Kedatangan Burung Migran Rusia dan China di Jawa Timur: Tanda Alam untuk Ekosistem
Sumber Foto: Unikma.ac.id
Internasional

Kedatangan Burung Migran Rusia dan China di Jawa Timur: Tanda Alam untuk Ekosistem

Nalar Media - Unikma.ac.id – Langit dan hamparan persawahan di wilayah Kediri, Tulungagung, hingga pesisir Trenggalek di Jawa Timur belakangan ini riuh oleh ribuan “tamu” tak biasa. Kawanan burung dengan ciri khas paruh panjang dan warna monokrom terpantau memadati area lahan basah. Kehadiran burung-burung yang diketahui berasal dari Rusia dan China ini sempat memicu tanda tanya di tengah masyarakat: Pertanda apakah ini?

Masyarakat tidak perlu cemas atau mengaitkannya dengan hal mistis maupun firasat buruk tentang pertanian. Kedatangan ribuan unggas lintas benua ini murni merupakan fenomena sains dan siklus alamiah yang justru memberikan keuntungan tak terduga bagi ekosistem lokal.

Bukan Pertanda Mistis, Melainkan Siklus Bertahan Hidup

Menjawab teka-teki masyarakat, fenomena ini adalah siklus migrasi tahunan. Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra menjelaskan, burung-burung ini bermigrasi lantaran belahan bumi utara sedang dilanda musim dingin ekstrem.

Akibat membekunya alam di daratan Siberia (Rusia) dan China, pasokan makanan menipis. Kondisi ini memaksa mereka terbang berkoloni melintasi berbagai negara mencari wilayah tropis yang hangat, seperti Indonesia, hingga beberapa di antaranya meneruskan perjalanan ke Australia.

Indonesia merupakan salah satu titik persinggahan krusial dalam Jalur Terbang Asia Timur-Australia (East Asian-Australasian Flyway). Umumnya, burung-burung ini tiba di Indonesia mulai bulan Oktober hingga November, lalu akan kembali ke negara asalnya untuk berkembang biak pada kisaran bulan Maret hingga Mei saat suhu di belahan bumi utara mulai menghangat.

Sahabat Petani, Bukan Hama Pemakan Padi

Mitos terbesar yang beredar di kalangan petani adalah ketakutan bahwa ribuan burung ini akan memangsa tanaman padi. Namun, hal itu terpatahkan oleh fakta di lapangan.

Burung-burung migran ini rupanya sama sekali tidak memakan padi. Makanan utama mereka adalah serangga, cacing kecil, dan invertebrata air yang mendiami area persawahan. Secara tidak langsung, kawanan burung ini justru menjadi sahabat petani yang membantu membasmi hama serangga secara alami. Selain itu, mereka tidak menciptakan kompetisi pencarian pakan dengan jenis burung lokal, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Tujuh Spesies Teridentifikasi dan Potensi Ruang Edukasi

Populasi burung yang singgah mencapai angka fantastis. Dalam satu pengamatan di satu petak sawah Desa Jatimulyo, Tulungagung, terpantau sekitar 5.000 individu burung. Jika tren kunjungan ini terus stabil, BBKSDA menyebut kawasan Tulungagung-Kediri berpotensi diusulkan sebagai salah satu jalur terbang resmi (flyway) migrasi burung di Pulau Jawa.

Selama dua tahun pemantauan, BBKSDA Jatim mencatat ada tujuh jenis burung migran yang singgah, di antaranya:

Trinil Pantai (Actitis hypoleucos)

Trinil Semak (Tringa glareola)

Kicuit Kerbau (Motacilla tschutschensis)

Cerek Kernyut (Pluvialis fulva)

Cerek Kalung-Kecil (Charadrius dubius)

Terik Asia (Glareola maldivarum)

Layang-layang Asia (Hirundo rustica)

Momen langka ini turut diubah menjadi ruang edukasi (Bird Walk). BBKSDA Jatim menggandeng komunitas pecinta alam, seperti Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung, untuk turun langsung ke lapangan. Mahasiswa diajak memantau, mencatat, dan menggambar ciri-ciri burung, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap keanekaragaman hayati.

Ancaman Serius, Alih Fungsi Lahan Basah

Walaupun Indonesia menjadi “rumah singgah” yang nyaman, habitat satwa ini sedang menghadapi ancaman lingkungan. Dosen Biologi Universitas Andalas, Wilson Novarino, memperingatkan bahwa reklamasi pesisir pantai dan maraknya alih fungsi lahan basah menjadi permukiman atau ladang kering dapat menghilangkan stepping stone (batu pijakan) tempat para burung ini beristirahat.

Tanpa lahan basah yang sehat, burung-burung air ini akan kehilangan suplai makanan di tengah perjalanan panjang mereka. Jika habitat tersebut rusak, dampaknya tidak hanya terasa secara lokal, tetapi juga bisa memicu penurunan populasi burung migran secara global.

Harus jadi Tuan Rumah yang Baik

Pertanda kedatangan burung Rusia dan China ini adalah sebuah pesan alam agar kita terus menjaga kelestarian lingkungan. Pemerintah, masyarakat, dan para pengamat mengimbau warga agar tidak melakukan perburuan liar dan bersedia menjadi “tuan rumah yang baik” bagi tamu-tamu bersayap ini.

Menjaga lahan basah dan membiarkan mereka mencari makan di sawah adalah kunci untuk memastikan warisan jalur migrasi langit ini tetap lestari di masa depan.

*Penyusunan artikel dengan bantuan AI

Penulis: Tim Humas Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah

Editor: Muhamad Ridlo

Referensi:

https://lestari.kompas.com/read/2026/01/30/150800386/burung-rusia-dan-china-migrasi-ke-jawa-timur-alih-fungsi-lahan-basah-ancam?page=all

https://jatim.viva.co.id/kabar/24066-ternyata-ribuan-burung-migrasi-dari-rusia-cina-di-kediri-tulungagung-tak-memakan-padi

https://www.detik.com/jatim/berita/d-8306118/mengamati-migrasi-burung-dari-rusia-dan-cina-di-tulungagung