Akal Sehat: Menemukan Tuhan Melalui Kejernihan Pikiran
Sumber Foto: SINDOmakassar
Uji Nalar

Akal Sehat: Menemukan Tuhan Melalui Kejernihan Pikiran

Di tengah dinamika politik dan media yang penuh dengan berbagai opini, nama Rocky Gerung sering kali muncul sebagai sosok yang menantang narasi dominan. Meskipun ia menyatakan tidak beragama, Rocky tidak mengingkari keberadaan Tuhan. Ia mengkritik praktik agama, tetapi tidak menghina iman. Istilah 'akal sehat' sering kali ia gunakan, menjadikannya sebagai ciri khas identitasnya.

Akal Sehat sebagai Akal Jernih

Rocky Gerung tampaknya tidak berbicara mengenai akal praktis semata, melainkan merujuk kepada akal jernih. Akal yang bebas dari hasrat kekuasaan, ketakutan kolektif, dan dogma buta. Dalam banyak kesempatan, ia menyerukan agar masyarakat 'mengembalikan republik kepada akal sehat.' Ini bukan sekadar seruan politik, tetapi panggilan untuk kembali kepada kesadaran dasar manusia: berpikir jernih, merdeka, dan bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, Rocky sejajar dengan tradisi para filsuf, baik dari Timur maupun Barat. Filsuf Islam seperti Al-Farabi dan Ibn Sina memandang akal sebagai jalan menuju kebenaran, bahkan kepada Tuhan. Di Barat, Descartes memulai pencariannya melalui keraguan dan berpikir, sementara Kant menempatkan akal sebagai sumber utama hukum moral yang universal. Mereka semua menyiratkan bahwa Tuhan ditemukan bukan melalui ketundukan pasif, tetapi melalui kejernihan nalar dan kebebasan berpikir. Dalam pandangan Rocky, 'akal sehat' berfungsi sebagai jembatan menuju kesadaran tersebut.

Identitas yang Menghalangi Pikiran

Namun, kejernihan nalar sering kali terhalang oleh identitas, yang sering dianggap sakral oleh masyarakat. Identitas yang berhubungan dengan agama, suku, dan kelompok sering dijadikan pengukur kebenaran. Rocky menyadari bahwa ketidaknyamanan dengan identitas dapat menghambat proses berpikir. Ia mengungkapkan bahwa agama yang tercantum di KTP-nya adalah Kristen, namun menekankan bahwa hal itu hanya untuk keperluan administratif, bukan sebagai identitas spiritual.

Di sinilah jebakan identitas muncul: seseorang dapat merasa telah selesai berpikir hanya karena telah memiliki label. Rocky mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam identitas yang membatasi. Ia menolak untuk membanggakan label dan lebih memilih untuk mendorong kesadaran. Ia sejalan dengan pemikiran para sufi yang percaya bahwa pencarian kebenaran sejati memerlukan kedalaman batin, bukan sekadar pengakuan lahir.

Demokrasi dan Spiritualitas: Suara Rakyat, Suara Tuhan?

Dalam acara 'Rakyat Bersuara', Rocky melontarkan pernyataan yang menantang pemikiran publik: “Bukan Tuhan punya suara yang akan diikuti rakyat. Bukan. Yang diputuskan rakyat pasti di-iya-in Tuhan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa perubahan sosial tidak berasal dari intervensi ilahi, tetapi dari keputusan sadar masyarakat. Tuhan tidak anti-demokrasi; justru, Tuhan mengakui upaya manusia yang lahir dari kesadaran dan tanggung jawab.

Rocky menyadari potensi kesalahpahaman atas pernyataannya, dan menutupnya dengan idiom Latin, 'vox populi, vox dei', yang menunjukkan bahwa kehendak rakyat yang jernih dan adil adalah bentuk dari mandat etis yang Tuhan restui.

Provokasi dan Kedalaman: Menyentuh Inti Iman

Beberapa pernyataan Rocky mungkin terdengar provokatif, tetapi jika ditelaah lebih dalam, ia sebenarnya menyentuh inti spiritualitas yang rasional. Misalnya, ketika ia menyatakan “Kitab suci adalah fiksi.” Ini bukan untuk merendahkan kitab suci, tetapi untuk mendorong masyarakat agar tidak melihatnya sebagai teks yang kaku tanpa makna. Dalam tradisi hermeneutika, fiksi berfungsi sebagai narasi yang membentuk kesadaran, mengajak manusia untuk terus menafsirkan kebenaran.

Begitu pula ketika ia berkomentar, “Ngapain berdoa, kita sudah diberi akal.” Rocky tidak menolak doa, melainkan mengingatkan bahwa doa seharusnya tidak menjadi pengganti usaha. Dalam Islam, akal adalah karunia yang sangat dihargai. Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab, dan doa seharusnya menjadi pengakuan atas keterbatasan setelah usaha maksimal.

Akal Sehat sebagai Jalan Spiritualitas

Melalui berbagai gagasan yang disampaikan, dapat disimpulkan bahwa Rocky tidak sedang menjauhkan diri dari spiritualitas. Sebaliknya, ia berusaha memurnikannya. Ia tidak menolak Tuhan, tetapi menolak manipulasi yang dilakukan atas nama Tuhan. Ia tidak menghina iman, tetapi mengkritik kemalasan berpikir yang mengklaim beriman.

Dengan menyebut 'akal sehat', Rocky menunjukkan jalan spiritual yang tidak selalu bersuara sakral. Ia mengajak semua untuk menemukan Tuhan dengan cara membersihkan pikiran dari ketakutan, ikut-ikutan, dan pengaruh identitas yang menyesatkan.

Dalam dunia yang penuh dengan kebisingan dan simbol-simbol kosong, ajakan Rocky bukanlah untuk meninggalkan Tuhan, tetapi untuk menemukannya kembali melalui kejernihan, kebebasan, dan keberanian.

Penutup

'Akal sehat' versi Rocky Gerung adalah resonansi dari perjalanan panjang manusia dalam mencari makna. Ia bukan sekadar slogan politik, tetapi panggilan untuk berpikir, mencari, dan mengalami Tuhan secara langsung. Dalam kesadaran itu, mungkin kita mulai mengenal Tuhan bukan melalui label atau kebiasaan kosong, tetapi melalui kejernihan berpikir yang tulus, bahkan dalam ranah politik dan provokasi.