Finalis Wimbakara Opini Bali Tampilkan Gagasan di Taman Budaya
DENPASAR – Sebanyak sepuluh finalis mengikuti Wimbakara, sebuah lomba opini berbahasa Bali yang dilaksanakan di Ruang Serasehan Taman Budaya Provinsi Bali pada Selasa, 17 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Bulan Bahasa Bali, yang bertujuan untuk mendorong generasi muda dalam menulis dan menyampaikan opini.
Para peserta lomba tidak hanya dituntut untuk menulis dengan baik, tetapi juga untuk mempertanggungjawabkan gagasan mereka secara langsung di depan dewan juri. Dalam sesi presentasi dan tanya jawab, mereka harus menjawab pertanyaan juri dengan tegas dan lugas, yang menjadi bagian penting dalam memastikan keaslian karya serta mengukur kedalaman pemahaman mereka terhadap topik yang diangkat.
Prof. Dr. Putu Sutama, M.S., guru besar Program Studi Bahasa Bali Universitas Udayana yang menjadi salah satu anggota dewan juri, menekankan bahwa sesi tanya jawab bukan bertujuan untuk menakut-nakuti peserta, melainkan sebagai evaluasi. Menurutnya, penting untuk memeriksa apakah tulisan tersebut benar-benar merupakan hasil karya peserta sendiri, serta apakah ekspresi lisan mereka sejalan dengan isi tulisan. "Jika tulisannya bagus, tetapi saat tampil Bahasa Balinya kacau, tentu patut diduga ada intervensi pihak lain," ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Putu mengingatkan bahwa menulis opini memerlukan lebih dari sekadar gagasan umum; harus dilandasi riset dan observasi yang objektif. Ia memberikan contoh tentang tema pelestarian bahasa yang sering diangkat dengan judul provokatif seperti “Bahasa Bali Sudah Hampir Mati”. Pernyataan tersebut, menurutnya, harus disertai data dan penjelasan yang rasional.
“Kalau disebut hampir mati, di mana letak 'matinya'? Di desa-desa, Bahasa Bali masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. Generasi muda harus mampu menjelaskan berdasarkan pengamatan atau survei, bukan sekadar klaim,” tegasnya.
Dari total 45 peserta yang mendaftar, 32 orang mengumpulkan tulisan mereka. Setelah melalui proses seleksi, dewan juri menetapkan sepuluh finalis untuk mempresentasikan karya di hadapan juri, yang juga berfungsi untuk memastikan bahwa karya tersebut merupakan pemikiran asli peserta.
Prof. Putu Sutama juga mencatat bahwa masih terdapat tulisan yang belum terstruktur dengan baik, baik dari segi judul, pembuka, isi, hingga penutup. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa sebagian peserta mungkin menggunakan teknologi kecerdasan buatan tanpa pemahaman yang mendalam terhadap isi tulisan mereka.
“Judulnya berbunga-bunga, tetapi data lemah dan terkesan menyalin. Namun demikian, kami tetap mengapresiasi karena mereka sudah mau menulis dan berani tampil,” tambahnya.
Melalui lomba ini, dewan juri berharap generasi muda tidak hanya terampil dalam merangkai kata, tetapi juga memiliki ketelitian dalam teks, logika yang kuat, serta nalar rasional dalam menjaga dan mengembangkan Bahasa Bali.




