Komunitas 1Saksemen.id Perbaiki Masjid dan Langgar Melalui Amal Jariyah
POJOKBANUA, BARABAI – Dari niat sederhana menghadiahkan amal jariyah untuk keluarga yang telah berpulang, sebuah gerakan sosial kini tumbuh dan memberi manfaat luas. Komunitas 1Saksemen.id selama hampir tiga tahun terakhir konsisten membantu perbaikan masjid dan langgar di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Komunitas yang digagas Auzan dan Ubaid ini lahir dari kepedulian terhadap kondisi rumah ibadah yang membutuhkan sentuhan perbaikan. Bukan sekadar mengumpulkan donasi, 1Saksemen hadir langsung ke lapangan, menyurvei kebutuhan, hingga ikut terlibat dalam proses perbaikan.
Founder 1Saksemen.id, Auzan mengatakan, gerakan ini bermula dari keinginan pribadi untuk menghadiahkan amal jariyah bagi adik dan keluarga yang telah meninggal dunia.
“Awalnya hanya niat bersedekah ke masjid dan langgar sebagai amal jariyah untuk keluarga yang sudah berpulang. Ternyata niat itu berkembang dan kami jalankan secara konsisten,” ujarnya kepada pojokbanua.com, Sabtu (7/2/2026).
Menurut Auzan, dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Kabupaten Hulu Sungai Tengah sejatinya memiliki potensi besar untuk merawat rumah ibadah secara mandiri, asalkan ada kepedulian bersama.
“Kalau umat Muslim di HST kompak dan peduli terhadap masjid serta langgarnya, perbaikan tidak akan terkendala dana,” katanya.
Setelah berjalan sekitar dua bulan, 1Saksemen mulai mengajak masyarakat luas untuk terlibat. Kini, komunitas tersebut hampir memiliki 200 anggota aktif dan telah membantu perbaikan 31 masjid dan langgar di berbagai wilayah HST.
Founder 1Saksemen.id lainnya, Ubaid menjelaskan, bantuan yang diberikan menyesuaikan kondisi dan tingkat urgensi masing-masing rumah ibadah, mulai dari perbaikan fisik bangunan, fasilitas ibadah, hingga kebutuhan penunjang lainnya.
“Semua bantuan berdasarkan survei lapangan atau permintaan langsung dari pengurus masjid dan langgar,” ucapnya.
Menariknya, seluruh proses dikerjakan secara gotong royong. Tim 1Saksemen turun langsung ke lapangan, sementara biaya operasional kegiatan ditanggung secara pribadi oleh tim.
“Dana donasi murni kami gunakan untuk bantuan. Operasional lapangan kami tanggung sendiri,” ungkap Ubaid.
Soal transparansi, 1Saksemen menerapkan sistem pelaporan terbuka kepada seluruh anggota komunitas.
“Laporan dana, nota pembelian, dan dokumentasi penyerahan bantuan selalu kami sampaikan di grup komunitas,” lanjutnya.
Selama menjalankan kegiatan, Ubaid mengaku hampir tidak menemui hambatan berarti karena dukungan kuat dari masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah, warga HST sangat mendukung dan ikut membantu di lapangan,” imbuhnya.
Ke depan, 1Saksemen berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk terlibat, serta adanya perhatian pemerintah daerah terhadap perbaikan rumah ibadah.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa menyediakan anggaran khusus untuk perbaikan masjid dan langgar secara bertahap sesuai tingkat urgensi,” pungkas Ubaid. (AS/KW)




