Jejak Akar Kudusan dan Perdagangan di Pusara Keluarga Doel Arnowo
Sumber Foto: TIMES Indonesia
Sosial

Jejak Akar Kudusan dan Perdagangan di Pusara Keluarga Doel Arnowo

MALANG – Napak tilas Warita Project yang sebelumnya menelusuri rumah perjuangan di Jalan Dempo 13 dan jejak pergerakan Doel Arnowo di Malang, berlanjut ke ruang yang lebih senyap: kompleks pemakaman tua.

Jika Dempo merekam gagasan dan jejaring politik, maka Kutobedah dan TPU Kasin menyimpan arsip sosial tentang akar keluarga dan diaspora Kudus di Kota Malang.

Doel Arnowo, Wakil Gubernur Jawa Timur periode revolusi kemerdekaan sekaligus Rektor perdana Universitas Brawijaya, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan 10 Nopember Surabaya.

"Sementara istrinya, Chadjidjah Arnowo, dimakamkan di Kutobedah, Kota Malang," kata FX Domini BB Hera, sejarawan dari Warita Project saat acara napak tilas bersama TIMES Indonesia yang didukung oleh Malang Offboundary Labs, Sabtu (14/2/2026).

Perbedaan lokasi pemakaman ini membuka kembali kisah lama tentang diaspora orang Kudus di Malang, terutama yang berakar pada jalur perdagangan tekstil sejak masa kolonial.

Pusara sebagai Penanda Migrasi

Jejak trah Kudusan di Malang dapat ditemukan di Kutobedah dan TPU Kasin. Di sana, tidak hanya makam Chadjidjah, tetapi juga mertua, ipar, anak, dan menantu keluarga tersebut. Kompleks pemakaman ini merekam migrasi keluarga pedagang dari Kudus yang sejak abad ke-19 menetap, berketurunan, dan membangun kehidupan ekonomi di Malang.

FX Domini BB Hera menyebut pusara keluarga Kudusan di Malang sebagai arsip sosial.

“Pusara keluarga Kudusan di Malang ini bisa dibaca sebagai arsip sosial tentang migrasi pedagang, perkawinan antar-keluarga niaga, dan pembentukan jejaring ekonomi bumiputra lintas kota sejak era kolonial,” ujarnya.

Menurutnya, jejak kematian justru memperlihatkan jejak kehidupan, bagaimana perantau dari Kudus membangun akar melalui perdagangan tekstil dan relasi kekerabatan.

Jalur Tekstil dan Akar Kudusan

Secara historis, hubungan Kudus–Malang terjalin melalui perdagangan kain. Jauh sebelum dikenal luas sebagai kota industri kretek, Kudus telah menjadi simpul niaga penting di Jawa.

Salah satu tokoh legendarisnya adalah Nitisemito, yang namanya disebut Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945. Sebelum membesarkan usaha kretek di Kudus, Nitisemito pernah menekuni perdagangan kain di Malang. Mobilitas pedagang ini memperlihatkan tumbuhnya kesadaran ekonomi bumiputra pada paruh awal abad ke-20, seiring dinamika politik nasional.

Di Malang dan Surabaya, perdagangan tekstil pada masa kolonial juga diwarnai kehadiran pedagang keturunan India–Sindhi, salah satunya keluarga Tolaram. Kawasan Kampung Kudusan yang berdekatan dengan toko kain Tolaram di depan Pasar Besar Malang menunjukkan posisi strategis kawasan tersebut dalam peta perniagaan tempo dulu.

Kedekatan spasial ini mencerminkan perjumpaan lintas etnis dalam ekosistem komoditas yang sama—tekstil, bahan pakaian, hingga industri kretek—yang saling menopang secara tidak langsung di berbagai kota Jawa Timur.

Genealogi dan Ikatan Kota

Dalam catatan keluarga, Chadjidjah Arnowo lahir 1 November 1915 dan wafat 21 Januari 1987, terpaut sekitar dua tahun setelah Doel Arnowo yang lahir 30 Oktober 1904 dan wafat 18 Januari 1985. Rentang usia keduanya terpaut 11 tahun.

Dimakamkannya Chadjidjah di Kutobedah menjadi penanda kuat ikatan genealogis keluarga dengan komunitas perantau Kudus di Malang.

Adi Arnowo, cucu Doel Arnowo, menuturkan, “Bagi keluarga kami, pilihan dimakamkannya Eyang Putri di Malang bukan sekadar soal lokasi, tetapi penanda bahwa akar keluarga kami memang tumbuh di lingkungan perantau Kudus yang membangun hidupnya lewat perdagangan dan jejaring kekerabatan di kota ini.”

Sebagai figur yang terlibat dalam dinamika awal pemerintahan Surabaya pascakemerdekaan, Doel Arnowo merepresentasikan generasi perantau yang bergerak lintas kota—Kudus, Malang, dan Surabaya—dalam jejaring keluarga maupun aktivitas sosial-ekonomi. Jejak makam keluarganya bukan sekadar silsilah, tetapi potret mobilitas sosial masyarakat Jawa Timur pada paruh awal abad ke-20.

Makam sebagai Arsip Sunyi

Jika Jalan Dempo 13 menyimpan arsip gagasan dan pertemanan politik, maka Kutobedah dan TPU Kasin menyimpan arsip sunyi tentang diaspora dan perdagangan. Dari nisan-nisan tua itulah terbaca kisah panjang migrasi pedagang, perkawinan antar-keluarga niaga, dan perjumpaan lintas etnis yang turut membentuk denyut ekonomi Malang.

Sejarah tidak selalu tertulis di prasasti atau monumen. Dalam konteks ini, ia juga terpatri di pusara—menghubungkan pergerakan, keluarga, dan jaringan niaga dalam satu narasi panjang tentang Malang sebagai simpul diaspora Kudusan.