitab yang telah ditentukan, kemudian menjelaskan makna dan konteksnya secara lisan di hadapan para pengasuh dan asatidz.
Situasi acara berlangsung sederhana tanpa panggung atau seremoni berlebih, namun tetap menuntut konsentrasi dan keberanian intelektual dari para peserta.
Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya yang melibatkan santri program Takhosus-MAPK, kali ini kegiatan lebih fokus pada santri reguler. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan tantangan yang setara, sekaligus melakukan evaluasi terhadap kemampuan santri di luar kelas khusus dalam mengakses dan memahami khazanah keilmuan klasik secara mandiri.
Mudir Mahad Darul Hikmah, Ustaz Syarifuddin, M.Pd., MA.TESOL, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengukur kesiapan santri dalam menghadapi tradisi keilmuan pesantren secara menyeluruh. "Kami ingin melihat bagaimana santri membaca kitab, menangkap maksud penulisnya, lalu menyampaikannya dengan bahasa mereka sendiri. Di situ terlihat proses berpikirnya," katanya.
Menurutnya, kemampuan membaca kitab kuning tidak hanya sebatas pada kelancaran teknis. "Yang lebih penting adalah keberanian santri untuk memahami dan menjelaskan isi kitab. Ini melatih nalar, bukan sekadar hafalan," tambahnya.
Melalui Lailah Qiro’atil Kutub, Mahad Darul Hikmah memposisikan kitab klasik bukan hanya sebagai simbol akademik, tetapi juga sebagai alat pembelajaran yang hidup. Santri tidak hanya diuji, tetapi juga diajak untuk menyadari bahwa tradisi keilmuan Islam menuntut ketekunan, ketelitian, dan keberanian berpikir kritis sejak dini.




