Kebersamaan Keluarga sebagai Fondasi Parenting Islami di Bulan Ramadan
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Kebersamaan Keluarga sebagai Fondasi Parenting Islami di Bulan Ramadan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kebersamaan yang kerap hilang karena kesibukan, justru menemukan momentumnya di bulan Ramadan. Waktu sahur, berbuka, hingga tarawih bersama menjadi ruang langka yang mempertemukan orang tua dan anak dalam suasana yang hangat dan penuh perhatian.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Voice of Istiqlal, H.M. Faried Saenong dalam program Syiar Ramadan di 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta. Menurutnya, Ramadan menghadirkan kesempatan emas bagi keluarga untuk membangun kembali kualitas relasi yang selama ini tergerus rutinitas.

Ia mencontohkan, regulasi perkantoran yang memungkinkan pegawai pulang lebih awal selama Ramadan sejatinya merupakan bentuk dukungan sosial agar keluarga bisa berbuka bersama. Meski kemacetan kerap menjadi tantangan, semangat untuk tiba di rumah sebelum magrib menjadi simbol pentingnya kebersamaan.

Di tengah perbincangan, tema “Pendidikan Cinta dalam Keluarga, Parenting Islami” mengemuka sebagai inti refleksi. Faried menilai parenting dalam Islam bukan sekadar teori pengasuhan, melainkan praktik memberi teladan. Orang tua, kata dia, adalah contoh pertama dan utama bagi anak. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak, namun pada dasarnya siapa pun yang paling banyak membersamai anak, dialah pendidik utamanya.

Ramadan, lanjutnya, menyediakan banyak momen edukatif: sahur bersama, berbuka puasa, tarawih di masjid, hingga silaturahmi keluarga. Aktivitas-aktivitas sederhana itu menjadi sarana pembelajaran nilai, dari kesabaran hingga empati. Kebersamaan tersebut sulit ditemukan di luar Ramadan, terutama bagi keluarga di perkotaan yang ritme hidupnya serba cepat.

Faried juga mengingatkan bahwa mendidik anak berarti menyiapkan mereka untuk masa depan yang berbeda dengan zaman orang tuanya. Ia mengutip nasihat klasik agar anak dididik sesuai dengan zamannya. Artinya, orang tua perlu memadukan nilai-nilai agama dengan pendekatan ilmu pengetahuan modern, termasuk psikologi dan perkembangan anak.

Menurutnya, tanggung jawab orang tua bahkan dimulai sebelum anak lahir. Dalam Islam, doa, suasana batin ibu hamil, hingga bacaan Al-Qur’an yang diperdengarkan menjadi bagian dari pendidikan awal. Semua itu merupakan wujud cinta yang diwujudkan dalam perhatian yang konsisten.

Ia menambahkan, mengenalkan anak pada keluarga besar juga bagian penting dari parenting Islami. Hubungan dengan paman, bibi, dan sahabat orang tua bukan hanya soal silaturahmi, tetapi membangun jejaring kasih sayang yang kelak menjadi tempat berbakti ketika orang tua telah tiada.

“Orang tua itu nyaris awas 24 jam,” ujarnya. Namun kewaspadaan yang dimaksud bukan dalam arti kaku, melainkan menghadirkan kesadaran bahwa setiap interaksi adalah ruang pendidikan.

Bagi Faried, Ramadan seharusnya tidak berhenti sebagai momen musiman. Nilai kebersamaan, keteladanan, dan pendidikan cinta yang tumbuh selama sebulan penuh perlu dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Dengan begitu, keluarga tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang tumbuh yang menenangkan dan mencerahkan.