Keluarga Pemulung Hidup dalam Ketidakpastian di Dekat Lapangan Padel Mewah
Sumber Foto: Tribunbanyumas.com
Sosial

Keluarga Pemulung Hidup dalam Ketidakpastian di Dekat Lapangan Padel Mewah

Ringkasan Berita:

Kondisi hunian keluarga asal Tasikmalaya yang kini telah ber-KTP Banyumas ini sangat memprihatinkan.

Hanya berjarak sekitar 50 meter dari keriuhan warga bermobil yang asyik bermain di lapangan padel mewah, satu keluarga pemulung harus bertaruh nyawa tinggal di sebuah gubuk sempit yang dikepung tumpukan botol plastik dan ancaman binatang melata.

Bau menyengat dan serangga seperti lalat hingga tawon menjadi teman sehari-hari.

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO – Sebuah pemandangan kontras yang menyayat hati tersaji di jantung Kota Purwokerto.

Hanya berjarak sekitar 50 meter dari keriuhan warga bermobil yang asyik bermain di lapangan padel mewah, satu keluarga pemulung harus bertaruh nyawa tinggal di sebuah gubuk sempit yang dikepung tumpukan botol plastik dan ancaman binatang melata.

Di gubuk tanpa kompor dan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) tersebut, Andai Iskandar (74), Edah (70), Nia Purnamasari (42), dan Aura (10) menggantungkan hidup dari hasil memulung yang hanya berkisar Rp20 ribu per hari.

Ironisnya, rumah yang lebih mirip gudang sampah ini terletak di area yang kini menjadi pusat tren olahraga kalangan menengah ke atas di Banyumas.

Tidur Sejengkal dari Sampah dan Ular

Kondisi hunian keluarga asal Tasikmalaya yang kini telah ber-KTP Banyumas ini sangat memprihatinkan.

Bau menyengat dan serangga seperti lalat hingga tawon menjadi teman sehari-hari.

Bahkan, ancaman keselamatan nyata sering muncul dari balik tumpukan barang rongsokan.

"Beberapa hari lalu sempat ada ular yang masuk ke gubuk. Lalat, tawon, dan kadal sudah biasa hilir mudik di antara botol plastik yang hanya sejengkal dari tempat tidur," ujar Nenek Edah saat ditemui, Selasa (17/2/2026).

Keluarga ini tidak memiliki akses sanitasi.

Untuk urusan buang air, mereka harus menumpang di sekolah dasar terdekat, sementara untuk mandi mereka hanya mengandalkan bilik kecil seadanya.

Kondisi kemiskinan di Purwokerto ini semakin getir karena Kakek Iskandar kini hanya bisa terbaring lemas akibat sakit menahun pasca-kecelakaan.

Denting Raket Padel di Tengah Kelaparan

Di saat malam tiba, gemerlap lampu dan suara denting raket dari lapangan padel di dekatnya seolah menjadi pengingat jurang sosial yang lebar.

Lapangan tersebut selalu ramai hingga tengah malam oleh pengunjung yang datang dengan kendaraan mewah. Namun, bagi keluarga Nia, area itu adalah wilayah yang tak terjangkau.