Imron, Sarjana Baru yang Terjebak Hoaks di Grup WA Keluarga
Akhirnya, setelah bertahun-tahun bergulat dengan skripsi, Imron Rivaldi wisuda juga. Hari itu, Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ramai sekali. Bukan cuma mahasiswa dan dosen, tapi juga keluarga besar Imron yang datang berduyun-duyun dari berbagai penjuru.
Sebagai anak pertama sekaligus cucu pertama, Imron memang spesial. Satu keluarga besar itu merayakan prosesi wisuda dengan foto-foto. Berbagai macam gaya ditampilkan. Ada gaya formal, ada yang berpose memerkan jempolnya, ada yang senyum sumringah sampai giginya kering, bahkan ada yang bergaya seperti ular kobra.
Imron sendiri, sang bintang utama, hanya bisa terduduk bingung di tengah kekacauan ini.
Habis itu, muncul ide brilian untuk bikin grup WhatsApp keluarga besar. Alasannya mulia. Biar foto-foto wisuda bisa dibagikan sekaligus, nggak usah japri satu-satu. Grup pun tercipta. Dan di sinilah momen bersejarah bagi Imron terjadi.
“Mron, kamu yang bikin grupnya ya. Terus masukin kita semua,” kata Pak Engkus Sanusi Al-Kuseni, bapak Imron.
“Beres, Father! Imron janji jadi admin yang adil, amanah, dan selalu mendengar aspirasi anggota,” jawab Imron.
“Bener ya, jangan pernah mengkhianati rakyat!”
“Laksanakan!”
Imron langsung merasa bangga bukan main. Baru wisuda, eh langsung dapat jabatan penting. Kepercayaan keluarga besar jangan sampai disia-siakan. Apalagi Imron tipe orang yang benci mengecewakan orang lain. Grup diberi nama “Big Family Abah Kusen dan Mak Icin”–nama kakek dan neneknya, karena hanya dengan nama mereka lah keluarga ini bisa akur. Tidak mungkin kan dengan nama “Komunitas Pecinta Ikan Cupang”.
Hari-hari awal grup terasa damai. Foto-foto wisuda berseliweran, disertai ucapan selamat dan emoji tepuk tangan. Imron merasa bangga.
Dua minggu berlalu. Wisuda usai. Foto-foto berhenti. Kenyataan datang. Imron belum juga mendapat pekerjaan. Lamaran sudah dikirim ke berbagai tempat, tapi rezeki belum menyapa. Ia menolak menyebut dirinya pengangguran—gengsi dong. Ia memilih istilah freelance.
Malam-malam, saat orang waras sudah tidur, Imron masih asyik scroll TikTok jam sepertiga malam. Video demi video menyindirnya: “Anak kuliahan kok di rumah terus?”; lalu bergulir ke video motivasi “Jangan dengar omongan orang!”; kemudian ada lagi video Awkarin yang lagi-lagi diputusin pacarnya.
Tiba-tiba, notifikasi WhatsApp dari grup “Big Family Abah Kusen dan Mak Icin” berbunyi. Dari Om Kentang Pribadi (paman yang namanya selalu bikin Imron bertanya-tanya, kentang apa sih maksudnya?). Pesan itu forward-an info lowongan kerja. Manager pemasaran di perusahaan air mineral. Syaratnya mudah banget: di bawah 30 tahun, pendidikan minimal lulusan SMA, nggak butuh pengalaman, gaji 10 juta, rumah dinas, tunjangan macam-macam, bonus akhir tahun. Batas lamaran 20 Maret 2026.
Imron langsung berbunga-bunga. Grup keluarga besar punya manfaat juga. Ini dia rezekinya!
Di pagi harinya, grup keluarga besar itu langsung riuh. Semua mention @Imron.
“Bagus tuh, Mron!”
“Gas aja, lumayan!”
“Mantap, semoga ini jalannya!”
Imron yang sarjana sejati langsung japri Om Kentang. “Dapat infonya dari mana, Om?”
“Ini dari Mang Agus,” jawab Om Kentang santai. “Hubungi aja langsung,” lalu kasih nomornya dengan nama kontak Mang Agus Nomer Paling Baru.
Dengan semangat 45, Imron langsung chat Mang Agus. “Mang Agus ini Imron, punya info lengkap soal loker ini?”
“Oh, Imron ya? Wah, Mang Agus juga dapat dari teman. Nih nomornya,” balas Mang Agus sambil menyertakan kontak dengan nama Suhendar Pupuk Alami.
Imron sempat mikir: pupuk alami? Mungkin bisnis organik, kekinian. Gapapa lah. Ia langsung japri Mang Suhendar. “Assalamualaikum, Mang Suhendar. Saya Imron. Dapat nomer dari Mang Agus. Izin, mau tanya info lengkap loker manager pemasaran itu.”
Balasan datang cepat dari Mang Suhendar: “Wah, saya juga nggak tahu detailnya. Saya juga dapat dari yang ini aja.” Lalu dikasih nomor lagi: Joko Pelatih Lumba-lumba.
Sampai ke pelatih lumba-lumba segala. Imron mulai pesimis dan sadar dengan permainan ini. Tapi dia masih menyimpan harapan. Lalu dia menghubungi Joko Pelatih Lumba-lumba itu. “Assalamualaikum, Pak Joko. Apakah punya info lengkap soal loker manager pemasaran perusahaan air mineral?”
Balasan tiba-tiba muncul dari Pak Joko: “Kamu adalah orang yang ke-174 yang nanya soal ini. Saya juga dapatnya dari ini.” Ia kemudian menggulirkan kontak dengan nama Supriadi Susu Sapi Perah Murni Lembang.
Imron sadar ini sudah tidak benar. Orang jahat mana yang pertama kali bikin info loker ini? Baginya, ini sudah bukan rantai informasi lagi, ini rantai untuk mempermainkan banyak orang yang ingin dapat pekerjaan. Harapan yang tadinya membumbung tinggi langsung ambruk seketika. Ternyata dia, sang sarjana baru itu, terjebak lingkaran hoaks klasik yang menimpa jutaan pengangguran lainnya.
Sebagai admin “Big Family Abah Kusen dan Mak Icin”, Imron merasa dikhianati oleh anggotanya sendiri.
Keesokan paginya, Imron bangun dengan mata masih setengah terpejam, tapi HP-nya sudah bergetar tak henti sejak subuh. Notifikasi grup “Big Family Abah Kusen dan Mak Icin” bertumpuk ratusan. Ia menguap, buka grup, dan langsung disambut banjir hoaks yang semakin ganas.
Info-info yang dibagikan semakin tidak terkendali. Dari obat bawang putih campur air putih yang katanya menyembuhkan segala penyakit, teori konspirasi vaksin ada chipnya, sampai video paling tidak mungkin terjadi hasil garapan AI: Cristiano Ronaldo angkat Piala Dunia.
Imron terduduk di tepi kasur, HP masih menyala di tangannya, notifikasi terus berdatangan. Pikirannya melayang, membayangkan semua kemungkinan yang ada di depannya, dan setiap opsi terasa seperti jebakan.
Kalau mute grup, pasti langsung dicap durhaka. Kalau diingatkan baik-baik, sudah pasti dibalas dengan nada tinggi, “Kamu ini kurang ajar ya, Onti cuma share ilmu yang bermanfaat!”. Kalau dibiarkan begitu saja, hoaks akan terus menyebar takutnya nanti ada yang percaya mati-matian soal chip vaksin sampai menolak imunisasi buat cucu-cucu kecil. Tapi kalau diperhatikan serius, balas satu-satu dengan fakta dan link kredibel, capeknya bukan main dan pada akhirnya cuma dapat cap “anak muda sok tahu”, tanpa gaji, tanpa terima kasih, tanpa apa-apa.
Pusing dengan semua ini, akhirnya, Imron bangkit dari kasur, ambil jaket, dan keluar rumah.
“Mau ke mana, Mron?” tanya ibunya dari dapur.
“Ke rumah Moyo, Bu. Sebentar aja,” jawab Imron singkat, sambil bersepeda ke arah rumah temannya yang cuma dua blok dari situ.
Moyo Tantular, teman Imron sejak kecil, dulu satu SD, satu SMP, bahkan satu geng main bola di lapangan kampung. Mereka seusia, tapi nasib Moyo lebih tragis soal kerjaan. Dulu Moyo kerja di pabrik sepatu, tapi kena PHK massal pas Covid-19 melanda. Sejak itu, Moyo jadi “senior” dalam urusan menganggur.
Sampai di sana, Moyo lagi duduk di teras, scroll HP sambil ngopi. “Eh, Mron! Jarang-jarang nih mampir. Masuk, masuk. Kopi?”
“Boleh!”
Imron duduk di kursi bambu reyot di teras rumah Moyo, menerima cangkir kopi hitam yang masih mengepul. Aroma kopi kampung yang pahit langsung menyengat hidungnya, bikin matanya sedikit lebih melek. “Sibuk ngapain aja seharian, Moy?”
“Ini lagi ada info loker jadi manager pemasaran di perusahaan air mineral. Syaratnya mudah banget, minimal lulusan SMA, tapi gaji 10 juta sebulan, ada bonus-bonusnya juga. Siapa tahu rezekinya. Mau join gak? Batasnya cuman sampai 30 Maret 2026, Mron.”




