Alysa Liu Raih Emas Seluncur Es di Olimpiade 2026 Setelah Pensiun di Usia Muda
Sumber Foto: Kompas.com
Olahraga

Alysa Liu Raih Emas Seluncur Es di Olimpiade 2026 Setelah Pensiun di Usia Muda

Nalar Media - KOMPAS.com - Alysa Liu mengakhiri paceklik 24 tahun Amerika Serikat (AS) tanpa atlet wanita di puncak podium seluncur es.

Dia berhasil meraih medali emas nomor free skate di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 pada 19 Februari 2026.

Perempuan berusia 20 tahun itu mencuri perhatian berkat gaya unik dan penampilan beraninya di atas es.

Bukan hanya teknik, pilihan gaya yang mempesona dan berbeda dari kebanyakan atlet figure skating pada umumnya.

"Itu sungguh membahagiakan," kata dia, dilansir dari laman resmi Olympics.

Kemenangan Alysa mengungkap sisi kehidupan dan perjuangannya. Gadis ini ternyata sempat mencetak sejarah untuk AS pada usia 16 tahun.

Yakni dia memilih untuk pensiun di usia belia.

Tapi, Alysa come back dengan menyuguhkan penampilan yang ciamik. Putaran terakhir penampilannya di Arena Seluncur Es Milano disambut dengan gemuruh tepuk tangan penonton.

"Saya sangat senang berada di sana. Saya merasa seperti melayang dan saya merasa penonton menyemangati saya. Saya melakukan semua yang ingin saya lakukan dalam program tersebut," ucap Alysa.

Lantas, seperti apa perjuangan Alysa hingga meraih emas nomor free skate di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026?

Lahir dari keluarga tak biasa

Dilansir dari NBC Olympics, latar belakang Alysa tidak biasa. Ayahnya, Arthur Liu merupakan seorang imigran sekaligus ayah tunggal.

Arthur memilih menjadi ayah tunggal melalui proses surrogacy (ibu pengganti). Dia memiliki beberapa anak melalui donor sel telur dan ibu pengganti anonim.

Keputusan tersebut dilakukan dengan teknologi reproduksi modern yang masih relatif jarang, terutama bagi pria lajang.

Meski demikian, keluarga menjadi bagian penting dalam hidup Alysa. Dia mulai diperkenalkan dengan olahraga seluncur es sejak berusia 5 tahun.

Pada usia ke-13 tahun, Alysa berhasil mengalahkan orang dewasa dengan memenangkan gelar nasional. Prestasi itu cukup gemilang bagi dirinya yang masih muda dan berkompetisi di tingkat junior internasional.

Lalu, tiga tahun kemudian, tepatnya saat berumur 16 tahun, Alysa kembali meraih medali perunggu di Olimpiade Musim Dingin 2022.

Memutuskan untuk pensiun

Beberapa bulan setelah kemenangan di Olimpiade Musim Dingin 2022, Alysa memilih untuk pensiun sebagai atlet seluncur es.

Gadis itu merasa bahwa olahraga tersebut bukan lagi menjadi hal yang diinginkannya.

Dia bahkan membenci kenyataan bahwa olahraga itu telah menguasai hidupnya. Alysa menyebut masa kecilnya sebagai fase yang sangat tidak normal.

Saban hari, remaja itu harus berlatih keras di asrama. Hidupnya hampir sepenuhnya ditujukan untuk berolahraga dan itu sangat membelenggunya.

Keputusannya untuk berhenti mengejutkan dunia. Tidak ada cedera. Alysa bilang bahwa keputusannya dilakukan karena kelelahan mental.

Dia ingin merasakan hidup sebagai remaja biasa yang jauh dari tekanan kompetisi dan tuntutan tampil terbaik.

Mengisi masa-masa pensiun

Selama 2 tahun masa hiatus, Alysa fokus pada kehidupannya di luar skating. Dia juga jauh dari sorotan media.

Gadis itu menyimpan sepatu seluncur ke dalam lemari dan memutuskan untuk bergaul dengan teman-temannya.

Dia juga menempuh pendidikan tinggi di UNCLA untuk mempelajari psikologi.

Selama masa-masa itu, Alysa juga aktif mendaki gunung bersama teman-temannya. Dalam beberapa kali kesempatan dia menghabiskan waktu bersama empat saudara kandungnya.

Pada bulan ke-18, Alysa memutuskan untuk mengeluarkan sepatu skatingnya.

Dia pergi ke arena seluncur es dan melakukan lompatan sebanyak tiga kali, seolah-olah dia tidak pernah hiatus.

Pelatih lamanya kemudian menerima Alysa kembali untuk berkompetisi pada 2024. Namun, kali ini Alysa berkompetisi dengan caranya sendiri, bukan dengan cara orang lain.

Dengan cara itu, Alysa mengubah cara pandangnya tentang olahraga skating, dari yang awalnya latihan terasa suram untuk dijalani menjadi aktivitas yng membuatnya tersenyum setiap hari.

Momen come back Alysa

Pada kompetisi di tahun 2024, Alysa mengontrol penuh penampilannya. Dia ingin tampil lebih berani dan memilih tim pelatihnya sendiri.

Bahkan, kostum, musik, hingga gaya rambut untuk penampilannya juga dipilih oleh Alysa.

Di momen come back-nya, Alysa menjuarai Kejuaraan Dunia di Boston 2025. Perempuan yang kini berusia 20 tahun itu menjadi perempuan Amerika pertama yang memenangkan ajang tersebut sejak 2006.

Hingga pada Olimpiade Musim Dingin 2026, penampilannya juga tak berjalan mulus karena ada masalah hak cipta musik.

Namun, bagi Alysa, medali emas bukan menjadi tujuan utamanya saat itu, dia hanya ingin masuk tim Olimpiade dan menampilkan seni skating-nya.

Di atas lantai es, Alysa itu tampil dengan karismatik. Dia tampak menari di udara dan melakukan lompatan tanpa ada tekanan sama sekali.

“Saya berkesempatan untuk membagikan karya seni saya di panggung terbesar dunia,” katanya.

Kembalinya Alysa di dunia kompetisi bukan hanya membuka kariernya yang baru, tetapi juga menjadi dirinya sendiri.

Kini, dia menjadi lebih sadar diri dan berkomitmen untuk terus bahagia.

Dia juga mengatakan bahwa kebahagiaan yang ia temukan kini jauh lebih penting daripada gelar apapun.

“Perjalanannya. Saya menyukainya. Saya sangat menyukainya," ungkapnya.

Sementara itu, Phillip DiGuglielmo, yang melatih Alysa bersama Massimo Scali mengatakan bahwa Alysa adalah pribadi yang berbeda.

“Alysa berbeda. Kami tahu dia tidak berada di sini untuk memenangkan medali. Dia berada di sini untuk berseluncur dan menikmatinya," imbuhnya.