Bojonegoro Kembangkan Alpukat dan Jambu Mete untuk Tingkatkan Ekonomi Petani
Sumber Foto: Koran Jakarta ®
Ekonomi

Bojonegoro Kembangkan Alpukat dan Jambu Mete untuk Tingkatkan Ekonomi Petani

Nalar Media - BOJONEGORO – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro pada 2026 mengarahkan pengembangan komoditas hortikultura produktif seperti alpukat dan jambu mete sebagai strategi diversifikasi pertanian daerah.

Langkah ini dinilai relevan untuk meningkatkan nilai tambah lahan, khususnya di wilayah dengan karakteristik tanah kering yang kurang optimal untuk tanaman pangan tertentu.

Pengembangan alpukat dan jambu mete berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi petani karena kedua komoditas tersebut memiliki permintaan pasar yang stabil dan prospek harga relatif kompetitif.

Selain mendorong peningkatan pendapatan petani, kebijakan ini juga dapat memperluas basis komoditas unggulan daerah serta mengurangi ketergantungan pada satu jenis tanaman, sehingga struktur pertanian Bojonegoro menjadi lebih adaptif terhadap risiko iklim dan fluktuasi harga.

Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro Zaenal Fanani di Bojonegoro, Selasa (24/2), mengatakan tanaman buah alpukat dan jambu mete tersebut diberikan kepada Kelompok Tani (Poktan) yang memenuhi kualifikasi administratif dan teknis.

"Pengembangan alpukat dan jambu mete diberikan kepada masyarakat antara 300 sampai 400 batang setiap hektare namun angka pasti baru akan ditetapkan setelah tim teknis melakukan verifikasi lapangan," katanya.

Zaenal mengatakan pemberian bibit buah tidak menetapkan batas minimal luas lahan yang akan ditanami, namun lokasi yang diajukan harus memenuhi kriteria teknis untuk lokasi penanaman.

Selain itu, kelompok tani perlu menyiapkan persyaratan seperti Surat Keterangan Terdaftar (SKT) yang ditandatangani oleh Bupati, identitas pengurus kelompok, dan foto titik koordinat calon lokasi penanaman untuk verifikasi lapangan.

Kelompok tani juga harus menyertakan proposal permohonan bantuan yang ditandatangani ketua kelompok tani serta diketahui dan disetujui oleh kepala desa dan penyuluh pertanian setempat.

Zaenal memastikan pemerintah tidak akan membiarkan petani penerima manfaat berjalan sendiri mengingat setiap kelompok tani yang lolos verifikasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) akan mendapatkan pendampingan teknis dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mulai dari tanam sampai panen.

"Disamping itu, setelah dilakukan droping bibit buah-buahan, petani akan dibekali teknik budidaya sampai panen dan pasca panen," ujarnya.

Program ini selain memberikan manfaat ekonomi melalui potensi peningkatan pendapatan petani, juga sekaligus mendukung upaya konservasi tanah dan air, meningkatkan tutupan vegetasi, serta memperkuat ketahanan lingkungan.

Pola tanam yang diterapkan mengedepankan prinsip agroforestry yaitu memadukan tanaman kehutanan dan tanaman buah secara harmonis sehingga akan terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

"Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap tercipta kawasan hutan yang produktif, lestari dan mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa hutan," katanya.